Keesokan paginya, Arhan membaca ulang pesan yang ia kirim kepada Shania setelah Wati memberi tahu bahwa mereka sudah makan siang bersama. Shania belum menjawab. Ia baru saja tiba di kantor Megah Depertemen Store dan melihat berkas persiapan acara menumpuk di mejanya. Pikirannya masih tertahan pada kabar bahwa Shania mengunjungi Wati. Ia merasa tidak nyaman karena ibunya tidak memberitahunya, namun ia tahu dirinya tak berhak melarang mereka bertemu.
Ardi masuk ke ruang kerja sambil membawa salinan proposal. 'Kamu sempat membaca bagian jadwal vendor?'
Arhan mengangkat wajah. 'Belum. Ada masalah?'
'Ada dua tanggal yang tidak cocok dengan pemakaian ruang. Aku sudah minta kamu memeriksanya kemarin.'
Arhan membuka dokumen. Memang ada kesalahan pada tanggal pemasangan perlengkapan. Ia mengusap kening, berusaha menahan kekesalan pada diri sendiri. 'Aku akan perbaiki sekarang.'
'Ini bukan yang pertama kali. Minggu lalu anggaran promosi juga tertukar. Dulu ada rekan yang memeriksa pekerjaan tim sebelum diserahkan. Sekarang kamu harus betul-betul meninjaunya, bukan membaca berkas setengah-setengah.'
'Aku sedang banyak urusan.'
Ardi menarik kursi. 'Urusan rumah tangga?'
Arhan menatapnya tajam. 'Jangan mulai.'
'Aku tidak sedang menghakimi. Tapi perhatianmu sekarang terpecah. Rekan yang selama ini menopang tim dipindahkan, sementara kamu membiarkan persoalan di rumah mengambil waktu memeriksa pekerjaan. Kamu perlu meminta peninjauan yang benar kepada rekan di kantor, bukan berharap urusan rumah selesai lebih dahulu.'
Arhan menutup berkas. 'Aku tidak pernah meminta dia mengurus pekerjaanku.'
'Jangan campuradukkan dua hal. Shania mengurus rumah dan kebutuhanmu tanpa kau hargai. Tapi angka serta jadwal acara ini tanggung jawabmu bersama tim. Rekan yang dulu menutupi kekuranganmu sudah pindah cabang. Sekarang kau harus mengerjakannya, bukan mencari alasan dari perpisahan.'
Arhan hendak membantah, tetapi layar di depannya memperlihatkan dua tanggal yang memang tidak cocok. Ia membuka catatan tim lama dan menemukan penjelasan yang belum dibacanya. Tidak ada pekerjaan Shania yang dapat ditagih untuk membetulkan angka itu. Ia sendiri yang harus memahami dokumen sebelum membubuhkan persetujuan.
***
'Dia sekarang bekerja di butik,' kata Arhan. 'Aku tidak ingin mengganggunya.'
'Bagus. Jangan ganggu. Tapi kamu juga harus berhenti mengharapkan dia tetap mengurusmu dari kejauhan. Kalau ada yang salah, tanggung sendiri dan bereskan.'
Kata-kata Ardi menusuk, tetapi Arhan tahu temannya tidak mengatakan itu untuk mempermalukannya. 'Aku akan koreksi jadwalnya.'
'Koreksi, lalu minta orang lain meninjau. Acara perusahaan ini penting. Jangan sampai Pak Raden menemukan kesalahan yang sebenarnya bisa kamu perbaiki.'
Arhan menatap jadwal di layar. 'Aku dulu merasa semua bisa beres kalau aku mendelegasikan bagian kecil. Ternyata aku bahkan tidak memeriksa hasil akhirnya.'
'Mendelegasikan bukan berarti lepas tangan,' kata Ardi. 'Kamu tetap harus tahu apa yang dikerjakan tim dan memastikan mereka punya informasi yang benar.'
'Aku tahu itu secara teori. Tapi selama ini ada banyak hal yang sudah siap sebelum aku sempat menyadarinya.'
Ardi menyandarkan siku ke meja. 'Itulah masalahnya. Kamu terbiasa menerima bantuan tanpa melihat siapa yang mengusahakannya. Jangan jadikan rasa kehilangan sebagai alasan untuk menyesal saja. Pakai itu untuk membenahi caramu bekerja.'
Arhan membaca ulang daftar tugas dan menandai bagian yang harus ia cek sendiri. 'Aku akan minta tim kirim pembaruan langsung kepadaku.'
