Sehari setelah mengirim pertanyaan, Shania menerima pesan dari Yudha bahwa draf ketentuan sudah siap ditinjau. Ia membaca waktu pertemuan yang ditawarkan, lalu menghubungi Shinta. Mereka sepakat datang bersama agar pembicaraan tetap terbuka dan kedua pihak dapat menyampaikan kebutuhan masing-masing.
Pertemuan berlangsung di ruang rapat kecil Megah Depertemen Store. Yudha menyambut mereka dengan map dokumen. Ia tidak membawa Arhan atau karyawan lain ke dalam ruangan. Setelah mereka duduk, ia menjelaskan bahwa tawaran masih dapat dibicarakan dan belum mengikat sebelum ada kesepakatan tertulis.
'Ini rincian awalnya,' kata Yudha. 'Jadwal kerja, tugas, honor tetap, dan masa evaluasi. Saya sudah menambahkan klausul mengenai rancangan yang dibuat selama masa kerja. Silakan dibaca dan tanyakan apa pun.'
Shania membaca lembar demi lembar. Ada tugas membuat konsep koleksi, memeriksa sampel, dan memberi masukan terhadap penataan produk. Jadwalnya lima hari kerja dengan jam yang telah ditentukan. Pameran dan acara khusus dapat menambah jam, tetapi ada kompensasi yang akan dicatat. Desain yang dibuat sebagai tugas toko akan dipakai toko, sedangkan karya pribadi yang dibuat di luar tugas tetap menjadi miliknya.
'Bagian ini sudah lebih jelas,' kata Shania. 'Tapi saya ingin memastikan apakah saya boleh mempertahankan kerja sama tertentu dengan Flaws_Lovers.'
Yudha mengangguk. 'Saya tidak keberatan selama tidak mengganggu pekerjaan dan tidak menggunakan materi internal toko. Kerja sama produksi dengan butik bahkan bisa menjadi kemungkinan, asal kontraknya terpisah dan disetujui kedua pihak.'
Shinta membaca lampiran. 'Kami perlu waktu untuk menilai kapasitas produksi. Tapi saya senang klausulnya tidak melarang Shania bekerja sama dengan butik.'
'Saya ingin hubungan kerja ini memberi manfaat, bukan membuat salah satu pihak merasa kehilangan hak,' jawab Yudha.
Shania menunjuk bagian masa evaluasi. 'Kalau setelah masa evaluasi pekerjaan ini tidak cocok, apakah saya bisa mengundurkan diri dengan pemberitahuan yang jelas?'
'Bisa. Ketentuan pemberitahuannya ada di halaman terakhir. Kamu juga boleh membawa salinan ini dan meminta waktu untuk mempertimbangkan.'
Shania memeriksa halaman terakhir. Ia tidak melihat tekanan untuk segera menandatangani. Yudha justru mendorongnya membawa dokumen itu pulang.
'Saya menghargai tawaran ini,' katanya. 'Tapi saya ingin membaca dengan teliti sebelum memutuskan.'
'Silakan. Aku lebih suka kamu menerima karena memahami tanggung jawabnya, bukan karena merasa tidak enak menolak.'
Mereka membicarakan perkiraan jadwal mulai kerja. Shania menjelaskan bahwa ia ingin menyelesaikan proyek butik yang sedang berjalan dan menyepakati transisi jika menerima. Yudha setuju untuk memberi waktu yang wajar. Shinta menambahkan bahwa butik bisa menyesuaikan pembagian tugas setelah mengetahui keputusan Shania.
Shania bertanya apakah ia dapat mengikuti orientasi sebelum tanggal mulai resmi. Yudha menjawab bahwa tim akan menjadwalkan pengenalan kerja setelah ia menyelesaikan urusan butik, tanpa meminta Shania datang di luar jam yang disepakati.
'Saya ingin memulai dengan memahami alur kerja, bukan langsung menerima semua tugas,' kata Shania.
'Itu masuk akal,' jawab Yudha. 'Kita akan menyusun prioritas bersama pada minggu pertama.'
Shania juga menanyakan bagaimana tim akan memberi masukan terhadap rancangan. Yudha menjelaskan bahwa ia akan berkoordinasi dengan beberapa bagian, tetapi keputusan desain tidak akan ditentukan hanya dari satu pendapat.
'Saya ingin tahu siapa yang memberi persetujuan akhir,' kata Shania. 'Supaya saya paham kepada siapa harus menyampaikan revisi.'
