Pagi berikutnya, Shania dan Shinta duduk berhadapan di meja kerja butik. Tawaran dari Yudha terbuka di antara mereka. Shania sudah membaca ringkasan itu dua kali, tetapi masih ada hal-hal yang belum terjawab, terutama jam kerja, pembagian tanggung jawab, dan kepemilikan desain.
'Aku ingin menanyakan ini sebelum memberi jawaban,' kata Shania sambil menunjuk bagian tugas. 'Kalau aku merancang koleksi untuk toko, apakah rancangan itu menjadi milik toko sepenuhnya?'
Shinta membaca ulang kalimatnya. 'Di ringkasan ini belum dijelaskan. Kita perlu meminta perjanjian lengkap.'
'Aku tidak ingin bersikap curiga. Aku hanya ingin semuanya jelas.'
'Bersikap teliti bukan berarti curiga. Ini keputusan pekerjaan.'
Shania mencatat beberapa pertanyaan di buku. Ia ingin mengetahui apakah ada masa percobaan, target rancangan bulanan, jam kerja saat pameran, dan apakah ia tetap boleh mengambil pekerjaan tertentu bersama butik. Ia juga ingin memastikan tawaran itu tidak mengharuskannya memutus hubungan kerja dengan Shinta.
'Kamu sungguh mempertimbangkannya?' tanya Shinta.
'Iya. Aku senang mengerjakan desain di sini, tapi kesempatan bekerja di toko bisa membuatku belajar lebih banyak. Aku hanya tidak mau meninggalkanmu begitu saja.'
Shinta menatapnya serius. 'Kamu tidak berutang kepadaku untuk menolak kesempatan. Tapi kamu juga berhak memilih yang paling cocok. Kalau tawaran itu baik, kita bicarakan cara kerja sama yang adil.'
Kata-kata itu membuat Shania menghela napas lega. Ia tahu Shinta tidak sedang menguji kesetiaannya. Persahabatan mereka tidak seharusnya menjadi alasan untuk membatasi masa depan masing-masing.
Shania menyusun pesan kepada Yudha, meminta pertemuan lanjutan untuk membahas ketentuan secara tertulis. Ia melampirkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah mereka catat. Yudha menjawab bahwa pihak toko akan menyiapkan draf lengkap dan meminta waktu satu hari untuk mengumpulkan informasi dari bagian terkait.
'Dia tidak tersinggung?' tanya Shinta.
'Tidak. Dia bilang pertanyaanku wajar.'
'Bagus. Orang yang menawarkan pekerjaan seharusnya memberi ruang untuk mempertimbangkan.'
Saat mereka kembali bekerja, Shania mencoba menyelesaikan pola untuk permintaan kecil butik. Namun pikirannya terus menghitung jadwal yang mungkin berubah. Ia membayangkan bekerja di lingkungan toko, berdiskusi dengan tim, dan memperlihatkan desainnya kepada lebih banyak orang. Di sisi lain, ia khawatir pekerjaan tetap akan membuatnya merasa terikat pada tempat yang juga menjadi kantor Arhan.
***
Shinta menangkap keraguannya. 'Kamu takut bertemu Arhan?'
Shania diam sebentar. 'Aku tidak takut. Aku cuma tidak ingin pekerjaanku bergantung pada bagaimana dia bersikap.'
'Kalau kamu menerima, kamu akan bekerja untuk toko dan bertanggung jawab pada tugasmu. Arhan bukan atasanmu, kan?'
'Bukan. Tapi mungkin akan sering bertemu.'
'Kamu bisa menilai itu setelah melihat ketentuannya. Jangan menolak hanya karena kemungkinan bertemu mantan suami, tapi jangan menerima demi membuktikan sesuatu kepadanya juga.'
Shania menatap sahabatnya. 'Aku ingin memilih karena pekerjaannya cocok untukku.'
'Nah, itu dasar yang lebih kuat.'
Siang hari, Wati menelepon. Ia sudah mendengar kabar tentang tawaran itu dari Shania, tetapi ingin tahu langsung bagaimana perasaannya.
'Ibu tidak akan menyuruhmu menerima atau menolak,' kata Wati. 'Ibu cuma ingin kamu tidak merasa harus membuktikan bahwa kamu bisa bekerja. Kamu sudah membuktikannya lewat usahamu.'