'Lakukan. Jangan hanya berkata akan berubah karena kamu sedang merasa bersalah.'
Arhan mengangguk. Ia tidak nyaman mendengar teguran itu, tetapi ia tahu Ardi tidak bermaksud menyerangnya. Temannya memberinya jalan yang konkret: mengatur pekerjaan, bertanggung jawab, dan tidak menyerahkan beban kepada orang yang sudah ia sakiti.
Arhan menatap jam. Acara besar itu masih beberapa minggu lagi, tetapi persiapannya menuntut disiplin. Ia membuka ulang dokumen dan mulai membandingkan setiap tanggal dengan daftar penggunaan ruang. Ardi duduk di sampingnya tanpa mengambil alih pekerjaan.
Menjelang sore, Arhan menyelesaikan revisi jadwal dan menyerahkannya kepada Ardi untuk diperiksa. Mereka membandingkan angka satu per satu. Kali ini tidak ada tanggal yang tertukar.
'Begini lebih baik,' kata Ardi. 'Kamu bisa kembali teliti kalau benar-benar hadir di pekerjaanmu.'
Arhan bersandar. 'Aku tidak tahu harus bagaimana melihat semua yang sudah berubah. Shania masih tinggal di rumah itu, tapi rasanya dia semakin jauh. Ibuku juga tidak membalas pesanku soal makan siang kemarin.'
***
'Mungkin ibumu sedang ingin bertemu Shania tanpa membuatmu jadi pusat pembicaraan. Kamu sendiri pernah membuat keputusan tanpa memikirkan perasaan mereka. Beri mereka ruang.'
Arhan menunduk. 'Aku cuma ingin tahu mereka membicarakan apa.'
'Rasa ingin tahu bukan hak untuk mengatur. Kalau Shania ingin cerita, dia akan cerita. Fokus pada hal yang bisa kamu kendalikan.'
Arhan mengangguk pelan. Ia kembali ke berkas, tetapi rasa ingin tahunya tetap ada. Ia mencoba mengirim satu pesan lagi kepada ibunya, lalu menghapusnya sebelum terkirim. Tidak semua pertanyaan harus dijawab saat itu juga.
Saat ia hendak pulang, Ardi mengingatkan agar ia membawa proposal untuk dibaca di rumah. Arhan memeriksa halaman yang dimaksud Ardi, memasukkan proposal ke tas, lalu mencocokkan daftar berkas agar tidak ada bagian yang tertinggal di meja. Tindakan kecil itu terasa canggung, tetapi ia tahu belajar mengurus hidupnya sendiri memang harus dimulai dari hal sederhana.
Di rumah, ruang tengah kosong. Tidak ada suara pensil atau langkah Shania. Arhan meletakkan tas di kursi dan memandang ke arah dapur. Ia hampir memanggil namanya, lalu mengurungkan niat. Dari bawah pintu kamar terdengar suara halaman buku dibalik. Shania sedang bekerja, tetapi ia tidak tahu apakah perempuan itu bersedia ditemui.
Arhan mengetuk pelan. 'Shan, aku pulang.'
'Iya, Mas. Aku dengar.'
'Kamu sudah makan?'
'Sudah. Aku sedang menyelesaikan catatan.'
'Baik. Aku tidak akan mengganggu.'
Ada jeda pendek sebelum Shania menjawab, 'Terima kasih.'
Arhan menjauh dari pintu.
Ia menyiapkan makanan sederhana untuk dirinya dan membersihkan meja setelah selesai. Tidak ada yang melihat atau memujinya, dan ia mulai mengerti bahwa hal-hal seperti ini memang tidak seharusnya dilakukan demi mendapat pujian.
Di kamar, Shania mendengar langkahnya menjauh. Ia tidak merasa perlu menanyakan bagaimana hari Arhan. Ia membuka catatan desain, menulis bahwa pola bahu akan diuji lagi, lalu berhenti ketika matanya mulai lelah. Pekerjaan itu punya tenggat, tetapi ia tidak ingin mengorbankan kesehatannya untuk membuktikan dirinya kepada siapa pun. Di ruang lain, Arhan menyadari bahwa dulu kepeduliannya hanya berupa pertanyaan ketika ia merasa perlu. Sekarang ia ingin tahu keadaan Shania, tetapi tidak bisa menuntut jawaban panjang. Di ruang kerjanya, ia membuka proposal dan berusaha membaca. Namun rasa sepi di rumah terasa lebih keras daripada suara jam dinding.