Menjelang sore, pengunjung mulai memenuhi area pameran. Shania berdiri dekat meja rancangan ketika suara percakapan dari arah pintu membuatnya menoleh. Beberapa karyawan Megah Depertemen Store masuk bersama-sama. Di antara mereka ada Arhan, mengenakan kemeja kerja dan tanda pengenal. Ia berhenti sejenak ketika melihat Shania, lalu menunduk kecil sebagai salam.
Shania membalas dengan anggukan sopan. Ia tidak meninggalkan tempatnya dan tidak berusaha membaca arti kedatangan Arhan. Acara itu berlangsung di tempat kerja Arhan; kehadiran mantan suaminya bukan alasan untuk mengubah rencana.
'Kamu kenal mereka?' bisik Shinta.
'Mereka rekan kerja Mas Arhan,' jawab Shania lirih. 'Aku pernah bertemu beberapa.'
'Kamu mau aku tetap di sini?'
'Aku baik-baik saja. Kita fokus pada pameran.'
Karyawan-karyawan itu berhenti di dekat manekin. Salah satu dari mereka memandang gaun sederhana dengan potongan lurus, lalu mencari nama perancang di kartu kecil. Ia membaca nama Shania, mengangkat wajah, dan kembali memandang perempuan yang berdiri di samping meja.
'Jadi ini rancanganmu?' tanyanya, kali ini lebih jelas.
'Sebagian besar konsepnya saya kerjakan, lalu Shinta membantu proses produksi dan penyempurnaannya,' jawab Shania. 'Yang ini dibuat supaya nyaman dipakai seharian. Bagian pinggangnya tidak kaku dan lengannya mudah digerakkan.'
Karyawan itu mengamati detailnya. 'Saya kira...' Ia terhenti dan melirik temannya.
Temannya menyikut ringan. 'Kira apa?'
'Tidak apa-apa. Aku cuma belum pernah lihat langsung.' Ia berdeham. 'Hasilnya bagus.'
Ucapan itu terdengar tulus meski canggung. Shania tersenyum sekadarnya. Ia tahu sebagian orang di tempat kerja Arhan mungkin mengenal dirinya melalui cerita yang tidak pernah ia pilih. Ia juga tahu penampilan rapi dan gaun yang dikenakannya hari itu dapat mengejutkan mereka yang dulu membayangkannya berbeda.
***
Arhan berdiri beberapa langkah di belakang kelompok tersebut. Ia mendengar percakapan itu tanpa ikut campur. Tatapan beberapa karyawan beralih dari rancangan ke Shania. Ada bisik-bisik yang segera diredam, tetapi cukup untuk membuatnya memahami bahwa mereka baru menyadari perempuan yang selama ini menjadi bahan cerita di kantor ternyata memiliki dunia dan kemampuan sendiri.
Shinta mendekati meja dan mengangkat satu kartu penjelasan. 'Shania, kamu bisa ceritakan inspirasi koleksi ini sebelum pembukaan?'
Shania mengangguk, lalu berdiri di depan pengunjung. 'Rancangan ini berangkat dari kebutuhan pakaian yang sederhana, tapi tetap membuat pemakainya merasa nyaman. Saya ingin potongannya tidak membatasi gerak. Kainnya juga dipilih supaya mudah dirawat. Bagi saya, pakaian yang baik bukan hanya terlihat menarik di gantungan. Orang yang memakainya harus merasa menjadi dirinya sendiri.'
Seorang pengunjung bertanya tentang pilihan warna. Shania menjelaskan bahwa ia memilih warna lembut agar busana mudah dipadukan, lalu menunjukkan contoh kain dan sketsa awal. Pertanyaan berikutnya datang tentang detail jahitan. Ia menjawab tanpa tergesa, menunjukkan garis pola yang ia sederhanakan setelah uji coba pertama.
'Jadi desain ini beberapa kali berubah?' tanya seorang pengunjung.
'Iya. Bagian bahunya sempat terlalu berat. Saya mengubah polanya supaya lebih ringan. Kalau rancangan tidak nyaman saat dicoba, saya harus berani memperbaikinya.'
Shinta menyela dengan senyum bangga. 'Itu salah satu hal yang saya suka dari cara kerja Shania. Dia tidak mempertahankan sesuatu hanya karena sudah telanjur dibuat.'
