Pagi itu, Shania turun dari mobil bersama Shinta tepat di depan Megah Depertemen Store. Ia menggenggam map rancangan sambil menatap pintu masuk yang sudah dihiasi kain warna gading dan hijau tua. Di balik kaca, beberapa pekerja sedang menggeser panel pajangan. Hari yang selama ini hanya hidup di dalam jadwal dan sketsanya akhirnya tiba.
'Kamu membawa semua catatan?' tanya Shinta.
'Map pola, daftar urutan, dan contoh kain. Aku juga bawa jarum dan benang cadangan.' Shania mengangkat tasnya. 'Kalau ada yang lepas, kita bisa memperbaikinya.'
Shinta tersenyum kecil. 'Bagus. Ingat, kita datang untuk bekerja. Kalau ada yang berubah, kita bicarakan, bukan panik.'
Seorang petugas acara menyambut mereka di pintu dan menunjukkan area pameran di lantai dasar. Ia mengenali Shinta sebagai pemilik butik, lalu meminta mereka memeriksa susunan gantungan sebelum gladi bersih. Shania memperkenalkan diri sebagai perancang yang mengerjakan beberapa busana bersama Shinta. Petugas itu memberikan denah panggung dan daftar urutan, lalu kembali mengatur kursi.
Shania mengamati ruang itu. Lampu putih terpasang di atas jalur pendek yang disediakan untuk peragaan. Beberapa manekin berjajar di sisi kanan, sementara meja kecil menampung sketsa dan contoh kain. Ruang itu tidak sebesar yang ia bayangkan, tetapi justru membuatnya merasa setiap orang akan melihat detail karyanya dari dekat.
'Kita mulai dari busana pertama,' kata Shinta. 'Cek kancing, kelim, lalu pastikan urutan tampilnya sesuai catatan.'
Mereka membuka sarung pelindung. Shania merapikan bahu sebuah blus, memastikan jahitan dalamnya tidak mengganggu. Ia kemudian memasang kartu kecil berisi penjelasan bahan dan gagasan rancangan. Setiap kali menemukan hal yang kurang tepat, ia mencatatnya dan memperbaiki sendiri.
Ketika mereka sedang menyesuaikan letak manekin, beberapa karyawan toko melintas membawa kotak. Salah seorang memperlambat langkah. Tatapannya berganti dari Shania ke rancangan yang sedang ia rapikan.
'Mbak Shania?' katanya ragu. 'Kamu yang mengerjakan desain ini?'
Shania berdiri dan membalas dengan sopan. 'Iya. Saya mengerjakannya bersama tim butik.'
Karyawan itu tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi memilih tersenyum tipis dan meneruskan pekerjaan. Dari ekspresinya, Shania merasa perempuan itu mengenal namanya dari cerita orang lain. Ia menahan diri untuk tidak menebak-nebak.
Shinta memperhatikan wajah sahabatnya. 'Kamu baik-baik saja?'
'Aku tidak tahu dia pernah mendengar apa tentangku.' Shania kembali merapikan kain. 'Tapi aku tidak datang untuk menjelaskan kehidupan rumah tanggaku.'
'Betul. Yang perlu kamu jelaskan hari ini adalah rancanganmu.'
Mereka meneruskan pemeriksaan. Pada busana kedua, peniti kecil tertinggal di bagian dalam lengan. Shania menemukannya sebelum ada model yang mengenakannya. Ia mengambilnya, lalu memeriksa posisi sambungan lengan dan bahu pada manekin sebelum model kembali mencoba mengangkat tangan dalam busana itu.
***
'Kalau bagian ini dibiarkan, jahitan bisa tegang,' katanya.
'Kamu teliti sekali,' ujar Shinta.
'Aku cuma tidak mau orang yang memakai baju ini merasa terkekang. Modelnya sederhana, tapi harus nyaman.'
Menjelang siang, gladi bersih dimulai. Mereka menyepakati langkah model dari sisi kiri, jeda di depan meja rancangan, lalu putar balik menuju ruang ganti. Shania membantu mengecek urutan dan memastikan setiap busana siap saat dipanggil. Ketika satu model salah mengambil pakaian, Shania menjelaskan dengan tenang tanpa menyalahkan siapa pun.
'Yang ini sesudah blus krem,' ujarnya sambil menunjuk kartu urutan. 'Kita ulang sekali lagi supaya nanti tidak bingung.'
Model itu mengangguk. 'Maaf, saya kira yang ini dulu.'
'Tidak apa-apa. Kita sedang gladi bersih. Lebih baik keliru sekarang daripada saat acara dibuka.'
