Setelah pembukaan, pengunjung bergerak mengitari koleksi. Shania sedang menjelaskan fungsi potongan lengan pada salah satu blus ketika Yudha datang dari sisi area toko. Ia mengenakan pakaian kerja dan membawa map tipis. Begitu melihat Shania, ia tersenyum lebar.
'Shania, selamat. Aku baru sempat datang setelah menyelesaikan urusan di kantor.'
'Terima kasih, Pak Yudha. Saya senang Bapak bisa mampir.'
Yudha menjabat tangannya dengan hangat, lalu menoleh kepada Shinta. 'Karyanya menarik. Penataan acaranya juga rapi.'
'Terima kasih. Shania yang banyak mengurus detail rancangan,' kata Shinta.
Yudha kembali memandang Shania. 'Aku tahu kamu punya ketekunan. Melihat hasilnya langsung membuatku semakin yakin. Kamu pantas mendapat ruang untuk menunjukkan kemampuanmu.'
Kalimat itu terdengar cukup jelas untuk didengar karyawan yang berdiri dekat mereka. Seorang dari kelompok Arhan, yang sebelumnya masih tampak canggung, memandang Yudha lalu Shania. Yudha tidak sedang memberi pujian kosong; ia menyampaikan penghargaan terbuka di tempat kerja mereka.
'Saya masih banyak belajar,' kata Shania. 'Tapi saya senang bisa menyelesaikan koleksi ini bersama tim.'
'Sikap mau belajar itu bagus. Namun jangan mengecilkan hasil kerja sendiri. Kamu sudah menyelesaikan sesuatu yang bisa dilihat dan dinilai orang.'
Shinta tertawa kecil. 'Saya sudah bilang begitu dari kemarin. Mungkin sekarang Shania percaya karena Bapak ikut mengatakannya.'
'Saya percaya karena saya melihat sendiri,' jawab Yudha. 'Dan karena saya tahu bagaimana dia bekerja.'
Di belakang, Arhan berhenti berbicara dengan rekannya. Ia menoleh tepat ketika Yudha masih berdiri di sisi Shania. Rahangnya menegang. Bukan hanya karena Yudha berbicara dengannya, tetapi karena sikap hangat itu tampak wajar dan terbuka, tanpa perlu disembunyikan.
Arhan menunduk ke gelas air di tangannya. Ia teringat bagaimana dulu Shania pulang dengan rancangan kecil yang ingin ia tunjukkan, sementara ia menjawab seadanya tanpa benar-benar melihatnya. Kini orang lain memuji hasil kerjanya di depan banyak orang, dan ia tidak punya hak untuk menyela atau mengklaim pernah mendukungnya.
Yudha menyadari Arhan berada tak jauh. Ia tidak mengubah ekspresi dan tidak menjadikan sapaan kepada Shania sebagai sindiran. Ia sekadar berbincang tentang acara, bertanya bagaimana prosesnya, lalu memuji ketelitian Shania dalam memilih bahan.
'Kamu mengerjakan semuanya di butik?' tanya Yudha.
'Sebagian besar. Saya membuat pola awal di rumah, lalu menguji bentuknya bersama Shinta. Ada beberapa bagian yang berubah setelah dicoba.'
'Berarti kamu tidak hanya menggambar, tapi juga memikirkan orang yang akan memakainya.'
***
'Itu yang saya usahakan. Saya ingin pakaian ini terasa ringan dan tidak merepotkan.'
Yudha mengangguk. 'Itu cara berpikir yang baik.'
Percakapan mereka berlangsung di tengah keramaian. Karyawan yang semula berbisik-bisik mulai ikut bertanya kepada Shania tentang rancangan lain. Ia menjawab satu demi satu, sementara Shinta sesekali menambahkan informasi mengenai butik. Tidak seorang pun meminta Shania menjelaskan status perkawinannya atau alasan ia datang bersama Shinta. Untuk pertama kalinya di ruangan itu, ia hanya dinilai dari apa yang ia kerjakan.
Atika muncul beberapa menit kemudian dari arah koridor. Ia datang sendiri, mengenakan pakaian yang rapi dan membawa tas kecil. Matanya langsung menemukan Arhan, tetapi saat melihat kelompok karyawan berkumpul di dekat Shania dan Yudha, langkahnya tertahan.
Shania menyadari kehadirannya ketika Atika melewati sisi meja. Mereka bertatapan singkat. Atika mengangkat dagu, lalu memberikan senyum tipis yang terlihat dipaksakan.
'Shania,' sapanya.
'Atika.' Shania membalas dengan tenang. 'Selamat datang.'
'Acaranya bagus.' Atika memandang busana yang dipajang. 'Kamu yang membuat desainnya?'
'Saya mengerjakannya bersama Shinta dan tim butik.'
