Pagi berikutnya, sehari menjelang pameran, butik dipenuhi gulungan kain dan pola yang sudah diberi tanda. Pameran di Megah Depertemen Store semakin dekat. Shania datang membawa buku sketsa, lalu langsung memeriksa prototipe yang mereka jahit dari kain uji. Dua busana lain telah selesai dijahit tim butik dari bahan yang dipilih pada hari-hari sebelumnya. Shania kini memeriksa prototipe terakhir untuk koreksi kecil pada bentuk yang akan ditampilkan besok, bukan memulai seluruh koleksi dari pemilihan kain lagi.
Shinta menunggunya di meja kerja. 'Aku sudah mencoba prototipe ini. Bagian lengan terasa lebih leluasa, tapi kerahnya masih agak kaku.'
'Aku juga merasakannya waktu duduk. Kita bisa turunkan sedikit garis kerahnya.'
'Kalau diturunkan, bentuknya akan lebih sederhana.'
'Justru itu yang aku inginkan. Tidak semua busana harus ramai supaya terlihat berkelas.'
Shinta mengangguk. 'Baik. Kita ubah sedikit, lalu aku minta tim memperbaiki contoh terakhir yang baru dicoba ini. Kamu masih punya waktu sebelum gladi bersih.'
Shania memeriksa jahitan dengan jari. Ia bangga melihat garis yang kemarin hanya ada di kertas kini menjadi pakaian yang bisa disentuh. Namun ia tidak ingin terburu-buru menganggapnya berhasil. Ia dan Shinta berdiskusi tentang warna, ukuran, serta urutan busana yang akan ditampilkan. Setiap keputusan harus sejalan dengan gagasan utama: perempuan bisa merasa nyaman dan pantas tampil tanpa harus memenuhi standar tubuh tertentu.
'Kita gabungkan dua warna dalam satu busana untuk model ini?' tanya Shinta.
'Dua dulu. Kalau terlalu banyak, pesannya jadi tidak fokus.'
'Kamu mulai berani mengatakan tidak pada ide yang tidak perlu.'
Shania tersenyum. 'Aku sedang belajar bahwa mengurangi sesuatu juga bagian dari mendesain.'
Shinta menyerahkan lembar pola yang telah ia periksa. 'Kamu mau menampilkan ketiganya dalam urutan apa?'
Shania membandingkan catatan setiap rancangan. Ia memilih membuka dengan potongan paling sederhana, lalu menampilkan model dengan detail lebih tegas sebagai bagian tengah. Rancangan terakhir akan memakai warna yang lebih hangat agar penutupnya terasa akrab.
'Aku ingin orang melihat bahwa tiap desain punya kegunaan berbeda,' katanya. 'Bukan sekadar tiga pakaian yang sama dengan warna lain.'
'Kalau begitu kita perlu jelaskan benang merah koleksinya saat gladi.'
'Aku bisa menjelaskannya. Mungkin masih gugup, tapi aku tahu kenapa aku membuatnya.'
***
Mereka bekerja sampai siang. Shinta melayani urusan butik, sementara Shania memeriksa kembali catatan ukuran. Ia berhenti untuk makan ketika Shinta mengingatkannya. Dulu ia sering lupa kebutuhan sendiri karena terlalu sibuk memastikan orang lain senang. Kini ia berusaha tidak mengulang kebiasaan itu, terutama saat bekerja untuk sesuatu yang ia pilih sendiri.
Menjelang sore, versi perbaikan contoh terakhir selesai diperiksa. Shania mengenakannya sebentar dan berjalan beberapa langkah di ruang kerja. Potongannya terasa lebih ringan. Ia mengangkat tangan, duduk, lalu membungkuk mengambil pensil yang jatuh. Kain itu tidak menahan geraknya.
'Yang ini sudah mendekati bayanganku,' katanya.
Shinta mengamati jatuhnya lengan. 'Aku setuju. Kita masih perlu menyesuaikan ukuran lain, tapi pola dasarnya sudah aman.'
'Aku ingin menguji satu ukuran lagi pada contoh ini sebelum kita mengemas ketiga busana.'
'Kita lakukan. Jangan sampai nanti ada orang merasa rancangan ini hanya dibuat untuk satu bentuk tubuh.'
Shania menuliskan keputusan tersebut. Ia lalu menegaskan kembali tiga rancangan yang sudah disiapkan untuk dibawa ke pameran. Beberapa sketsa lain masih bisa dikembangkan pada kesempatan berbeda, tetapi ia tidak harus memaksakan semuanya masuk ke koleksi pertama.
