Keramaian pameran bertambah setelah waktu kerja berakhir. Shania berdiri di dekat meja sketsa, menjawab pertanyaan pengunjung yang datang bergantian. Beberapa karyawan Megah Depertemen Store masih ada di sana. Kini mereka tidak lagi memandangnya dengan tatapan ingin memastikan gosip, melainkan dengan rasa ingin tahu terhadap rancangannya.
'Kalau bahan yang ini dicuci, apa bentuknya tetap terjaga?' tanya seorang karyawan.
'Asal mengikuti petunjuk perawatan, seharusnya tetap baik. Kami memilih kain yang tidak terlalu sulit dirawat,' jawab Shania. 'Tapi sebelum produksi lebih banyak, kami juga menguji sampelnya beberapa kali.'
Karyawan itu mengangguk. 'Kamu menjelaskan dengan jelas. Aku jadi paham kenapa potongannya dibuat seperti ini.'
'Terima kasih. Aku senang kalau penjelasannya membantu.'
Di sisi lain ruangan, Arhan mendengar percakapan itu. Ia berada bersama dua rekannya, tetapi pikirannya tertinggal pada Shania. Salah satu temannya melirik ke arahnya.
'Kamu tidak bilang mantan istrimu bisa mendesain,' ujar rekannya.
Arhan menegang. 'Memangnya aku harus menceritakan semua hal tentang dia?'
'Bukan begitu. Kami cuma pernah dengar cerita lain. Katanya dia tidak punya kegiatan dan selalu bergantung padamu.'
Arhan tidak menjawab. Kalimat itu membuatnya sadar betapa mudahnya orang-orang membentuk gambaran tentang Shania dari potongan cerita yang ia biarkan beredar. Ia sendiri dulu pernah menganggap kesukaannya menggambar hanya hobi yang tidak perlu ditanggapi serius.
'Yang jelas, hasilnya bagus,' lanjut rekannya. 'Kamu pasti tahu dia seteliti ini.'
'Aku...' Arhan terdiam, lalu menelan ludah. 'Aku seharusnya tahu.'
Rekannya memandangnya sebentar. 'Apa?'
'Tidak apa-apa.'
Atika berdiri tak jauh dari mereka. Ia mendengar percakapan itu dan mengalihkan tatapan ke Shania. Beberapa saat sebelumnya ia berusaha menunjukkan bahwa kehadiran mantan istri Arhan tidak mengusiknya. Namun melihat para karyawan memuji Shania dan Yudha menyambutnya dengan begitu hangat membuatnya sulit mempertahankan sikap santai.
Shinta membawa dua gelas air dan menyerahkan satu kepada Shania. 'Kamu sudah berbicara terus sejak pembukaan. Minumlah dulu.'
Shania menerimanya. 'Terima kasih. Aku tidak menyangka pertanyaannya sebanyak ini.'
'Itu pertanda mereka tertarik.'
'Aku senang, tapi masih takut salah menjawab.'
'Kamu tidak perlu punya jawaban sempurna untuk semua hal. Jawab yang kamu tahu, dan katakan kalau sesuatu perlu dibicarakan lagi.'
***
Shania tersenyum. 'Kamu selalu bisa membuat semuanya terdengar sederhana.'
'Karena memang bisa dibuat sederhana. Kamu punya rancangan, mereka punya pertanyaan. Kalian berbicara. Tidak perlu membawa masa lalu ke setiap percakapan.'
Shania memandang sekeliling. Ia melihat Arhan, lalu segera mengalihkan mata. Ada bagian dari dirinya yang masih merasa sakit ketika berada dekat dengannya, tetapi luka itu tidak lagi menguasai semua yang ia lakukan. Ia kembali berdiri saat pengunjung baru mendekat.
Seorang karyawan yang tadi mengaku pernah mendengar cerita berbeda datang lagi. 'Shania, boleh tanya? Bagian kerah ini terinspirasi dari model klasik?'
'Ada sedikit pengaruhnya, tapi aku mengubah garisnya supaya tidak terasa berat. Aku ingin orang bisa memakainya dalam banyak kesempatan.'
'Kamu menjahitnya sendiri?'
'Beberapa contoh awal iya. Untuk koleksi, kami bekerja bersama tim butik. Shinta membantu memastikan bentuk akhirnya sesuai dengan pola.'
Karyawan itu menoleh kepada Shinta. 'Kalian cocok bekerja sama.'
'Kami saling mengoreksi,' kata Shinta. 'Kalau saya hanya memuji, desainnya tidak berkembang.'
