Dua hari berikutnya, Shania dan Shinta menyelesaikan contoh busana yang menjadi komitmen terakhir sebelum Shania mulai bekerja di Megah Depertemen Store. Mereka bertemu di butik pada pagi hari untuk memeriksa jahitan, memastikan ukuran sesuai, dan menyiapkan cara perawatan kain yang mudah dipahami pelanggan.
Shania mengangkat bagian lengan untuk menguji geraknya. 'Jahitan ini tidak menarik, tapi ujungnya masih terasa kaku.'
Shinta meraba bagian dalam. 'Kita bisa merapikan lapisannya. Jangan sampai pelanggan merasa tidak nyaman setelah beberapa jam memakai.'
Mereka membuka sebagian kelim dan memperbaikinya. Shania menjelaskan kepada penjahit butik bagian yang perlu disesuaikan, lalu mengecek kembali hasilnya. Ia tidak ingin menyerahkan sesuatu yang belum ia periksa hanya karena jadwal mulai kerja semakin dekat.
Setelah selesai, Shinta meminta Shania mencoba busana itu. Shania mengangkat kedua tangan, duduk, lalu berjalan beberapa langkah. Kainnya bergerak lebih leluasa.
'Sekarang lebih baik,' katanya.
'Setuju. Kita bisa serahkan siang ini.'
Shania mencatat ukuran final dan menuliskan petunjuk perawatan. Ia merasa bangga bukan hanya karena hasil akhirnya rapi, tetapi karena ia dan Shinta berhasil bekerja sama tanpa menutupi masalah kecil. Mereka saling memberi masukan, lalu mengambil keputusan berdasarkan kenyamanan pemakai.
Menjelang siang, mereka mengantar pesanan yang sudah selesai. Pelanggan memeriksa bagian lengan dan kelim, lalu tersenyum puas. Ia mengucapkan terima kasih kepada Shinta dan Shania. Shania menjelaskan cara merawat kain tanpa memberi janji berlebihan.
'Kalau ada bagian yang terasa kurang nyaman setelah dipakai, kabari kami,' katanya. 'Kami akan lihat apa yang bisa diperbaiki.'
Pelanggan itu mengangguk. 'Terima kasih. Saya suka karena kalian menjelaskan dengan sabar.'
Sebelum mereka meninggalkan tempat penyerahan, Shania meminta pelanggan memeriksa sekali lagi apakah panjang lengan dan kelimnya sesuai. Ia menunggu tanpa mendorong pelanggan segera menjawab.
'Sudah pas,' kata pelanggan itu. 'Saya bisa mengangkat tangan tanpa terasa tertahan.'
'Syukurlah. Kalau setelah dipakai ada bagian yang berubah, silakan hubungi butik. Kami akan periksa.'
Shinta mencatat bahwa pesanan sudah diterima. Mereka tidak menjanjikan penyesuaian tanpa melihat kondisi barang, tetapi memastikan pelanggan tahu cara menghubungi mereka. Shania merasa lega bahwa komitmen terakhirnya ditutup secara baik.
Dalam perjalanan kembali, Shinta melirik Shania. 'Itu pesanan terakhir yang perlu kamu tangani sebelum mulai di toko.'
'Rasanya aneh. Aku senang proyeknya selesai, tapi aku juga akan merindukan rutinitas di sini.'
'Kamu tetap bisa datang. Hanya waktunya yang berbeda.'
***
'Aku tidak mau membuatmu repot.'
'Kita sudah sepakat akan bicara terbuka. Jangan mengubah kesepakatan itu menjadi rasa bersalah.'
Shania mengangguk. Ia ingin tetap menjaga hubungannya dengan Shinta, tetapi tidak dengan cara mengorbankan kesempatan yang baru ia terima. Mereka kembali ke butik dan merapikan meja kerja.
Shania mengambil buku sketsa yang selama ini ia gunakan. Ia memilah halaman yang berisi rancangan pribadi dan memisahkannya dari catatan kerja butik. Ia tidak ingin ada kebingungan tentang desain mana yang menjadi bagian proyek tertentu.
'Aku harus menyimpan salinan pola ini?' tanyanya.
'Simpan catatan yang memang milikmu. Untuk pola pesanan, kita arsipkan di butik sesuai kesepakatan.'
