Setelah pengunjung terakhir meninggalkan area pameran malam itu, Shania dan Shinta memeriksa kembali koleksi di Megah Depertemen Store. Mereka memastikan tidak ada busana yang tertinggal atau rusak sebelum mengemasnya. Karyawan toko membantu mengangkat panel ringan ke sisi ruangan. Salah seorang yang tadi sempat meminta maaf ikut membantu mengembalikan kursi.
'Terima kasih sudah menjaga koleksinya,' kata Shania.
'Sama-sama. Aku jadi paham kenapa kamu teliti sekali,' jawabnya. 'Kalau ada acara lagi, semoga kita bisa bekerja bersama.'
'Semoga. Kita lihat nanti setelah semua dibicarakan dengan Shinta.'
Shinta tersenyum mendengar jawaban itu. Shania tidak terburu-buru menerima sesuatu yang belum jelas, tetapi juga tidak merendahkan peluang yang mungkin datang. Ia mulai belajar bahwa menjaga batas bukan berarti menolak semua hal.
Saat mereka melipat kain pelindung, Yudha kembali muncul di area pameran. 'Kalian sudah selesai?'
'Hampir, Pak,' jawab Shania. 'Kami tinggal memastikan semua busana kembali ke tempatnya.'
'Acara berjalan baik. Banyak karyawan yang membicarakan rancanganmu. Tanggapan mereka positif.'
'Saya lega mendengarnya.'
'Kamu patut bangga pada hasil kerjamu. Jangan biarkan penilaian orang tentang kehidupan pribadimu menghapus apa yang sudah kamu bangun.'
Shania menatapnya dengan rasa terima kasih. 'Saya akan berusaha mengingat itu.'
Yudha mengangguk. 'Kamu tidak perlu membuktikan semuanya malam ini. Teruskan saja langkahmu satu demi satu.'
Ia berpamitan kepada Shinta dan Shania, kemudian berjalan menuju kantor. Beberapa karyawan yang masih mengemasi perlengkapan mendengar percakapan itu. Mereka memandang Shania dengan hormat, bukan lagi dengan rasa ingin tahu yang menghakimi.
Di dekat pintu, Arhan masih berdiri bersama beberapa rekannya. Atika sudah kembali, tetapi wajahnya tegang. Ia tampak menunggu Arhan menyelesaikan percakapan singkatnya. Ketika Yudha lewat, Arhan menyapanya formal.
'Pak, acaranya berjalan lancar.'
'Iya. Kerja sama timnya baik,' jawab Yudha. 'Shania dan Shinta sudah menyiapkan semuanya dengan matang.'
Arhan hanya mengangguk. Yudha tidak menambahkan apa-apa dan melanjutkan langkah. Kalimat sederhana itu justru membuat dada Arhan terasa sesak. Ia ingin mengatakan bahwa ia tahu Shania lebih lama daripada siapa pun di ruangan itu, tetapi kesadaran lain menahan lidahnya: mengenal seseorang tidak berarti pernah benar-benar melihatnya.
Atika menghampirinya. 'Kita pulang?'
'Sebentar.'
'Untuk apa? Acaranya sudah selesai.'
Arhan menatap Shania yang sedang menutup kotak perlengkapan. 'Aku mau bicara sebentar dengannya.'
Atika tertawa pendek tanpa humor. 'Sekarang? Setelah semua orang memuji dia?'
***
'Aku hanya ingin mengucapkan selamat.'
'Kamu bisa melakukannya tadi. Kamu memilih diam.'
Arhan tidak punya jawaban. Atika menatapnya lama, lalu melepaskan napas. 'Aku tidak mau bertengkar di sini. Tapi jangan anggap aku tidak melihat apa yang terjadi.'
'Aku tahu.'
Atika bergerak menuju pintu keluar dan berhenti menunggunya. Arhan tidak langsung menyusul, tetapi juga tidak mendekati Shania. Ia menyaksikan Shania bekerja sampai selesai, membiarkan momen itu menjadi miliknya.
Shinta mengunci kotak terakhir dan melihat ke arah Arhan. 'Kamu mau menyampaikan sesuatu?'
Arhan menggeleng. 'Tidak sekarang.'
'Kalau begitu, jangan mengganggu dia. Hari ini penting buat Shania.'
'Aku tahu.'
Shania mendengar suara mereka, tetapi tidak menoleh. Ia dan Shinta membawa barang ke area penyimpanan yang sudah ditentukan. Setelah semua beres, mereka kembali ke lobi.