Yudha menunjuk bagan kecil di lampiran. 'Koordinator tim akan menyatukan masukan. Kamu tetap punya ruang menjelaskan alasan desain, lalu kita putuskan bersama sesuai kebutuhan koleksi.'
'Kalau ada perbedaan pendapat?'
'Kita bahas berdasarkan tujuan produk dan masukan pemakai. Tidak perlu menjadikannya persoalan pribadi.'
Jawaban itu menenangkan Shania. Ia pernah terlalu sering mengira penolakan terhadap gagasan berarti penolakan terhadap dirinya. Di pekerjaan, ia ingin belajar menerima koreksi tanpa kehilangan suara.
Shinta menyampaikan bahwa ia akan mendukung Shania, tetapi butik juga perlu waktu untuk menyusun ulang pembagian kerja. Yudha menyetujuinya dan mencatat bahwa tanggal mulai dapat ditetapkan setelah proyek yang berjalan diselesaikan.
Menjelang akhir rapat, Shania dan Shinta membahas kembali hal yang baru mereka dengar di meja yang sama. Mereka mencocokkan salinan dokumen dan memastikan semua pertanyaan penting telah dijawab. Shania merasa lebih siap, meski keputusan akhir tetap menimbulkan gugup.
Shinta mencatatnya di pinggir salinan. Ia ingin memastikan bahwa masa awal kerja memberi Shania kesempatan belajar, bukan sekadar menumpuk target. Yudha menyetujui bahwa sasaran pertama akan dibahas setelah orientasi. Sikap terbuka itu membuat Shania semakin yakin bahwa ia bisa menilai pekerjaannya berdasarkan kesepakatan yang jelas.
Ketika pertemuan selesai, Yudha mengantar mereka ke pintu ruang rapat. 'Kalau ada pertanyaan lanjutan, kabari saya. Jangan merasa harus menjawab hari ini.'
***
'Terima kasih, Pak. Saya akan menghubungi setelah membaca semuanya,' kata Shania.
Mereka keluar menuju lobi. Saat melewati koridor, Arhan terlihat berbicara dengan rekan kerja di dekat ruangannya. Ia menoleh ketika melihat Shania membawa map bersama Shinta. Tatapannya tertahan sejenak pada dokumen itu.
'Ada urusan kerja?' tanyanya setelah Shania mendekat.
'Iya. Saya baru selesai membicarakan tawaran pekerjaan dengan Pak Yudha,' jawab Shania singkat.
Arhan tampak terkejut. 'Tawaran pekerjaan?'
'Posisi perancang. Saya masih mempelajari ketentuannya.'
'Kamu akan bekerja di sini?'
'Belum ada keputusan. Kalau saya menerima, itu karena pekerjaannya sesuai dengan yang ingin saya lakukan.'
Arhan mengusap tengkuknya. 'Aku tidak tahu Yudha sedang mempertimbangkan itu.'
'Kamu tidak perlu tahu semua urusanku, Mas.'
Ucapan itu tidak keras, tetapi membuat Arhan diam. Shinta berdiri di samping Shania tanpa ikut menjawab. Ia memberi ruang bagi mereka untuk bicara, sekaligus memastikan Shania tidak harus menghadapi percakapan itu sendirian.
'Aku cuma ingin tahu,' kata Arhan akhirnya.
'Aku mengerti. Tapi keputusan ini milikku.'
Arhan memandang map di tangannya. 'Kamu benar. Maaf.'
Shania mengangguk kecil. 'Aku dan Shinta harus kembali ke butik.'
Ia berjalan bersama Shinta menuju pintu keluar. Tidak ada pertengkaran, tetapi ada sesuatu yang berubah: Arhan mulai melihat bahwa kehidupan Shania bergerak tanpa menunggunya. Shania pun merasa semakin yakin bahwa tawaran itu harus dinilai berdasarkan isi pekerjaan, bukan reaksinya.
***
Di luar gedung, Shinta bertanya, 'Kamu baik-baik saja?'
'Iya. Aku hanya tidak ingin dia menjadikan pekerjaanku sebagai urusan kita.'
'Kamu sudah menjelaskan batasnya.'
Shania menatap map. Ketentuan itu tidak membuat semua kekhawatirannya hilang, tetapi setidaknya keputusan kini memiliki dasar yang nyata. Ia akan membacanya bersama Shinta dan Wati sebelum menjawab.