Shania membaca kembali pesan Yudha setelah menyelesaikan beberapa pola. Undangan makan malam itu tidak menyebut tempat yang mewah atau maksud pribadi. Yudha hanya menulis bahwa ia ingin membicarakan kemungkinan pekerjaan tetap yang berkaitan dengan rancangan busana dan acara di Megah Depertemen Store. Meski begitu, Shania tidak ingin salah memahami.
Ia membawa ponsel kepada Shinta. 'Menurutmu aku sebaiknya datang?'
'Kalau pembicaraannya soal pekerjaan, kamu bisa datang. Tapi pilih tempat umum, dan pastikan tujuannya jelas.'
'Aku juga berpikir begitu. Aku akan tanya apakah ini pertemuan profesional.'
Shania mengetik pesan dengan hati-hati. Ia mengucapkan terima kasih atas undangan tersebut, lalu bertanya apakah Shinta bisa ikut karena pembicaraan menyangkut kerja sama butik. Yudha menjawab cepat bahwa tentu saja Shinta boleh hadir. Ia juga menegaskan bahwa makan malam itu untuk membicarakan tawaran pekerjaan dan peluang kolaborasi, bukan urusan pribadi.
Shania merasa lebih tenang. Ia menyampaikan jawaban itu kepada Shinta.
'Bagus. Kejelasan sejak awal membuat kita tidak perlu menebak-nebak,' kata Shinta.
'Aku juga tidak ingin membuat orang lain salah paham.'
'Kalau begitu kita datang bersama. Kita dengar penawarannya dulu, lalu pertimbangkan.'
Malamnya, Shania dan Shinta bertemu Yudha di sebuah restoran sederhana yang ramai pengunjung. Yudha sudah duduk di meja dekat jendela. Ia berdiri menyambut mereka dan menarik kursi untuk Shinta, kemudian mempersilakan Shania duduk.
'Terima kasih sudah bersedia datang,' katanya. 'Aku senang kalian berdua datang, jadi ketentuan kerja ini dapat kita bahas bersama dengan terbuka.'
'Terima kasih juga sudah menjelaskan maksudnya,' jawab Shania. 'Saya ingin memastikan tidak ada yang keliru dipahami.'
'Tentu. Aku menghargai sikapmu.'
Setelah memesan minuman, Yudha membuka map yang dibawanya. Ia menjelaskan bahwa pihak toko ingin mengembangkan beberapa koleksi busana yang nyaman untuk pekerja dan pengunjung. Pameran kemarin memberinya gambaran bahwa Shania mampu merancang pakaian dengan mempertimbangkan pemakainya, sedangkan Shinta memiliki pengalaman mengelola produksi dan butik.
'Aku ingin menawarkan posisi tetap untuk Shania sebagai perancang di tim pengembangan busana toko,' kata Yudha. 'Tapi bentuk kerja sama dengan butik juga bisa dibicarakan. Aku tidak ingin memaksa kalian memilih sebelum tahu rinciannya.'
***
Shania mengerutkan kening. 'Posisi tetap berarti saya bekerja langsung di Megah Depertemen Store?'
'Iya. Jadwal, tanggung jawab, dan kompensasinya akan dibicarakan secara tertulis. Belum ada keputusan yang harus kamu ambil malam ini.'
Shinta memeriksa lembar yang disodorkan. 'Apakah tawaran ini mengharuskan Shania meninggalkan butik?'
'Tidak harus. Itu justru salah satu hal yang perlu kita rumuskan. Bisa saja ia menjadi perancang tetap dengan jadwal tertentu, sementara butik menjadi mitra produksi untuk koleksi tertentu. Tapi detailnya harus disepakati semua pihak.'
Shania membaca ringkasan tugas yang tertulis. Ada pekerjaan membuat rancangan, meninjau sampel, dan berdiskusi dengan bagian penjualan. Ia belum melihat angka gaji dan jam kerja.
'Saya tertarik, tapi saya perlu memahami beban kerjanya,' katanya. 'Saya juga tidak ingin menerima sesuatu hanya karena merasa sedang mendapat perhatian setelah pameran.'
Yudha mengangguk. 'Itu alasan yang baik untuk mempertimbangkannya. Kamu boleh membawa salinan ini dan membacanya bersama Shinta.'
