Pagi berikutnya, Shania tiba di Butik Flaws_Lovers lebih awal daripada Shinta. Ia membawa buku sketsa dan daftar bahan yang sudah mereka susun. Rancangan pertama mulai terbentuk, tetapi masih ada beberapa potongan yang perlu diuji sebelum layak masuk pameran. Ia tidak ingin mengirim sesuatu hanya karena takut mengecewakan sahabatnya.
Shinta datang beberapa menit kemudian sambil membawa dua gelas teh. 'Kamu sudah mulai dari tadi?'
'Aku ingin memeriksa catatan kemarin. Bagian kerahnya masih terasa terlalu berat.'
Shinta meletakkan teh di meja. 'Pameran tinggal beberapa hari. Kita harus menentukan rancangan mana yang akan diselesaikan lebih dulu.'
'Aku tahu. Aku juga tidak mau membuatmu menunggu. Tapi kalau polanya belum nyaman, aku perlu memperbaikinya sebelum kita memotong kain.'
'Baik. Kita lihat satu per satu. Jangan memutuskan sendiri bahwa semuanya harus sempurna hari ini.'
Shania menggelar pola di atas meja besar. Ia menunjukkan garis yang sudah ia sederhanakan dan menjelaskan kenapa perubahan itu perlu. Shinta mengamati tanpa menyela, lalu mengusulkan agar mereka memakai kain contoh untuk melihat bentuk kerahnya saat dikenakan. Mereka mengukur ulang bagian bahu, mencatat ukuran, dan menandai bahan yang mesti dibeli.
'Kamu terlihat lebih yakin saat menjelaskan rancanganmu,' kata Shinta.
Shania berhenti menulis. 'Aku masih takut salah.'
'Berani bukan berarti tidak takut. Kamu sudah tahu alasan di balik pilihanmu. Itu cukup untuk mulai.'
Ucapan itu membuat Shania kembali memusatkan perhatian pada pola. Selama empat tahun ia terbiasa bertanya apakah Arhan akan menyukai sesuatu sebelum memilihnya. Kini ia belajar bertanya apakah dirinya sendiri percaya pada keputusan yang dibuat. Jawabannya belum selalu jelas, tetapi hari ini ia bisa menerangkan apa yang ingin ia capai lewat potongan sederhana dan kain yang nyaman.
Menjelang siang, mereka berhasil membuat contoh awal dari kain sisa. Shania mengenakannya di atas pakaian yang ia pakai. Shinta menyematkan bagian bahu, lalu meminta Shania bergerak, duduk, dan mengangkat tangan. Kerahnya terlihat lebih ringan, tetapi potongan di pinggang masih terasa kaku.
'Bagian ini perlu ruang lebih,' ujar Shania sambil melihat ke cermin. 'Kalau dipakai beberapa jam, orang akan merasa terkekang.'
***
'Aku setuju. Kita ubah polanya.'
Shania membongkar jahitan sementara dengan hati-hati. Ia tidak frustrasi ketika harus mengulang. Malah, ada kepuasan tersendiri karena ia memahami letak masalahnya. Sebelum istirahat makan siang, ia dan Shinta sepakat menyelesaikan satu prototipe dengan potongan yang lebih bersahabat bagi bentuk tubuh berbeda.
Shinta membuka kembali buku ukuran. 'Kita perlu pastikan satu ukuran dasar tidak menjadi patokan untuk semua orang. Kalau terlalu lebar di bahu atau terlalu sempit di pinggang, kenyamanannya bisa hilang.'
'Aku ingin membuat beberapa variasi, tapi jangan sampai bentuknya berubah jauh,' kata Shania. 'Detailnya harus tetap terlihat seperti bagian dari satu koleksi.'
Mereka menggambar garis ukur pada salinan pola, lalu memberi tanda pada bagian yang bisa disesuaikan. Shania mengusulkan agar lengan dibuat dengan ruang gerak sedikit lebih longgar. Shinta mencoba menarik kain di bagian bahu, kemudian setuju bahwa tambahan kecil itu akan membuat pemakainya lebih leluasa.