Atika memaksakan senyum. 'Aku tidak menyangka kamu tertarik membuat baju.'
Shania tidak tersinggung, tetapi ia juga tidak merasa perlu meminta pengakuan. 'Aku memang menyukainya sejak dulu. Sekarang aku punya kesempatan untuk menekuninya lagi.'
Yudha mengangguk sopan kepada Atika. 'Selamat sore. Ini pameran yang dikerjakan Shania dan tim Flaws_Lovers. Hasilnya patut diapresiasi.'
'Iya, Pak,' jawab Atika singkat. Matanya bergerak ke arah karyawan-karyawan yang memperhatikan percakapan tersebut. Ia kemudian melihat Arhan yang masih berdiri beberapa meter jauhnya.
Arhan tidak segera menghampiri. Atika berjalan ke arahnya, tetapi sebelum sampai, seorang karyawan menyapa Shania dan meminta penjelasan tentang detail jahitan. Shania pun kembali bekerja, sementara Yudha memberi ruang agar ia bisa menjawab.
'Kamu baik-baik saja?' tanya Shinta pelan.
'Aku tidak ingin membuat acara ini tentang mereka,' jawab Shania. 'Aku cuma akan terus menjelaskan koleksi.'
'Itu pilihan yang tepat.'
***
Shania menatap kartu penjelasan dan menunjukkan jahitan bagian dalam kepada pengunjung. Ia berbicara tentang kenyamanan, ketahanan, dan proses revisi. Karyawan-karyawan yang semula datang hanya karena penasaran kini bertahan mendengarkan. Salah seorang bahkan meminta izin untuk mengambil foto manekin, lalu mengucapkan selamat kepadanya.
Yudha kembali menyapanya sebelum berpamitan. 'Teruskan kerja baikmu, Shania. Kalau kamu tekun, orang akan melihat hasilnya.'
'Terima kasih, Pak. Dukungan Bapak berarti untuk saya.'
'Kamu sendiri yang sudah mengusahakannya. Jangan lupakan itu.'
Ia kemudian menyapa Shinta dan pergi menuju koridor. Beberapa karyawan mengikuti dengan pandangan, lalu kembali berbincang tentang pameran. Shania menoleh sekilas ke arah Arhan. Ia melihat mantan suaminya menatapnya dengan rahang mengeras, tetapi ia tidak mendekat.
Atika berdiri di samping Arhan, wajahnya sukar dibaca. Untuk pertama kalinya sejak datang, ia tampak tidak tahu harus berkata apa. Shania mengalihkan pandangan ke koleksi yang masih perlu ia jaga. Pameran itu belum selesai, dan pekerjaannya belum selesai pula.
Shinta menyentuh bahunya. 'Masih banyak yang perlu dibereskan. Kita lanjut, ya?'
'Iya,' kata Shania. Ia berdiri di depan pengunjung berikutnya, sementara suara percakapan di ruangan itu berangsur kembali mengitari karya yang dipajang.
Seorang pengunjung lain mendekat bersama temannya. Mereka membaca kartu nama di samping sketsa lalu bertanya apakah Shania bersedia menjelaskan perbedaan dua bahan. Ia menerangkan mana yang lebih ringan dan mana yang lebih kokoh, lalu mengakui bahwa pilihan akhir bergantung pada kebutuhan pemakai.
'Kalau saya ingin memesan model seperti ini, bagaimana caranya?' tanya pengunjung itu.
Shinta menjawab bahwa ia dapat menghubungi butik untuk membicarakan ukuran dan bahan. Shania menambahkan, 'Kami akan mendengarkan dulu kebutuhan pemakainya. Rancangan bisa disesuaikan, tetapi kami tidak ingin menjanjikan sebelum mengukur dan membicarakannya dengan jelas.'
Pengunjung itu tersenyum. 'Saya suka karena kalian tidak asal menjanjikan.'
Sesudah mereka pergi, Shania menulis singkat pertanyaan yang muncul pada kertas kecil agar bisa menjadi bahan evaluasi. Ia ingin mengingat bagian mana yang membuat orang tertarik dan penjelasan mana yang masih perlu diperjelas.
'Kamu sudah mulai membuat catatan lagi?' tanya Shinta.
'Ini berguna untuk rancangan berikutnya. Tadi ada yang bingung soal perawatan kain. Mungkin kita bisa membuat petunjuk lebih mudah dibaca.'
'Ide bagus.'
Shania merasa bangga bukan karena semua hal berjalan tanpa cela, melainkan karena ia mampu melihat kekurangan tanpa menganggapnya sebagai kegagalan. Ia mengusulkan kepada petugas agar kartu informasi diletakkan sedikit lebih tinggi. Setelah posisi diperbaiki, pengunjung dapat membacanya tanpa harus membungkuk.