Pagi setelah menandatangani surat kerja, Shania datang ke Butik Flaws_Lovers sebelum jam buka. Ia menaruh salinan surat di dalam map dan mengeluarkan daftar pekerjaan yang belum selesai untuk diperiksa bersama Shinta setelah sahabatnya tiba. Ada dua pola yang perlu disempurnakan dan satu contoh busana yang belum diserahkan kepada pelanggan. Ia ingin memastikan semuanya beres sebelum mulai bekerja di Megah Depertemen Store.
Shinta datang membawa minuman hangat. 'Kamu sudah membuat daftar?'
'Aku takut ada yang terlewat. Aku ingin menyelesaikan tanggung jawab yang sudah kita sepakati sebelum mulai di tempat baru.'
'Kita lihat bersama. Jangan mengambil semua bagian sendirian.'
Shania menggelar catatan. Mereka membagi pekerjaan dengan jelas. Shania akan memperbaiki pola yang sudah ia tangani, sedangkan Shinta mengecek hasil jahitan contoh dan memastikan waktu penyerahan kepada pelanggan. Mereka sepakat tidak menerima pesanan baru yang tenggatnya berpotensi bertabrakan dengan tanggal mulai kerja Shania.
'Aku bisa tetap membantu kalau ada kebutuhan desain setelah jam kerja, tapi kita bicarakan dulu,' kata Shania.
'Betul. Jangan membuat janji sebelum tahu ritme pekerjaan barumu.'
Mereka mulai mengerjakan pola pertama. Shania memeriksa garis bahu dan mengubah sedikit lengkungannya. Ia mengukur ulang menggunakan kain percobaan, lalu meminta Shinta melihat hasilnya.
'Bagian ini sekarang tidak tertarik saat lengan diangkat,' katanya.
Shinta mengamati bentuknya. 'Lebih baik. Kamu bisa membuat catatan ukuran supaya nanti mudah diulang.'
Shania menuliskan perubahan dengan rapi. Ia merasa senang karena dapat menuntaskan pekerjaan butik tanpa harus buru-buru pergi ke tempat baru. Meski begitu, ada kegugupan yang muncul setiap kali ia melihat surat kerja di map. Ia akan kembali bekerja di gedung yang sama dengan Arhan, bukan sebagai istrinya, melainkan sebagai perancang yang punya tanggung jawab sendiri.
Shinta memperhatikan jeda tangannya. 'Kamu kembali memikirkan gedung itu?'
'Aku membayangkan hari pertama. Aku tidak tahu bagaimana rasanya melewati kantor Mas Arhan setiap pagi.'
'Kamu tidak perlu mempersiapkan semua kemungkinan. Kamu akan datang untuk bekerja. Kalau ada situasi yang membuatmu tidak nyaman, kamu bisa menanganinya saat terjadi.'
'Aku tidak ingin terlihat seolah menerima pekerjaan ini untuk membuatnya menyesal.'
'Kamu tidak perlu mengatur bagaimana orang membaca keputusanmu. Kamu tahu alasanmu sendiri.'
Shania mengangguk. Ia tidak ingin setiap langkahnya berpusat pada Arhan, bahkan dalam bentuk pembuktian. Ia menerima pekerjaan karena menyukai desain, membutuhkan kemandirian, dan ingin belajar. Tiga alasan itu cukup.
***
Menjelang siang, Wati mengirim pesan menanyakan apakah Shania sudah sarapan. Shania tertawa kecil dan menjawab bahwa ia sedang makan roti di butik. Shinta mengambil pesan itu sebagai alasan untuk menghentikan pekerjaan sejenak dan menyiapkan makan siang sederhana.
'Ibumu akan marah kalau tahu kamu hanya minum teh,' katanya.
'Dia tidak akan tahu.' Shania tersenyum.
'Aku bisa mengirim foto.'
'Jangan, nanti beliau menyuruhku pulang.'
Mereka makan sambil membicarakan jadwal. Shinta menegaskan bahwa pekerjaan rutin butik bisa diatur tanpa membuat Shania merasa harus datang setiap saat. Ia tidak ingin persahabatan mereka berubah menjadi kewajiban yang tidak pernah dibicarakan.
'Kamu sudah banyak membantuku,' kata Shania. 'Aku ingin tetap menjaga kerja sama kita.'
'Kita jaga dengan jujur. Kalau kamu sibuk, bilang. Kalau aku butuh bantuan, aku akan bertanya, bukan menganggap kamu selalu tersedia.'