Shinta menatapnya bangga, tetapi tidak memotong pekerjaannya. Shania mulai merasakan gugupnya berubah menjadi fokus. Ia bergerak dari satu titik ke titik lain, memperbaiki lipatan kain, mengingatkan posisi, dan menjawab pertanyaan tentang bahan.
Saat jeda, ia menatap ruang pameran yang mulai tertata. Di luar kaca, pengunjung belum ramai. Sore nanti, orang-orang akan datang dan melihat hasil kerja mereka. Ponselnya bergetar. Pesan Wati singkat: 'Ibu mendoakanmu. Tunjukkan hasil kerjamu dengan tenang.'
Shania membalas, 'Terima kasih, Bu. Gladi bersih berjalan lancar.'
Shinta menuangkan air ke gelas kertas. 'Kamu tadi tidak terlihat seperti orang yang takut dinilai.'
'Aku masih takut. Tapi aku tahu apa yang harus kukerjakan. Itu membantu.'
'Kamu tidak perlu punya jawaban sempurna untuk semua orang,' kata Shinta. 'Cukup jelaskan apa yang kamu tahu dan jujur kalau ada yang perlu dibicarakan lagi.'
Shania tersenyum. 'Aku akan ingat itu.'
Sebelum gladi bersih selesai, Shania memeriksa kembali daftar busana. Semua sudah berada pada urutan yang benar, kecuali satu kartu penjelasan yang jatuh di dekat meja. Ia memungutnya dan menaruhnya kembali.
'Sore nanti kita mulai dengan sambutan singkat,' kata Shinta. 'Kamu mau menjelaskan rancanganmu sendiri?'
***
Shania memandang sketsa yang terpajang. Ia menarik napas. 'Iya. Aku ingin menjelaskan bagian yang memang aku kerjakan.'
'Kalau begitu, nanti kita susun kalimatnya bersama.'
Petugas mulai menyiapkan pintu utama untuk pembukaan sore nanti. Dari kejauhan, Shania melihat beberapa karyawan toko berjalan menuju area acara. Ia merapikan lengan bajunya sendiri. Hari itu bukan ujian tentang apakah ia pantas dicintai seseorang. Ini kesempatan untuk berdiri di samping pekerjaan yang ia bangun kembali.
Shania menyisihkan beberapa menit untuk memastikan jalur keluar model tetap kosong. Ia meminta izin kepada petugas agar satu panel digeser sedikit, sebab ujungnya hampir menyentuh gantungan. Petugas membantu memindahkannya, lalu Shania berjalan melewati jalur itu sekali lagi.
'Sekarang lebih aman,' katanya.
'Kamu memikirkan sampai detail kecil,' kata Shinta.
'Aku pernah melihat kain tersangkut saat orang berjalan. Aku tidak mau kejadian itu mengganggu acara kita.'
Shinta mengamati sketsa yang ditempel di meja. 'Kamu juga harus menyiapkan dirimu. Saat orang bertanya, jangan merasa setiap jawaban harus sempurna.'
'Aku akan mencoba. Kalau tidak tahu, aku akan bilang perlu memeriksa dulu.'
'Nah, begitu.'
Sebelum mereka meninggalkan area untuk makan, Shania mengambil foto susunan busana sebagai catatan. Ia juga menyimpan nomor urutan di ponselnya. Bukan karena takut lupa, melainkan supaya ia dan Shinta bisa saling mengingatkan bila suasana ramai. Mereka membicarakan pembagian tugas: Shinta menjaga sisi ruang ganti, sementara Shania memastikan koleksi dan penjelasannya siap.
'Kita pakai catatan ini pada pengulangan terakhir,' ujar Shinta.
Shania mengangguk. 'Baik. Sesudah makan kita periksa urutannya sekali lagi.'
Gladi bersih terakhir dimulai setelah mereka makan siang ringan di ruang persiapan. Shania berdiri di sisi panggung dengan catatan di tangan. Ia memberi aba-aba saat busana pertama dibawa keluar, lalu memastikan model kembali tanpa tersangkut kabel. Shinta berdiri di dekatnya dan sesekali memberi isyarat pada petugas lampu.
Ketika urutan terakhir selesai, Shania mengembuskan napas panjang. 'Sepertinya kita siap.'
'Kita siap,' jawab Shinta. 'Sekarang tinggal menyambut orang-orang.'
Shania melirik pintu yang mulai ramai. Di antara pengunjung pertama, ia melihat seragam karyawan Megah Depertemen Store. Ia belum tahu bagaimana mereka akan menanggapi dirinya, tetapi ia sudah tahu bagaimana ia akan menanggapi dirinya sendiri: dengan hormat.