Hari berikutnya, Arhan pulang lebih awal dari kantor. Rumah menyambutnya dengan sunyi yang sama. Ia meletakkan kunci di meja dan melihat dua piring bersih tersusun di rak. Satu piring yang dipakai Shania untuk sarapan sudah dicuci sendiri, sedangkan piringnya masih berada di bak. Ia mengambilnya dan mencuci tanpa menunggu Shania keluar kamar.
Air mengalir di bawah keran. Arhan memandangi busa sabun yang menutupi piring, lalu teringat bertahun-tahun Shania melakukan pekerjaan itu tanpa pernah meminta terima kasih. Ia berhenti sejenak ketika mendengar suara pintu kamar dibuka.
Shania keluar membawa map. 'Mas sedang mencuci piring?'
Arhan menoleh. 'Iya. Piringku sendiri.'
'Bagus. Aku mau pergi sebentar ke butik.'
'Kamu belum makan?'
'Nanti aku makan di sana.'
Arhan hendak menawarkan untuk mengantar, tetapi menahan diri. 'Hati-hati.'
'Iya.'
Shania berangkat tanpa percakapan panjang. Arhan menyelesaikan piringnya, lalu mendapati ia tidak punya alasan untuk bertahan di rumah yang terasa asing. Ia mengirim pesan kepada Atika, menanyakan apakah perempuan itu ada di apartemen. Atika menjawab singkat bahwa ia ada dan meminta Arhan datang.
Sebelum berangkat, Arhan berdiri sebentar di ambang pintu. Ia tidak ingin terus menebak keadaan Atika tanpa menemuinya. Setiap orang punya kebiasaan dan batas yang berbeda. Namun ia juga bertanya pada dirinya sendiri apakah hubungan mereka selama ini sungguh dibangun dari keinginan untuk hidup bersama, atau hanya dari perasaan lama yang ia simpan sejak sebelum menikah.
Ia belum menemukan jawaban. Karena itu, ia memilih datang dan berbicara langsung, bukan terus membuat kesimpulan sendirian.
Apartemen Atika tampak berbeda dari rumah yang ia tinggalkan. Begitu pintu terbuka, Arhan melihat beberapa gelas di meja ruang tamu, pakaian menumpuk di kursi, dan kotak makanan belum dibuang di dekat sofa. Atika duduk dengan ponsel di tangan, tidak beranjak menyambut.
'Kamu baru pulang?' tanyanya.
'Aku ke sini setelah kerja.'
***
'Aku kira kamu datang lebih cepat. Aku sudah bosan sendirian.'
Arhan meletakkan tas. Matanya kembali menyapu ruangan. 'Kamu belum sempat merapikan?'
Atika mengangkat bahu. 'Nanti juga kubereskan. Aku lagi tidak ingin melakukan apa-apa. Kamu mau minum? Gelas bersih mungkin masih ada di dapur.'
Arhan tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke dapur, menemukan piring kotor di bak, lalu mengambil satu gelas yang masih bersih. Dapur itu tidak hanya berantakan; tidak ada bahan makanan yang tertata, dan meja dipenuhi barang kecil.
'Kamu kelihatan capek,' kata Atika dari ruang tamu. 'Duduklah. Jangan malah memeriksa rumahku.'
Arhan kembali membawa air. 'Aku tidak memeriksa. Aku cuma melihat.'
'Lalu? Mau membandingkan aku dengan Shania?'
Pertanyaan itu membuat Arhan terdiam. Ia memang membandingkan, meskipun tidak ingin mengakuinya. Rumahnya sendiri juga sunyi, tetapi setidaknya dulu Shania menjaga rumah dengan penuh perhatian. Di apartemen Atika, ia tidak melihat kebiasaan saling mengurus yang selama ini ia anggap sepele.
'Aku tidak bilang begitu,' jawabnya akhirnya.
Atika mendengus. 'Tapi kamu memikirkannya. Kamu datang ke sini hanya karena rumahmu kosong, kan?'
