Pagi itu Shania bersiap ke butik ketika ponselnya bergetar. Nama Wati muncul di layar. Ia sempat tertegun sebelum menerima panggilan, sebab ibu mertuanya jarang menghubungi sepagi itu.
'Assalamualaikum, Bu. Ada apa? Ibu sehat?'
'Waalaikumsalam, Nak. Ibu sehat. Kamu sedang bersiap kerja?'
'Iya, Bu. Tapi masih ada waktu.'
Wati terdiam sesaat. 'Ibu ingin mengajakmu makan siang. Cuma kita berdua. Ibu belum bilang Arhan. Ibu ingin bicara denganmu tanpa membuatnya merasa harus ikut campur. Kalau kamu tidak keberatan, datanglah ke rumah Ibu sekitar tengah hari.'
Shania memandang tas di tangannya. Ia masih memanggil Wati dengan sebutan Ibu, tetapi sejak talak ia tidak tahu apakah dirinya masih pantas datang sebagai menantu. 'Saya tidak keberatan, Bu. Saya senang Ibu menghubungi saya.'
'Jangan merasa harus datang karena sungkan. Ibu benar-benar ingin bertemu kamu.'
'Saya datang setelah menyelesaikan urusan di butik.'
Wati terdengar lega. 'Baik. Ibu tunggu. Hati-hati di jalan, ya.'
Setelah panggilan berakhir, Shania memegang ponsel sejenak. Ia ingin segera bercerita kepada Shinta, tetapi menyadari undangan itu bersifat pribadi. Ia memutuskan bertemu Wati dulu dan baru menceritakan seperlunya. Ada sedikit rasa khawatir: apakah Wati ingin membicarakan Arhan, atau justru meminta Shania mengalah demi keluarga? Ia berusaha tidak membuat kesimpulan sebelum mendengar sendiri.
Di butik, Shinta melihat wajahnya yang lebih banyak diam. 'Ada kabar?'
'Ibu Wati mengajakku makan siang di rumahnya. Katanya ingin bicara berdua.'
Shinta berhenti melipat kain. 'Kamu mau pergi?'
'Mau. Tapi aku belum tahu apa yang ingin dibicarakan.'
***
'Dengarkan dulu. Kamu boleh pulang kapan saja kalau merasa tidak nyaman.'
'Aku tahu. Beliau selalu baik padaku. Aku cuma takut pembicaraan ini kembali menjadi soal Arhan dan aku diminta menunggu.'
Shinta meraih tangannya. 'Kamu tidak perlu menyetujui sesuatu hanya karena beliau ibu mertuamu. Kamu bisa menyayangi beliau dan tetap menentukan hidupmu sendiri.'
Shania mengangguk. Ia menyelesaikan beberapa koreksi pola bersama Shinta, kemudian berpamitan menjelang tengah hari. Perjalanan ke rumah Wati terasa lebih panjang daripada biasanya. Rumah itu menyimpan banyak kenangan, dari hari-hari ketika ia baru menikah hingga saat Wati mengusir Arhan setelah mengetahui talak dan rencananya dengan Atika. Ia menarik napas sebelum mengetuk pintu.
Wati sendiri yang membukakan. 'Shania, masuk, Nak.'
'Assalamualaikum, Bu.'
'Waalaikumsalam. Kamu terlihat capek. Duduk dulu, makanan sudah Ibu siapkan.'
Mereka duduk di meja makan. Wati menyajikan sayur bening dan lauk sederhana yang dulu sering disukai Shania. Tak ada pertanyaan tentang Arhan pada awalnya. Wati bertanya tentang butik, rancangan yang sedang dikerjakan, dan apakah Shania cukup tidur.
'Saya sedang menyiapkan koleksi untuk pameran, Bu. Masih banyak yang harus diperbaiki, tapi saya ingin mengerjakannya sampai selesai.'
Wati tersenyum bangga. 'Ibu senang mendengarnya. Dulu kamu sering bercerita soal menggambar baju. Ibu kira setelah menikah kamu sudah tidak sempat lagi.'
'Saya memang lama berhenti. Sekarang saya mencoba kembali pelan-pelan.'
Wati menaruh sendoknya. 'Ibu mengundangmu diam-diam karena tidak ingin Arhan memakai pertemuan ini sebagai alasan untuk mendekatimu. Ibu ingin kamu tahu bahwa restu Ibu tidak bergantung pada apakah kamu kembali kepada anak Ibu atau tidak.'
