Shania berkunjung ke rumah Wati malam itu sambil membawa salinan tawaran untuk dibaca bersama. Ia ingin membaca semua ketentuan sekali lagi dalam suasana tenang. Wati menyiapkan teh dan duduk di sampingnya, sementara Shania membuka halaman pertama dan membacakan bagian yang masih membuatnya ragu.
'Tugasnya cukup banyak, tapi jelas,' kata Shania. 'Aku harus membuat rancangan, mengecek sampel, dan berdiskusi dengan tim toko. Jadwalnya lima hari kerja.'
Wati melihat lembar yang ditunjukkan putrinya. 'Kamu merasa sanggup menjalankannya?'
'Aku rasa sanggup. Aku hanya khawatir tidak bisa membagi waktu dengan butik.'
'Kamu sudah membicarakan itu dengan Shinta?'
'Sudah. Dia bilang kami bisa menyesuaikan pekerjaan yang sudah berjalan. Tapi aku tidak ingin meninggalkan tanggung jawab begitu saja.'
'Kalau kamu menerima, buat rencana transisi. Jangan memutuskan karena takut mengecewakan orang. Bicarakan apa yang benar-benar bisa kamu lakukan.'
Shania memeriksa lagi klausul kerja sama. Ia mengerti bahwa desain yang dibuat atas tugas toko akan menjadi bagian dari koleksi toko, sementara karya pribadi tetap menjadi miliknya. Jam tambahan saat acara juga tercatat. Ada masa evaluasi dan aturan pengunduran diri yang jelas.
'Menurut Ibu, ketentuannya cukup adil?' tanyanya.
'Ibu bukan ahli kontrak, Nak. Kalau ada bagian yang kamu tidak mengerti, minta penjelasan tertulis. Tapi dari yang kamu bacakan, tawarannya cukup terbuka. Yang terpenting, kamu sendiri menginginkannya atau tidak?'
Pertanyaan itu membuat Shania berhenti membaca. Ia membayangkan hari-hari bekerja dengan pola dan kain, berkomunikasi dengan tim, lalu melihat rancangan dipakai orang. Ia juga membayangkan bertemu Arhan di tempat yang sama. Kemungkinan itu membuatnya tidak nyaman, tetapi bukan alasan untuk menolak kesempatan yang ia inginkan.
'Aku ingin mencoba,' katanya perlahan. 'Bukan karena ingin membuktikan sesuatu kepada Arhan. Aku ingin belajar dan punya penghasilan sendiri dari pekerjaan yang kusukai.'
Wati menggenggam tangannya. 'Kalau begitu, pilih dengan yakin. Bukan berarti kamu tidak boleh takut. Tapi jangan biarkan rasa takut mengambil keputusan untukmu.'
Setelah kunjungan itu, Shania kembali ke kamar tamu di rumah Arhan dan menyimpan dokumen. Pagi berikutnya, ia menemui Shinta di butik. Ia membawa salinan tawaran dan catatan rencana pembagian pekerjaan. Mereka duduk bersama, membahas proyek yang belum selesai, pesanan yang sudah dijanjikan, dan kemungkinan Shania tetap membantu desain tertentu di luar jam kerja toko.
***
'Aku tidak ingin pergi begitu saja,' kata Shania. 'Ada pekerjaan yang sudah kita mulai. Aku ingin menyelesaikan bagian yang menjadi tanggung jawabku. Setelah itu, kita bisa mengatur kolaborasi yang tidak bentrok dengan jadwal kerja.'
Shinta membaca daftar itu. 'Ini masuk akal. Untuk hari-hari menjelang kamu mulai bekerja, kita bagi tugas dengan jelas. Aku bisa memegang produksi, sementara kamu menyelesaikan pola yang sudah kamu janjikan. Setelah jadwal toko resmi, kita lihat lagi kapasitas kita.'
'Kamu tidak keberatan kalau aku menerima?'
Shinta tersenyum. 'Aku akan merindukan waktumu di butik, tapi aku tidak akan meminta kamu menolak kesempatan yang sudah kamu usahakan sendiri. Persahabatan kita tidak bergantung pada berapa jam kamu duduk di meja ini.'
Shania merasa matanya menghangat. 'Terima kasih sudah mendukungku.'
'Aku mendukungmu, tapi tetap akan mengingatkan kalau kamu mengambil terlalu banyak pekerjaan.'