'Kamu pulang denganku?' tanya Shinta.
'Iya. Aku tidak mau naik kendaraan sendiri malam-malam.'
'Baik. Kita pesan mobil setelah aku memastikan petugas sudah menutup ruang penyimpanan dan tidak ada perlengkapan kita yang tertinggal.'
Shania berdiri di dekat pintu masuk, memegang tas sketsa. Arhan mendekat beberapa langkah, namun berhenti dengan jarak yang cukup.
'Shania,' panggilnya.
Ia menoleh. 'Ya?'
'Selamat atas pamerannya. Rancanganmu bagus. Kamu menjelaskannya dengan baik tadi.'
'Terima kasih, Mas.'
Arhan tampak menunggu lebih banyak respons. 'Aku sungguh senang melihat kamu berhasil.'
Shania memandangnya dengan tenang. 'Aku senang karena aku sudah bekerja keras untuk ini.'
'Iya. Aku tahu.'
'Aku harap kamu menghormati bahwa malam ini tentang pekerjaanku. Aku tidak ingin menjadikan pameran ini sebagai pembicaraan tentang hubungan kita.'
***
Arhan menelan ludah. 'Aku mengerti. Aku tidak bermaksud - '
'Kalau begitu, cukup ucapkan selamat. Itu sudah cukup.'
Arhan mengangguk pelan. Ia tidak mencoba menyentuhnya atau menahan langkahnya. 'Selamat, Shania.'
'Terima kasih.'
Shinta kembali dari koridor. Ia melihat mereka berdiri berjarak dan tidak bertanya apa-apa. 'Mobilnya sebentar lagi datang.'
Shania menoleh kepada Arhan. 'Aku pulang dulu.'
'Hati-hati.'
Ia berjalan bersama Shinta keluar dari gedung. Udara malam terasa sejuk setelah berjam-jam berada di dalam ruangan. Shania menarik napas panjang, lalu menatap map yang ia bawa.
'Bagaimana perasaanmu sekarang?' tanya Shinta.
'Aku merasa bangga. Bukan karena semua orang melihatku, tapi karena aku tidak bersembunyi saat mereka melihat.'
'Itu kemajuan besar.'
'Dan aku tidak perlu membenci Arhan untuk memilih hidupku sendiri. Aku hanya perlu tetap berjalan.'
Mobil tiba. Mereka masuk dan duduk berdampingan. Dari kaca, Shania melihat pintu toko semakin jauh. Di dalamnya Arhan masih berdiri, sementara Atika menunggunya. Shania tidak memikirkan apa yang akan mereka bicarakan. Ia sudah memberi batas yang jelas dan akan membiarkan mereka bertanggung jawab atas pilihan masing-masing.
Di perjalanan, ponselnya bergetar. Pesan dari Wati muncul: 'Ibu melihat fotonya dari Shinta. Kamu terlihat bahagia, Nak.'
Shania tersenyum dan membalas, 'Aku memang bahagia, Bu. Aku bangga dengan hasilnya.'
Ia menyimpan ponsel.
Di dalam mobil, Shania melihat ponselnya sekali lagi. Ada pesan dari Shinta yang sudah ia terima di grup kerja, berisi foto koleksi dengan ucapan selamat dari beberapa orang butik. Ia menyimpan foto itu tanpa mengunggahnya. Ia ingin menikmati hari tersebut untuk dirinya sendiri lebih dulu.
'Kamu tidak ingin membagikan fotonya?' tanya Shinta.
'Nanti saja. Malam ini aku ingin pulang dan istirahat. Besok kita bisa bicara soal evaluasi acara.'
'Setuju. Kita catat apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki.'
'Aku ingin mulai dengan ucapan terima kasih kepada tim. Tanpa bantuan kalian, koleksi ini tidak akan selesai tepat waktu.'
Shinta tersenyum. 'Kita sampaikan bersama. Kamu bagian penting dari tim itu.'
Ketika mobil tiba di depan rumah, Shania mengucapkan terima kasih kepada pengemudi dan turun. Ia tidak merasa seluruh masalah hidupnya selesai. Arhan masih mantan suaminya, luka lama masih ada, dan masa depan belum sepenuhnya jelas. Namun malam ini memberinya satu kepastian kecil: ia mampu merancang sesuatu, mempertanggungjawabkannya, dan menerima penghargaan tanpa meminta izin siapa pun.