Shania terdiam. Kata-kata itu membuat dadanya sesak, tetapi bukan karena terluka. 'Bu, saya masih menyayangi Ibu. Tapi saya belum tahu bagaimana perasaan saya terhadap Mas Arhan.'
Wati mengulurkan tisu, lalu menunggu sampai Shania siap melanjutkan. 'Ibu tidak akan pura-pura bahwa keputusan Arhan tidak melukai kamu. Ibu melihat sendiri bagaimana kamu berusaha menjaga rumah tangga itu. Tapi Ibu juga tidak ingin rasa bersalah membuatmu tinggal dalam hubungan yang sudah tidak kamu pilih.'
'Saya masih takut dianggap perempuan yang gagal mempertahankan pernikahan,' kata Shania. 'Orang bisa menilai saya tidak cukup sabar atau tidak cukup baik.'
'Orang hanya melihat dari luar. Mereka tidak menjalani hari-harimu. Kamu sudah berusaha dengan kemampuanmu. Pernikahan bukan tanggung jawab satu orang saja.'
***
Shania memegang tisu itu. 'Saya sering mengira kalau saya cukup patuh, Mas Arhan akhirnya akan menyayangi saya. Sekarang saya sadar, saya tidak bisa memaksa perasaan orang lain tumbuh dengan menghilangkan diri saya sendiri.'
Wati menghela napas. 'Ibu berharap kamu tidak perlu belajar itu dengan cara sesakit ini. Tapi Ibu bangga kamu mulai mengenali keinginanmu.'
'Saya ingin membuat karya sendiri, Bu. Saya ingin tahu apakah saya masih bisa menjadi desainer setelah lama berhenti.'
'Cobalah. Kalau berhasil, Ibu ikut senang. Kalau ada yang kurang, kamu belajar dan mencoba lagi. Kamu tidak perlu menjadi sempurna untuk pantas mendapat kesempatan.'
'Kamu tidak perlu memutuskan sekarang. Ibu tidak akan memintamu rujuk demi menyenangkan Ibu. Kamu berhak hidup baik, berkarya, dan memilih jalanmu sendiri. Kalau suatu hari kamu pergi dari rumah itu, jangan merasa sedang meninggalkan Ibu.'
Air mata Shania jatuh. 'Saya takut Ibu menganggap saya tidak tahu terima kasih.'
'Tidak, Nak. Kamu sudah memberi keluarga ini banyak hal. Ibu yang seharusnya berterima kasih karena kamu pernah menjadi bagian dari hidup kami.'
Shania mengusap pipi. 'Saya ingin menyelesaikan masa iddah dengan tenang. Setelah itu saya akan mencari tempat yang cocok dan melanjutkan pekerjaan.'
'Ibu mendukungmu. Kalau kamu membutuhkan bantuan untuk pindah atau sekadar ingin bicara, telepon Ibu. Tapi keputusan tetap milikmu.'
Makan siang mereka berlangsung tanpa terburu-buru. Wati tidak menanyakan Raka atau mengorek urusan pribadi Shania.
Sebelum Shania pamit, Wati mengemas sedikit buah untuk dibawa pulang. Shania sempat menolak karena tidak ingin merepotkan, tetapi Wati bersikeras bahwa itu hanya bekal sederhana.
'Ibu memang ingin tetap bisa merawatmu sesekali,' katanya. 'Tapi bukan berarti kamu harus membalas dengan kembali menjadi menantu yang selalu mengurus semua orang.'
Shania tertawa kecil. 'Saya akan berusaha mengingatnya, Bu.'
Saat Shania berpamitan, Wati memeluknya erat.
'Jaga kesehatanmu. Jangan lupa makan saat bekerja.'
'Iya, Bu. Terima kasih sudah memanggil saya.'
Setelah Shania pergi, Wati merapikan meja makan. Ia lalu mengirim pesan kepada Arhan bahwa mereka sudah makan siang bersama dan ia mendukung Shania melanjutkan pekerjaannya. Wati tidak meminta izin atau menyuruh putranya melakukan sesuatu; ia hanya ingin bersikap terbuka setelah percakapan itu selesai.
Dalam perjalanan kembali ke butik, Shania merasa beban yang ia bawa sedikit berkurang. Ia belum tahu kapan harus meninggalkan rumah Arhan, tetapi kini ia tahu tidak akan kehilangan kasih sayang Wati hanya karena memilih mandiri. Begitu tiba, sebuah pesan dari Arhan muncul di ponselnya: 'Ibu bilang kalian makan siang. Kalau kamu ingin bercerita, aku akan mendengarkan.'