Mereka tertawa, lalu merapikan catatan transisi. Shania menghubungi Yudha dan meminta pertemuan singkat untuk menyampaikan keputusan. Ia mengatakan telah membaca ketentuan dan bersedia menerima tawaran dengan beberapa hal teknis yang sudah mereka bahas. Yudha membalas bahwa ia akan menyiapkan surat resmi sesuai kesepakatan.
Sore harinya, Shania datang ke Megah Depertemen Store bersama Shinta. Mereka menemui Yudha di ruang yang sama. Yudha menyerahkan surat penawaran lengkap dan memberikan waktu bagi Shania untuk membacanya sebelum menandatangani.
'Saya sudah membaca semua ketentuannya,' kata Shania. 'Saya bersedia menerima posisi perancang, dengan jadwal mulai setelah pekerjaan butik yang sudah berjalan selesai.'
Yudha tersenyum. 'Baik. Kita tuliskan tanggal mulai sesuai kesepakatan. Terima kasih sudah mempertimbangkannya dengan serius.'
Shania membaca kembali surat tersebut. Nama, tanggung jawab, jadwal, dan ketentuan masa evaluasi tercantum jelas. Sebelum menandatangani, ia menanyakan satu hal yang belum sempat diucapkan. 'Saya sedang menunggu panggilan untuk proses perceraian. Kalau jadwalnya bertepatan dengan hari kerja, saya perlu mengurus izin.'
Yudha mengangguk. 'Sampaikan melalui pengajuan izin. Kamu tidak perlu menceritakan seluruh perkara kepada tim desain. Kita atur pekerjaan yang harus diserahkan selama kamu tidak di tempat.'
Shinta menatap Shania, lalu menggeser pena lebih dekat. Shania membacakan kembali tanggal mulai yang disepakati. Kali ini ia tidak meminta maaf karena mempunyai urusan yang harus dituntaskan. Ia menandatangani setelah memastikan tidak ada bagian yang berubah dari pembicaraan mereka.
'Selamat bergabung,' kata Yudha. 'Saya berharap kamu bisa terus mengembangkan kemampuanmu di sini.'
'Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha menjalankan tanggung jawab dengan baik.'
Yudha menjabat tangannya, lalu menyapa Shinta. 'Kami juga akan membicarakan kemungkinan kerja sama produksi dengan butik secara terpisah. Saya tidak ingin hal itu mengganggu hubungan kerja kalian.'
***
Shinta mengangguk. 'Kami akan menilai kapasitasnya setelah jadwal Shania berjalan.'
Shinta ikut menandatangani lembar terpisah mengenai kemungkinan kerja sama produksi, tetapi tidak mengikat butik pada pesanan yang belum disepakati. Mereka sepakat bahwa pembicaraan soal jumlah dan jadwal dilakukan kemudian. Dengan begitu, Shania tidak perlu berjanji atas nama Shinta.
Usai menandatangani dokumen, Shania merasa lega sekaligus gugup. Ia menyadari bahwa menerima pekerjaan bukan berarti semua langkah selanjutnya akan mudah. Namun setidaknya ia sudah membaca syarat, meminta penjelasan, dan memilih dengan sadar.
Saat mereka keluar dari ruang itu, Shania melihat Arhan berdiri di sisi koridor. Ia tampaknya baru selesai bekerja. Tatapannya berpindah dari surat di tangan Shania ke wajahnya.
'Kamu menerima tawaran itu?' tanyanya.
'Iya. Aku mulai setelah menyelesaikan pekerjaan di butik.'
Arhan terdiam. 'Selamat. Kamu pasti bisa.'
'Terima kasih.'
Ia tidak menunggu komentar lain. Shinta sudah berjalan ke arah pintu dan Shania menyusulnya. Kali ini ia tidak merasa perlu menjelaskan alasan atau meminta restu Arhan. Keputusan itu miliknya, lahir dari pertimbangan dan keinginan yang ia akui sendiri.
Di luar gedung, Shania memegang salinan surat dengan hati-hati. Ada pekerjaan baru yang menantinya, tetapi ia tidak menganggapnya sebagai akhir dari perjuangan. Ia akan belajar, membuat kesalahan, memperbaiki rancangan, dan menjaga batas yang telah ia susun. Untuk pertama kalinya sejak ucapan talak di rumah, langkah berikutnya terasa dipilih oleh dirinya sendiri.