Saat mereka merapikan meja, Shinta mengeluarkan daftar kebutuhan untuk gladi bersih. 'Besok kita harus membawa contoh, susunan busana, dan catatan ukuran. Tempatnya sudah dikonfirmasi pihak Megah Depertemen Store.'
Shania merasakan gugup menjalar sampai ke ujung jarinya. 'Besok kita sudah mulai menata di sana?'
'Kita mulai gladi bersih. Pembukaan pamerannya besok sore setelah gladi bersih. Aku tahu ini cepat, tapi kita sudah menyiapkan banyak hal.'
Shania membaca daftar itu. Ada beberapa kebutuhan teknis yang belum ia pikirkan, seperti urutan keluar-masuk model dan letak lampu. Ia tidak merasa takut pada pekerjaannya, tetapi berdiri di tempat umum dengan karya sendiri terasa jauh lebih besar daripada menggambar di meja butik.
'Kalau nanti aku gugup dan salah bicara?' tanyanya.
'Kamu tidak perlu berpidato panjang. Ceritakan saja alasan di balik rancanganmu. Aku akan ada di sampingmu.'
'Aku tidak ingin hanya berdiri bersembunyi di belakangmu.'
Shinta tersenyum. 'Kamu tidak akan bersembunyi. Tapi kita juga tidak akan memaksamu menjadi orang lain.'
***
Shania menarik napas dan memasukkan sketsa ke dalam map. Ia belum tahu siapa saja yang akan melihat hasil karyanya. Yang ia tahu, ia telah melewati beberapa hari bekerja dengan tekun dan tidak lagi menunggu persetujuan Arhan sebelum merasa bangga.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Wati berbunyi, 'Semoga persiapan pamerannya lancar, Nak. Ibu bangga padamu.' Shania membalas ucapan terima kasih, lalu menyimpan ponsel.
'Besok kita bawa semua perlengkapan lebih awal,' kata Shinta. 'Jangan sampai ada yang tertinggal.'
'Aku akan cek malam ini.'
Shania memasukkan pola, catatan, dan satu kain contoh ke dalam tas. Ia meninjau daftar perlengkapan sekali lagi dan meminta Shinta memastikan satu map ukuran sudah termasuk. Shinta memeriksanya bersama, lalu mengikat map-map itu agar tidak terlepas selama perjalanan.
'Kita sudah menyiapkan semuanya,' kata Shinta. 'Besok tinggal datang dan bekerja dengan tenang.'
'Aku akan berusaha.'
Malamnya, Shania membawa map itu pulang dengan kedua tangan. Di ruang tengah Arhan sedang membaca berkas kantor, tetapi ia berhenti ketika melihat kain contoh yang menyembul dari tasnya.
'Besok gladi bersih dan pamerannya?' tanyanya.
'Besok gladi bersih dan pembukaannya sore.'
'Kamu sudah siap?'
'Aku sudah menyiapkan rancangan dan catatan. Sisanya akan kami atur bersama di sana.'
Arhan menatap map itu, lalu kembali memandang wajahnya. 'Aku harap semuanya berjalan lancar.'
'Terima kasih.'
Ia tidak menawarkan bantuan atau bertanya siapa yang akan datang. Shania juga tidak merasa perlu mengundangnya. Mereka bertukar kalimat singkat, kemudian ia membawa map ke kamar agar kainnya tidak kusut. Di balik pintu, ia memeriksa daftar perlengkapan sekali lagi. Ada gugup yang belum hilang, tetapi ia tahu besok ia akan berdiri di tempat itu sebagai desainer, bukan sebagai istri yang menunggu penilaian Arhan.
Shania membuka tasnya sekali lagi dan memastikan semua catatan berada di tempatnya. Ia meletakkan map di meja, lalu menunaikan salat sebelum tidur. Dalam doanya, ia meminta ketenangan agar besok bisa menyampaikan alasan di balik karyanya dengan jujur. Ia belum tahu bagaimana orang-orang akan menanggapi rancangan itu, tetapi ia tidak ingin kembali menyembunyikannya karena takut dinilai.
Saat mematikan lampu, ia mengingat pesan Wati dan dukungan Shinta. Ia akan datang ke pameran sebagai dirinya sendiri, membawa karya yang ia pilih dan perjuangkan. Apa pun tanggapan orang, keputusan untuk berdiri di samping desainnya sudah menjadi langkah yang tak bisa diambil darinya.