'Aku tidak ingin hanya membuat sesuatu yang cantik saat digantung,' kata Shania. 'Kalau orang yang memakainya tidak nyaman, berarti aku belum menyelesaikan pekerjaanku.'
'Itu alasan yang baik. Tapi ingat, satu rancangan tidak akan cocok untuk semua orang dengan cara yang sama. Kita lakukan uji coba dan dengarkan masukan.'
Shania menulis kalimat itu di pinggir catatan. Ia mulai memahami bahwa desain bukan soal menebak kebutuhan semua orang sekaligus. Ia harus membuat pilihan, mengujinya, lalu bersedia memperbaiki bagian yang tidak bekerja.
Setelah makan siang, butik mulai ramai oleh pekerjaan harian. Shinta tetap membantu pelanggan, sementara Shania kembali ke meja rancangan. Ia memeriksa setiap garis dan membandingkannya dengan ukuran yang telah dicatat. Waktu berjalan cepat. Saat pegawai lain mulai bersiap pulang, Shania masih menata ulang sisi lengan.
Shinta menghampirinya. 'Kita lanjut besok saja. Kamu sudah bekerja seharian.'
'Kalau aku pulang sekarang, aku akan terus memikirkan bagian ini. Aku mau menyelesaikan pola dasarnya dulu.'
'Kamu tidak harus menyelesaikan seluruh koleksi malam ini.'
'Aku tahu. Tapi aku ingin versi perbaikan prototipe ini siap dicoba lagi besok pagi. Setelah itu baru kita putuskan apakah rancangan lain perlu menyesuaikan bentuknya.'
Shinta menatapnya sejenak, lalu menarik kursi. 'Kalau begitu aku temani sampai pola dasarnya selesai. Tapi begitu selesai, kita pulang. Tidak ada tambahan pekerjaan karena kamu merasa harus membuktikan diri.'
***
Shania tersenyum. 'Setuju.'
Mereka bekerja berdampingan. Shania mengukur ulang bagian pinggang, sementara Shinta menuliskan catatan jahitan. Sekali-kali mereka berdebat kecil tentang lebar lipit atau panjang lengan, tetapi perdebatan itu membuat hasilnya semakin jelas. Shania tidak tersinggung ketika Shinta menunjukkan garis yang kurang tepat. Ia tahu kritik terhadap rancangan bukan berarti kritik terhadap dirinya.
Pukul sembilan lewat, mereka akhirnya menyelesaikan pola dasar. Shania merapikan kertas dan menyimpannya di map. Punggungnya pegal, tetapi ia merasa lega melihat perubahan yang ia buat sejak pagi.
'Besok kita uji dengan kain yang tadi dipilih,' kata Shinta. 'Kalau jatuhnya bagus, kita mulai menghitung berapa banyak bahan yang dibutuhkan.'
'Aku akan datang pagi.'
'Kamu juga harus tidur. Jangan pulang lalu menggambar sampai tengah malam.'
Shania tertawa pelan. 'Aku akan coba.'
Dalam perjalanan pulang, ia merasa lelah sampai ingin memejamkan mata. Namun pikirannya tidak lagi dipenuhi pertanyaan apakah ia cukup baik untuk Arhan. Ia memikirkan pola, warna, dan cara membuat busana itu terasa nyaman. Saat tiba di rumah, ia mendapati ruang tengah masih terang. Arhan duduk di sofa dengan ponsel di tangan.
'Kamu baru pulang?' tanyanya.
'Iya. Aku menyelesaikan pola di butik.'
Arhan berdiri seolah ingin mengambil tasnya, tetapi Shania menggeser tas itu ke sisi tubuh. 'Aku bisa bawa sendiri, Mas. Terima kasih.'
'Kamu makan?'
'Sudah. Aku mau istirahat.'
Shania melangkah menuju kamarnya tanpa menjelaskan berapa lama ia bekerja atau siapa yang menemaninya. Arhan membiarkannya pergi, tetapi matanya mengikuti map yang dibawanya. Ia menyadari bahwa hidup Shania mulai diisi sesuatu yang tidak lagi berpusat pada dirinya.