Ucapan itu membuat Shania merasa dihargai. Ia terbiasa menyesuaikan diri tanpa diminta, lalu takut mengecewakan orang ketika tidak sanggup. Kini ia belajar bahwa hubungan yang baik bisa menampung batas.
Sore hari, mereka menyelesaikan pola kedua. Shania memeriksa setiap ukuran dan menyiapkan catatan yang mudah dipahami oleh penjahit butik. Ia juga menyusun daftar bahan yang harus diperiksa Shinta sebelum proses berikutnya. Ketika selesai, mereka membandingkan catatan dengan contoh busana dan menemukan satu ukuran yang belum cocok.
'Aku hampir melewatkan bagian ini,' kata Shania.
'Untung kita periksa bersama.'
Mereka memperbaikinya sebelum menyimpan pola. Shania merasa lega karena bisa menyelesaikan tugas tanpa menyembunyikan kekurangan. Sebelum pulang, ia mengirim pesan kepada Yudha bahwa ia sedang merampungkan komitmen butik dan akan mengonfirmasi kesiapan untuk tanggal mulai yang sudah disepakati setelah penyerahan terakhir.
Yudha menjawab bahwa ia akan menyiapkan orientasi pada tanggal mulai yang sudah disepakati. Shania menunjukkan balasan itu kepada Shinta.
'Dia tidak menekanmu,' kata Shinta.
'Iya. Aku senang bisa menyelesaikan semua dengan tertib.'
Sebelum pulang, Shania menyusun perlengkapan yang akan tetap berada di butik. Ia memisahkan pensil dan penggaris polanya sendiri dari alat yang dibeli bersama. Shinta membantu menandai laci untuk catatan proyek yang sudah selesai.
'Aku tidak mau membawa pulang sesuatu yang seharusnya tetap di sini,' kata Shania.
'Bagus. Kita sudah mencatat mana yang milik butik dan mana yang kamu bawa sendiri.'
Shania menempelkan label pada map pesanan, lalu menulis tanggal penyerahan dan ukuran final. Ia juga membuat salinan catatan untuk Shinta agar proyek itu dapat diteruskan jika ada pertanyaan setelah ia mulai bekerja di toko.
'Kalau pelanggan menghubungi kita, kamu bisa menjawab dari catatan ini,' ujarnya. 'Aku akan tetap bisa membantu menjelaskan, tapi setidaknya informasinya sudah lengkap.'
'Ini lebih rapi daripada hanya mengandalkan ingatan kita.'
Mereka meninjau semua map sebelum menutup laci. Shania merasa lega melihat pekerjaan yang tertunda mulai tersusun. Ia tidak menganggap perpisahan dari rutinitas butik sebagai pemutusan hubungan; ia hanya sedang menata ulang cara mereka bekerja.
Shinta menyerahkan sebuah buku catatan kecil. 'Bawa ini untuk pekerjaan barumu. Pisahkan dari catatan butik.'
Shania menerimanya. 'Terima kasih. Aku akan mulai dari halaman kosong.'
Shania meminta Shinta membaca sekali lagi daftar tanggung jawab yang mereka buat. Mereka mencocokkan setiap pesanan dengan catatan dan memastikan tidak ada tanggal yang terlewat.
'Aku akan mengirim salinan ini ke surel butik,' kata Shania. 'Kalau suatu saat ada yang bertanya, kita punya versi yang sama.'
'Bagus. Jangan menyimpan semua informasi hanya di kepalamu.'
Shania menyalin dokumen, lalu menyimpan balasan Yudha bersama rencana penyerahan yang baru saja dicocokkan dengan Shinta. Ia tidak meminta tanggal mulai dimajukan. Ia ingin menjaga kesepakatan awal dan berangkat ke pekerjaan baru tanpa meninggalkan urusan yang belum selesai.
Shinta menatapnya sambil merapikan gunting. 'Kamu tampak lebih lega.'
'Karena sekarang semuanya punya urutan. Aku bisa menyelesaikan satu hal sebelum beralih ke hal berikutnya.'
'Itu akan membantumu di tempat baru juga.'
Shania menyimpan catatan di map dan menutup laci. Lusa ia akan kembali untuk penyerahan terakhir.
Mereka mengunci butik dan berjalan menuju kendaraan. Shania menggenggam map pola, bukan surat kerja. Untuk saat ini, tugasnya masih berada di meja yang sudah ia kenal. Ia akan menuntaskannya dengan baik sebelum berpindah ke tanggung jawab baru.
***
Untuk malam ini, ia mengizinkan dirinya berhenti memikirkan jadwal dan pulang beristirahat.