'Aku tahu, Bu. Aku mau memikirkan jam kerja dan tanggung jawabnya.'
'Bagus. Tanyakan semua yang perlu kamu tahu. Jangan sungkan hanya karena yang menawarkan orang baik.'
Shania tersenyum mendengar ketegasan Wati. 'Iya. Aku juga ingin tetap bekerja bersama Shinta kalau memungkinkan.'
'Bicarakan baik-baik. Ibu yakin kalian bisa mencari jalan yang adil.'
Setelah panggilan berakhir, Shania menuliskan pesan Wati di sisi halaman catatannya: keputusan tidak perlu dibuat dari rasa takut. Ia kembali bekerja, kali ini lebih fokus. Ia tahu peluang itu penting, tetapi ia juga tahu dirinya boleh meminta waktu dan informasi sebelum mengambil keputusan.
Menjelang sore, Shinta mengajak Shania mengecek jadwal butik untuk minggu berikutnya. Mereka menandai pekerjaan yang harus diselesaikan lebih dulu. Shania menyadari, apa pun jawabannya kepada Yudha, ia akan tetap memiliki tanggung jawab pada proyek yang sudah ia terima.
***
'Kalau nanti jadwalku berubah, aku akan menyelesaikan pekerjaan yang sudah kujanjikan,' katanya.
'Aku menghargai itu. Kita atur sisanya setelah tahu detail tawarannya.'
Shania menutup buku catatan. Ia merasa lebih tenang karena sudah mengubah kecemasan menjadi pertanyaan yang bisa dijawab. Tawaran pekerjaan itu belum menjadi keputusan, namun kini ia tahu apa yang perlu ia pertimbangkan.
Di butik, Shania membuat tabel sederhana untuk membandingkan rutinitas sekarang dengan jadwal yang mungkin berlaku. Ia tidak ingin angka-angka itu menjadi satu-satunya dasar, tetapi daftar tersebut membantunya melihat perubahan yang akan terjadi. Ia menandai waktu perjalanan, pekerjaan butik, dan waktu istirahat.
'Kamu bahkan menghitung waktu istirahat,' kata Shinta.
'Aku pernah mengabaikannya. Kalau aku menerima pekerjaan, aku tidak mau mengulang kebiasaan itu.'
'Bagus. Jangan mengukur kemampuanmu dari seberapa banyak kamu bisa memaksakan diri.'
Shania menuliskan batas kerja yang menurutnya perlu dijaga: ia tidak akan menerima proyek butik tambahan sebelum melihat beban kerja awal di toko, dan ia akan menyelesaikan pesanan yang sudah dijanjikan. Shinta membaca daftar itu dan menyetujuinya.
'Kita bisa kembali membicarakan kolaborasi setelah kamu menjalani masa awal,' ujarnya. 'Kalau ternyata waktunya tidak cocok, kita tidak perlu memaksakan.'
Shania menarik napas lega. Rencana itu membuat tawaran kerja tidak tampak seperti pilihan antara sahabat dan masa depan. Ia dapat menghormati keduanya dengan komunikasi yang jujur.
Malam itu ia mengirim ucapan terima kasih kepada Yudha dan mengatakan akan datang bersama Shinta untuk meninjau draf lengkap. Yudha mengonfirmasi waktu pertemuan dan kembali menegaskan tidak ada kewajiban untuk menandatangani sebelum Shania merasa yakin.
Pada malam itu, Shania membawa pulang salinan ringkasan tawaran yang sudah diterimanya, bukan untuk langsung menandatangani, melainkan agar dapat memeriksanya dalam keadaan tenang. Ia membaca setiap halaman dan memberi tanda pada istilah yang belum dipahami.
'Kalau ada istilah yang tidak jelas, jangan menebak,' pesan Shinta lewat telepon. 'Tanyakan pada Yudha.'
'Sudah kutandai. Besok aku akan memastikan semuanya.'
'Bagus. Kamu berhak memahami apa yang kamu setujui.'
Shania menutup dokumen setelah selesai membaca. Ia tidak lagi merasa bahwa bertanya akan membuatnya tampak tidak tahu apa-apa. Justru dengan memahami tanggung jawab, ia dapat bekerja lebih baik dan menghindari kesalahpahaman di kemudian hari.