Pagi setelah pameran, Shania tiba di Butik Flaws_Lovers dengan tubuh yang masih terasa lelah. Ia meletakkan map sketsa di meja, lalu membantu Shinta menata kembali kain contoh yang mereka bawa pulang. Beberapa pesan ucapan selamat masih tersimpan di ponselnya, tetapi ia memilih menyelesaikan pekerjaan dulu sebelum membacanya satu per satu.
'Kamu tidur cukup?' tanya Shinta sambil menaruh dua cangkir teh.
'Tidak terlalu. Aku masih memikirkan acara kemarin. Rasanya seperti baru sadar sekarang bahwa pamerannya benar-benar terjadi.'
'Dan berjalan baik.'
Shania tersenyum. 'Iya. Aku tidak menyangka banyak orang akan bertanya tentang desain.'
Shinta membuka buku catatan. 'Kita evaluasi sebelum lupa. Apa yang menurutmu berhasil?'
Shania duduk di seberangnya. Ia mencatat bahwa urutan busana berjalan rapi, kartu bahan cukup membantu, dan penjelasan yang ia berikan membuat pengunjung lebih memahami potongan rancangan. Namun, ia juga mencatat bahwa kartu informasi perlu diletakkan lebih tinggi dan petunjuk perawatan kain harus dibuat lebih jelas.
'Aku juga merasa kita perlu menyiapkan satu contoh ukuran berbeda,' katanya. 'Ada pengunjung yang bertanya apakah pola bisa disesuaikan. Kita bisa menjawab lebih baik kalau sudah punya sampel.'
'Setuju. Itu bisa jadi pekerjaan berikutnya. Tapi jangan langsung mengambil semua permintaan. Kita bicarakan dulu kapasitas butik.'
'Aku tahu. Aku tidak ingin membuat janji hanya karena sedang senang dipuji.'
Shinta mengangkat alis. 'Bagus. Kamu belajar menerima pujian tanpa kehilangan pertimbangan.'
Shania tertawa pelan. Ia membuka map dan memperlihatkan sketsa yang paling banyak ditanyakan pengunjung. Keduanya membahas bahan, ukuran, dan kemungkinan mengubah garis bahu tanpa menghilangkan bentuk utama. Diskusi mereka terasa berbeda dari hari-hari awal. Shania tidak lagi hanya menunggu Shinta menyetujui idenya; ia menyampaikan alasan, mendengar koreksi, lalu menentukan pilihan bersama.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Wati masuk, disertai foto pameran yang dikirim Shinta.
'Ibu bangga melihatmu berdiri menjelaskan karya sendiri. Apa kamu senang?'
Shania membalas, 'Senang, Bu. Aku masih lelah, tapi rasanya lega. Banyak yang bertanya soal desain.'
Wati menjawab, 'Syukurlah. Jangan lupa makan dan istirahat. Ibu tidak ingin kamu jatuh sakit setelah bekerja keras.'
Shania tersenyum pada layar. Ia lalu menunjukkan pesan itu kepada Shinta.
***
'Wati selalu tahu kapan harus mengingatkanmu makan,' kata Shinta.
'Dari dulu. Kadang aku terlalu sibuk sampai lupa.'
Mereka menutup evaluasi setelah hampir satu jam. Shinta meminta Shania merapikan sketsa, sementara dirinya mengurus beberapa urusan butik. Shania mulai bekerja, tetapi pikirannya sesekali kembali ke Megah Depertemen Store. Ia mengingat tatapan karyawan yang berubah, sambutan Yudha, dan Arhan yang sempat terlihat di belakang kerumunan sebelum menyapanya di lobi.
Shinta menyadari ia melamun. 'Kamu sedang memikirkan Arhan?'
Shania menahan pensil. 'Sedikit. Tapi bukan karena aku ingin kembali. Aku cuma tidak tahu apa arti tatapannya kemarin.'
'Kamu tidak perlu menebak. Kalau dia punya sesuatu untuk dikatakan, biarkan dia menyampaikannya dengan jelas.'
'Aku tidak mau pameran itu berubah jadi alasan untuk membuka lagi semua yang sudah selesai.'
'Kamu bisa menjaga batas. Kamu sudah melakukannya kemarin.'
Shania mengangguk. Ia kembali menatap garis sketsa. 'Aku ingin fokus pada ini. Ada orang yang benar-benar tertarik pada rancangan, dan aku ingin menindaklanjuti dengan cara yang benar.'