Mereka membuat dua map terpisah. Proses sederhana itu membantu Shania melihat bahwa perubahan pekerjaan tidak menghapus apa yang telah ia lakukan. Setiap proyek punya batas dan catatan yang jelas.
Di meja kerja yang sama, Shania menuliskan tanggal penyerahan pada kalender. Ia membuat daftar sederhana mengenai hal yang perlu ia lakukan sebelum mulai bekerja: mengembalikan alat milik butik, menyimpan salinan pola, dan mengucapkan terima kasih kepada penjahit yang membantu menyelesaikan contoh.
'Kamu selalu memikirkan orang-orang yang membantu,' kata Shinta.
'Karena hasilnya bukan pekerjaanku sendiri. Banyak tangan yang ikut menyelesaikannya.'
Mereka mengumpulkan perlengkapan yang harus dikembalikan ke tempatnya. Shania menyampaikan terima kasih kepada penjahit butik dan menjelaskan bahwa ia akan mulai bekerja di Megah Depertemen Store lusa, setelah penyerahan terakhir hari itu selesai. Penjahit itu mengucapkan selamat dan berharap Shania tetap datang sesekali.
'Aku akan berkunjung kalau jadwalku memungkinkan,' jawab Shania. 'Tapi aku tidak ingin berjanji terlalu sering sebelum tahu jam kerjaku.'
Shinta mengangguk setuju. Mereka menutup hari dengan merapikan meja dan memastikan pesanan yang diserahkan sudah tercatat. Shania menatap ruang kerja yang terasa akrab. Ia tidak sedih meninggalkannya, tetapi merasakan haru karena tempat itu membantunya menemukan kembali keyakinan pada kemampuannya.
Shania kemudian menghapus nama dirinya dari jadwal rutin yang tidak lagi bisa ia penuhi, lalu menambahkan catatan bahwa ia masih dapat menjawab pertanyaan tentang pola yang telah diserahkan sampai tanggal yang disepakati, tanpa menerima pekerjaan baru di luar jadwal.
'Aku ingin batas ini jelas supaya kamu tidak menunggu bantuanku di hari kerja,' ujarnya.
Shinta membalas, 'Dan aku juga akan bertanya dulu sebelum memberimu pekerjaan tambahan. Kita sama-sama belajar mengatur waktu.'
Mereka menandatangani daftar penyerahan internal. Bagi Shania, tanda tangan itu bukan perpisahan dengan butik, melainkan kesepakatan baru yang lebih jujur tentang waktu dan tanggung jawab.
Sore harinya, Shania menghubungi Yudha dan memastikan ia siap mulai orientasi lusa. Yudha mengonfirmasi waktu kedatangan dan menyebut bahwa ia akan mengenalkan Shania kepada tim tanpa membuat acara khusus.
'Tidak perlu penyambutan besar,' kata Shania kepada Shinta setelah membaca pesan. 'Aku lebih nyaman langsung tahu apa yang harus kukerjakan.'
'Kamu bisa bilang begitu saat bertemu dia.'
Malam itu, Wati menelepon dan menanyakan apakah semua pekerjaan butik sudah selesai. Shania menceritakan penyerahan pesanan dan jadwal orientasi.
'Ibu senang kamu menuntaskan yang sudah menjadi tanggung jawabmu,' kata Wati. 'Sekarang jangan lupa beristirahat sebelum mulai hal baru.'
'Iya, Bu. Malam ini aku mulai menyiapkan pakaian kerja dan dokumen, lalu besok kuperiksa lagi sebelum berangkat.'
'Jangan terlalu dipikirkan. Hari pertama memang membuat gugup, tapi kamu sudah tahu pekerjaan yang kamu pilih.'
Shania berterima kasih. Setelah panggilan berakhir, ia meletakkan buku sketsa di meja dan memeriksa dokumen yang diperlukan. Ia menyiapkan pakaian yang rapi dan tas kerja, tetapi tidak memasukkan semua hal sekaligus. Ia hanya membawa yang diperlukan.
***
Ketika lampu kamar dipadamkan, Shania merasa cemasnya masih ada. Namun kini kecemasan itu berdampingan dengan rasa ingin tahu. Ia akan menghadapi hari pertama bukan sebagai seseorang yang kembali ke kehidupan lamanya, melainkan sebagai dirinya sendiri yang memulai pekerjaan baru.