'Aku datang karena ingin bertemu kamu,' kata Arhan. 'Tapi aku memang membandingkan suasana di sini dengan rumah. Itu tidak adil untukmu.'
'Aku tidak mau dinilai seperti aku harus menjadi Shania,' jawab Atika. 'Aku bukan istrimu dan aku tidak pernah berjanji akan mengurus rumahmu.'
'Aku tahu. Aku tidak meminta kamu merapikan apa pun. Aku baru sadar betapa banyak hal yang dulu dilakukan Shania tanpa pernah kutanyakan apakah dia lelah.'
Atika menatapnya. 'Kalau kamu terus membicarakan dia, kita tidak akan punya percakapan sendiri.'
Arhan menunduk. 'Kamu benar. Aku perlu berhenti membandingkan dan mulai jujur pada diriku. Aku datang karena ingin bersamamu, tapi aku juga harus mengakui bahwa aku belum memahami apa yang kita harapkan dari hubungan ini.'
***
'Aku tidak ingin membahas masa depan malam ini. Aku hanya ingin kamu duduk dan menemaniku sebentar.'
'Baik. Aku bisa melakukan itu tanpa menuntutmu menjadi orang lain.'
Atika menghela napas dan menaruh ponselnya. 'Kalau begitu, duduklah. Kita pesan makan.'
Arhan mengangguk. Ia memesan dua porsi sederhana, lalu menaruh ponsel di meja. Sambil menunggu, ia bercerita bahwa ia salah memasukkan jadwal kerja dan Ardi menegurnya. Atika mendengarkan, tetapi beberapa kali matanya kembali ke layar ponsel.
'Kamu benar-benar berubah sejak rumah tanggamu berakhir,' katanya.
'Aku baru mulai melihat hal-hal yang dulu kuabaikan.'
'Jangan jadikan aku tempat membicarakan semua kekuranganmu sebagai suami,' kata Atika. 'Aku bukan orang yang bisa menyelesaikan masalahmu dengan Shania.'
'Aku tidak meminta kamu menyelesaikannya. Aku hanya sedang mencoba memahami diriku sendiri.'
Pesanan mereka tiba. Mereka makan sambil membicarakan hal-hal ringan tentang hari itu. Arhan berusaha hadir dalam percakapan, tetapi ia menyadari pikirannya mudah kembali ke rumah. Setelah makanan habis, ia membantu mengumpulkan kotak dan membuangnya ke tempat sampah.
'Aku akan pulang,' katanya. 'Aku masih perlu membaca proposal untuk besok.'
Atika mengangkat bahu. 'Baik. Aku tidak akan menahanmu. Tapi lain kali, datanglah karena ingin bertemu denganku, bukan karena rumahmu terasa kosong.'
Arhan menerima teguran itu tanpa membantah. Ia memang perlu membedakan keduanya.
Ia mengucapkan selamat malam lalu keluar. Di lorong apartemen, ia berhenti sebentar sebelum menuju lift. Ia tidak merasa marah kepada Atika karena tempat itu berantakan; ia sadar hubungan mereka tidak pernah dibangun dengan pembagian tanggung jawab seperti rumah tangga. Yang mengguncangnya adalah kenyataan bahwa ia dulu menerima ketekunan Shania tanpa menganggapnya sebagai sesuatu yang berharga.
Perjalanan pulang terasa lama. Arhan tidak mengirim pesan kepada Shania atau meminta penjelasan tentang kegiatannya. Ia tahu ia tidak berhak mencari penghiburan dari orang yang baru saja ia lukai. Saat sampai di rumah, lampu kamar Shania sudah padam. Ia berhenti di lorong dan hampir mengetuk, tetapi tidak menemukan alasan yang pantas.
Ia masuk ke ruang kerja, membuka proposal yang harus dibaca untuk esok hari, dan memaksa dirinya menuntaskan beberapa halaman. Rumah itu tetap sunyi, tetapi kini ia tidak berusaha lari dari kesunyian dengan mengunjungi orang lain. Ia harus menghadapi konsekuensi talak dan kebiasaannya sendiri, satu demi satu.