Menjelang siang, Shinta menerima pesan dari Yudha yang berterima kasih atas acara yang berjalan lancar dan meminta waktu untuk berbicara dengan Shania. Ia menunjukkan layar kepada sahabatnya.
'Dia ingin bertemu denganku?' tanya Shania.
'Katanya ada hal yang ingin dibicarakan setelah melihat pekerjaanmu.'
Shania tidak langsung menjawab. 'Mungkin soal pameran?'
'Bisa jadi. Kamu boleh bertanya dulu tujuan pertemuannya.'
Shania mengetik balasan singkat bahwa ia bersedia berbicara, tetapi meminta Yudha menjelaskan waktu dan keperluannya. Tak lama, Yudha membalas bahwa ia ingin menyampaikan tawaran kerja sama dan mengundangnya makan malam untuk membicarakannya.
Shania memandang pesan itu cukup lama. Undangan itu terdengar profesional, tetapi tetap membuatnya berhati-hati. Ia meletakkan ponsel di meja.
'Aku tidak perlu menjawab sekarang,' katanya.
***
'Betul,' jawab Shinta. 'Kamu boleh memikirkannya.'
Shania menutup map sketsa, lalu meminum tehnya yang mulai dingin. Hari setelah pameran tidak membawanya kembali ke masa lalu. Ia hanya membuka pertanyaan baru tentang pekerjaan yang mungkin datang, dan ia ingin menjawabnya dengan kepala jernih.
Shania membuka kembali foto pameran yang tersimpan di ponselnya. Ia memperhatikan ekspresi dirinya sendiri dalam gambar: gugup, tetapi tidak menunduk. Ia menunjukkan foto itu kepada Shinta.
'Aku hampir tidak mengenali diriku yang ini,' katanya.
'Kenapa?'
'Karena dulu aku selalu memikirkan apakah orang lain akan menyukai pilihanku. Kemarin aku sibuk memastikan pakaian dan penjelasanku siap. Aku tidak sempat memikirkan siapa yang mungkin menilai.'
Shinta menatap foto itu. 'Kamu tetap orang yang sama. Bedanya, sekarang kamu memberi dirimu ruang untuk bicara.'
'Aku ingin mempertahankan perasaan itu.'
'Kamu bisa. Tapi jangan berpikir kamu harus selalu kuat. Ada hari ketika kamu lelah dan ragu lagi. Itu tidak menghapus kemajuanmu.'
Shania menyimpan ponselnya dan kembali pada catatan evaluasi. Ia menuliskan bahwa ia ingin bekerja pada rancangan yang memiliki fungsi jelas, bukan hanya membuat sesuatu yang tampak bagus saat dipajang. Shinta menyarankan agar ia membawa gagasan itu ketika bertemu Yudha, sebab tawaran kerja sebaiknya cocok dengan cara ia ingin berkembang.
'Jangan cuma bertanya apa yang mereka harapkan darimu,' kata Shinta. 'Kamu juga harus tahu pekerjaan seperti apa yang ingin kamu lakukan.'
Shania mengangguk. Ia menambahkan satu pertanyaan tentang ruang untuk mengusulkan konsep sendiri. Tawaran itu kini terasa lebih nyata, dan ia ingin datang ke pertemuan dengan pendirian, bukan sekadar menunggu dipilih.
Sebelum menerima tawaran, Shania juga ingin menyampaikan kabar itu kepada Wati secara langsung. Ia mengetik pesan singkat bahwa Yudha ingin bertemu untuk membahas pekerjaan, lalu menelepon ibunya saat istirahat.
'Ibu senang kamu diberi kesempatan,' kata Wati. 'Tapi jangan terburu-buru menyebutnya sebagai jawaban. Dengarkan dulu apa yang ditawarkan.'
'Aku akan datang bersama Shinta.'
'Bagus. Bukan karena kamu tidak mampu sendiri, tapi karena dia ikut bekerja denganmu dan memahami kebutuhan butik.'
Shania merasa lega mendengar Wati tidak mencoba mengambil alih keputusannya. Ia menutup telepon dan kembali menata kartu informasi. Kini ia punya alasan untuk menerima undangan itu: bukan rasa sungkan, melainkan kesempatan memahami kemungkinan kerja yang nyata.