Beberapa orang tertawa kecil, suasana menjadi cair. Karyawan yang tadi ragu kembali memperhatikan sketsa. Ia bertanya tentang kemungkinan ukuran lain. Shania menjelaskan bahwa pola dapat disesuaikan melalui proses ukur dan diskusi, tetapi ia tidak menjanjikan perubahan yang belum dibicarakan dengan tim.
'Kamu dulu kelihatannya pendiam sekali,' kata karyawan itu. 'Aku tidak menyangka kamu yang menjelaskan semua ini.'
Shania menatapnya dengan tenang. 'Saya memang tidak banyak bicara kalau belum tahu apa yang perlu disampaikan. Tapi kalau tentang pekerjaan, saya bisa menjelaskannya.'
Karyawan itu tampak malu. 'Maaf kalau terdengar menilai.'
'Tidak apa-apa. Semoga rancangan ini bisa menjawab rasa penasaranmu.'
Di belakang mereka, Arhan mengatupkan rahang. Ia mengenali cara Shania berbicara: tenang, jelas, tanpa merendahkan dirinya sendiri. Dulu, ia jarang memberi kesempatan pada Shania untuk menjelaskan apa yang disukainya. Ia sering memutuskan bahwa diam berarti tidak punya pendapat. Kini ia menyaksikan orang-orang mendengarkan Shania karena mereka tertarik pada hasil kerjanya.
***
Ketika acara pembukaan dimulai, Shinta menyampaikan pengantar singkat tentang butik dan kerja sama mereka. Ia lalu memperkenalkan Shania sebagai perancang yang berkontribusi pada koleksi tersebut. Tepuk tangan terdengar. Shania berdiri di sampingnya, tidak bersembunyi dan tidak pula mengambil pujian yang bukan miliknya.
'Terima kasih sudah datang,' kata Shania. 'Saya berharap rancangan ini membuat kalian merasa nyaman dan percaya diri.'
Tatapan Arhan menetap padanya. Ia melihat bagaimana Shania tersenyum kepada pengunjung, bagaimana orang-orang mendekat untuk bertanya, dan bagaimana ia menjawab dengan wibawa yang tak pernah ia lihat ketika mereka tinggal bersama. Ada rasa sesak yang sulit ia beri nama.
Seorang karyawan membisikkan sesuatu kepada temannya. 'Aku dulu dengar cerita yang berbeda tentang dia.'
'Mungkin kita seharusnya tidak cepat percaya cerita orang,' jawab temannya.
Arhan mendengar kalimat itu. Ia tahu cerita siapa yang dimaksud, dan ia tidak bisa berpura-pura tak punya andil dalam terbentuknya penilaian tersebut. Ia melangkah sedikit ke samping ketika pengunjung bergerak, namun matanya tetap mengikuti Shania.
Shania tidak mencari tatapannya. Ia sedang menunjukkan kepada seorang pengunjung bagaimana kain jatuh ketika dikenakan. Percakapan itu berjalan hangat dan profesional. Setiap kali seseorang memuji hasil kerjanya, ia menerima dengan ucapan terima kasih, bukan dengan menyangkal kemampuannya.
Saat jeda acara, Shinta mendekat. 'Kamu tadi bagus sekali.'
'Aku cuma menjawab pertanyaan.'
'Dan kamu menjawab sebagai dirimu sendiri. Itu yang penting.'
Shania melihat ke sekeliling. Beberapa karyawan masih berdiri di dekat koleksi. Salah seorang mengangguk kepadanya dengan lebih ramah daripada sebelumnya. Ia membalas tanpa menaruh harapan berlebihan pada perubahan sikap yang baru dimulai.
Di ujung ruangan, Arhan menundukkan pandangan ketika Shania akhirnya menoleh ke arah kelompoknya. Salam mereka sudah cukup. Ia kembali menjadi bagian dari kerumunan, sementara Shania berbalik ke meja rancangan ketika seorang pengunjung mengajukan pertanyaan baru.
Pameran baru saja dibuka, tetapi percakapan tentang rancangan Shania sudah menyebar di antara para karyawan. Shania tidak mendengar semuanya. Ia memilih menjawab pertanyaan yang hadir di hadapannya dan membiarkan penilaian orang berubah melalui apa yang mereka saksikan sendiri.