Mereka makan sambil membahas hal-hal umum tentang proses produksi. Yudha tidak mendesak jawaban. Ia bertanya bagaimana Shania belajar membuat pola, dan Shania menceritakan bahwa ia sudah lama menyukai desain tetapi sempat berhenti menekuninya. Ia tidak mengurai masalah rumah tangganya; percakapan tetap pada pekerjaan dan rencana profesional.
'Kamu terlihat jauh lebih percaya diri saat menjelaskan rancangan,' kata Yudha.
'Saya masih sering ragu. Tapi sekarang saya mencoba menjelaskan alasan di balik keputusan saya, bukan langsung menganggap ide saya salah.'
'Itu kemajuan. Keraguan bisa membuat kita memeriksa pekerjaan, selama tidak membuat kita berhenti mencoba.'
Shinta menambahkan, 'Dan kalau Shania menerima tawaran ini, kami perlu mengatur pembagian waktu dan hak atas rancangan dengan jelas.'
'Setuju,' jawab Yudha. 'Aku ingin semuanya tertulis agar tidak merugikan siapa pun.'
Setelah makan malam, Yudha menyerahkan salinan ringkasan tawaran. Ia mengatakan mereka dapat menjadwalkan pertemuan lanjutan setelah Shania membaca semua ketentuannya. Shania menerima berkas itu tanpa memberi janji.
'Saya akan mempelajarinya dulu. Terima kasih sudah mempertimbangkan saya.'
***
'Sama-sama. Apa pun keputusanmu, pameran kemarin menunjukkan bahwa kamu punya kemampuan yang pantas dihargai.'
Sebelum mereka pulang, Yudha meminta pendapat Shania tentang rencana acara berikutnya. Ia menegaskan bahwa pertanyaan itu tidak mengubah tawaran kerja; ia hanya ingin tahu apa yang Shania pelajari dari respons pengunjung.
'Mereka banyak bertanya tentang kenyamanan dan perawatan,' jawab Shania. 'Mungkin koleksi berikutnya bisa menunjukkan bagaimana pakaian yang sederhana tetap menarik tanpa menyulitkan pemakainya.'
'Itu gagasan yang kuat,' kata Yudha. 'Kita bisa membahasnya lebih rinci setelah kamu mempelajari posisi yang kutawarkan.'
Shinta ikut menambahkan bahwa toko dan butik perlu menyepakati tenggat yang realistis. Ia tidak ingin permintaan produksi besar datang tanpa perkiraan tenaga dan waktu.
'Betul,' kata Yudha. 'Kalau kerja sama terjadi, kita akan menyusun jadwal yang masuk akal. Saya tidak ingin kalian bekerja terburu-buru hanya demi memenuhi acara.'
Shania mencatat sikap itu sebagai hal yang ia hargai. Ia masih belum memutuskan, tetapi setidaknya tawaran tersebut tidak disertai tuntutan untuk segera menjawab. Saat mereka berpamitan, ia membawa salinan ringkasan dan nomor kontak Yudha untuk pertanyaan lanjutan.
Di perjalanan pulang, Shinta bertanya bagaimana perasaannya.
'Aku senang karena ada tawaran, tapi juga takut salah memilih.'
'Kita baca semuanya. Tidak ada yang harus diputuskan malam ini.'
Shania memegang map di pangkuan. Untuk pertama kalinya, peluang kerja datang sebagai hasil dari kemampuannya, bukan karena hubungannya dengan Arhan. Namun ia tahu menerima pekerjaan tetap akan mengubah rutinitasnya dan memengaruhi kerja sama dengan Shinta. Ia akan menimbangnya dengan cermat.
Dalam perjalanan kembali, Shania bertanya kepada Shinta apakah tawaran itu akan mengubah hubungan mereka.
'Kalau kita bicara jujur, tidak,' jawab Shinta. 'Mungkin rutinitas berubah, tapi bukan berarti kita berhenti saling mendukung.'
'Aku tidak ingin kamu merasa aku mengambil kesempatan ini dengan mengorbankan butik.'
'Kamu tidak mengambil apa pun dariku. Kita akan melihat kapasitas dan membuat kesepakatan. Kalau tidak cocok, kita cari cara lain.'
Shania menyimpan kalimat itu dalam hati. Ia terbiasa merasa bersalah setiap kali memilih sesuatu untuk dirinya sendiri. Kali ini ia mencoba membedakan rasa bersalah dari tanggung jawab: ia tetap akan menuntaskan pekerjaannya, tetapi tidak harus menolak kesempatan baru demi menjaga semua orang tetap nyaman.