Mereka tertawa. Suasana ringan itu membuat beberapa orang lain ikut mendekat. Shania menunjukkan sketsa awal dan menjelaskan perubahan yang ia lakukan. Ia tidak menyembunyikan bahwa rancangan pertamanya belum sempurna. Justru proses memperbaiki itulah yang membuatnya merasa lebih yakin.
Atika melangkah ke meja minuman. Ia mengambil segelas air dan berdiri sendirian. Seorang karyawan perempuan menyapanya, kemudian bertanya apakah ia mengenal Shania.
'Aku tahu dia,' jawab Atika. 'Dia mantan istri Arhan.'
'Oh. Aku pernah dengar, tapi ternyata orangnya berbeda dari yang kubayangkan.'
Atika terdiam. 'Apa yang kamu bayangkan?'
Karyawan itu tampak ragu. 'Aku tidak tahu. Cerita yang beredar membuatku berpikir dia tidak terlalu mandiri. Tapi tadi dia menjelaskan semua desainnya sendiri.'
Atika memegang gelasnya lebih erat. 'Orang bisa berubah.'
'Mungkin. Atau mungkin kita saja yang tidak pernah benar-benar mengenalnya.'
Ucapan itu membuat Atika kehilangan senyum. Ia menoleh kepada Arhan. Ia ingin mendekat dan meminta perhatian lelaki itu, tetapi ia melihat Arhan masih memandang ke arah Shania. Bukan tatapan yang terang-terangan, melainkan fokus yang terlalu lama untuk disebut kebetulan.
Shania menyelesaikan penjelasan lalu menoleh kepada Shinta. 'Aku mau cek gantungan yang dekat pintu. Tadi ada kain yang sedikit miring.'
'Aku ikut.'
***
Mereka berjalan ke sisi ruangan. Saat melewati kelompok Arhan, Shania tetap menjaga langkah. Salah seorang rekan Arhan memberi jalan.
'Selamat atas acaranya,' katanya. 'Koleksimu menarik.'
'Terima kasih. Senang kalau kamu menyukainya.'
'Aku minta maaf kalau dulu pernah ikut membicarakanmu tanpa tahu kebenarannya.'
Shania berhenti sebentar. Ia tidak tahu apa tepatnya yang pernah dikatakan lelaki itu, tetapi ia menghargai permintaan maafnya. 'Terima kasih sudah mengatakannya. Semoga setelah ini kita bisa bicara berdasarkan apa yang kita lihat sendiri.'
Karyawan itu mengangguk. Shania meneruskan langkah tanpa menunggu Arhan mengatakan sesuatu. Namun ia merasakan keheningan singkat di belakangnya.
Arhan akhirnya bergerak setengah langkah, tetapi Atika menyentuh lengannya. 'Kita harus pulang setelah acara ini, kan?'
'Nanti,' jawab Arhan pendek.
Atika melepaskan tangannya. 'Kamu dari tadi memperhatikannya.'
Arhan mengalihkan pandangan. 'Aku sedang melihat acara.'
'Jangan bohong. Semua orang juga bisa melihat cara kamu menatap dia.'
'Atika, jangan mulai di sini.'
'Aku tidak mulai apa-apa. Aku cuma tidak nyaman melihat semua orang memuji dia, sementara kamu berdiri seperti ingin mengatakan sesuatu.'
Arhan tidak membalas. Ia tahu perasaan Atika tidak muncul tanpa sebab. Tetapi ia juga tidak bisa menyangkal bahwa ia terkejut melihat Shania begitu utuh di ruang itu. Atika menghela napas, lalu berjalan menjauh menuju koridor. Arhan tidak langsung mengejarnya.
Dari dekat meja sketsa, Shania melihat Atika pergi dan Arhan tetap berdiri. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dan tidak berniat mencari tahu. Ia merapikan kartu penjelasan yang hampir jatuh, lalu kembali menyambut pengunjung berikutnya.
Menjelang penutupan acara, Shinta menghampirinya. 'Kita tinggal beberapa menit lagi. Bagaimana rasanya?'
Shania mengamati ruang pameran yang kini dipenuhi orang-orang yang benar-benar melihat karyanya. 'Lelah, gugup, dan lega. Semuanya sekaligus.'
'Kamu sudah melewati hari ini dengan baik.'
'Aku tidak perlu menjadi orang lain agar mereka menghargai pekerjaanku.' Shania tersenyum tipis. 'Aku ingin mengingat itu.'
Ketika pengunjung terakhir mulai keluar, seorang karyawan kembali menyampaikan selamat kepadanya. Shania mengucapkan terima kasih dan menutup map sketsanya. Ia tidak tahu apa yang akan berubah setelah malam ini, tetapi ia tahu cara orang memandang dirinya mulai bergeser, dan ia tidak perlu mengejar siapa pun untuk membuktikan nilainya.