Pagi berikutnya, Shania bangun lebih awal. Ia mandi, salat, lalu menyiapkan sarapan sederhana untuk dirinya sendiri. Ia tidak lagi merasa wajib mengurus kebutuhan Arhan, tetapi juga tidak ingin membuat keributan. Ia memandang tinggal serumah sebagai keadaan sementara sambil menunggu perkara, memahami waktu yang perlu dijalani, dan menyiapkan tempat tinggal. Ucapan talak Arhan telah mengubah hubungan mereka, sementara urusan resminya masih harus dituntaskan.
Arhan keluar dari kamar ketika Shania hendak membawa cangkir ke meja. Ia terlihat kurang tidur. Tatapannya sempat jatuh pada piring yang hanya berisi satu porsi.
'Kamu tidak masak lebih?'
'Tidak. Aku hanya membuat untuk diriku.'
'Biasanya kamu selalu menyiapkan sarapan.'
'Dulu Mas belum mengatakan ingin mengakhiri pernikahan ini dan memilih perempuan lain.'
Arhan menarik kursi. 'Aku cuma bertanya.'
'Dan aku menjawab.'
Shania duduk dan mulai makan. Ia tidak berniat menyiksa Arhan atau membuatnya kelaparan. Namun mengurus seorang lelaki yang telah memilih perempuan lain bukan lagi kewajibannya.
'Apa kamu akan terus bersikap seperti ini?' tanya Arhan.
'Seperti apa?'
'Seolah-olah aku orang asing.'
'Kita tidak sepenuhnya asing. Kita punya masa lalu. Tapi masa lalu itu tidak membuat Mas berhak masuk ke hidupku sesukanya.'
Arhan menatap meja. 'Aku tidak bermaksud membuatmu merasa begitu.'
'Kalau begitu, hormati batas yang aku sampaikan.'
Ia menyelesaikan makan lalu berdiri. Arhan tidak menahannya. Shania mengambil tas dan memeriksa buku catatan rancangan yang dibawanya. Hari ini ia akan bertemu Shinta di butik untuk membahas bahan dan susunan awal koleksi.
'Kamu pulang malam lagi?' tanya Arhan.
***
Shania berhenti sejenak. 'Aku belum tahu. Kalau pekerjaanku selesai, aku pulang. Kalau belum, aku akan memberi kabar kepada Shinta.'
'Kamu bisa memberi kabar kepadaku juga.'
'Untuk apa?'
Arhan kehilangan jawabannya. Shania mengangguk kecil, lalu berangkat. Ia tidak menutup pintu dengan kasar. Ia hanya pergi menjalani hari yang telah ia pilih.
Di butik, Shinta menyambut Shania dengan segelas teh dan tumpukan kain contoh di meja. Ia meminta sahabatnya mengabaikan percakapan semalam dan fokus pada pekerjaan.
'Aku tidak mau hari ini habis untuk memikirkan Arhan,' kata Shania.
'Bagus. Kita akan menyusun palet warna dulu. Raka bertanya apakah dia boleh melihat sketsa ketika kamu siap.'
Shania memegang salah satu contoh kain berwarna hijau zaitun. 'Untuk pameran, aku ingin desainnya punya ciri sendiri. Bukan cuma cantik di gantungan.'
'Itu yang aku suka dari karyamu. Kamu selalu memikirkan siapa yang akan memakainya.'
Mereka membentangkan beberapa kain, mencocokkan warna, lalu menulis ide di buku. Shania mulai merasa dirinya kembali menjadi desainer yang dulu pernah ia tinggalkan demi pernikahan. Ia masih belum percaya diri sepenuhnya, tetapi pekerjaannya memberi ruang untuk bernapas.
Shinta menyebut Raka mungkin dapat memberi masukan tentang selera pembeli. Shania menjawab ia bersedia mendengar pendapat profesional, selama keputusan akhir desain tetap berada di tangannya.
'Tentu. Dia bukan bosmu,' kata Shinta. 'Kamu yang membuat karya ini.'
Shania mengangguk. Ia mulai membuat sketsa awal di buku. Garis-garis pensil bergerak pelan, membentuk rancangan yang sederhana tetapi tegas. Ia tidak tahu apakah desain itu akan disukai banyak orang, namun ia ingin menciptakannya tanpa takut dianggap kurang cantik atau tidak pantas.
'Aku ingin baju ini membuat perempuan merasa nyaman dengan dirinya,' ujarnya.
'Kalau begitu, gambar dari perasaanmu sendiri.'
Di butik, Shinta mengeluarkan beberapa lembar pola dari lemari. Mereka membahas rancangan Shania sambil memeriksa ukuran dan potongan yang mungkin cocok untuk kain pilihan. Shania menggambar ulang bagian bahu agar jatuhnya lebih rapi.
'Kalau kita pakai potongan ini, perempuan yang bahunya sempit akan terlihat lebih seimbang,' katanya. 'Tapi aku tidak mau membuat ukuran yang hanya cocok untuk satu bentuk tubuh.'
***
'Kita bisa buat beberapa variasi ukuran,' jawab Shinta. 'Yang penting polanya tetap punya karakter.'
Shania membuat catatan di pinggir sketsa. Ia membayangkan seorang perempuan mengenakan busana itu tanpa harus terus menarik-narik kain atau merasa perlu menyembunyikan tubuhnya. Ia ingin desainnya memberi rasa percaya diri, bukan tuntutan untuk terlihat sempurna.
'Waktu aku menikah, aku selalu berusaha tampil sesuai selera Arhan,' katanya tiba-tiba. 'Sekarang aku ingin tahu apa yang kusukai sendiri.'
Shinta berhenti mengukur pola dan menatapnya. 'Itu alasan bagus untuk membuat koleksi ini.'
'Bukan untuk membalas siapa pun.'
'Tidak ada yang bilang begitu. Kamu melakukannya untuk dirimu.'
Shania melanjutkan menggambar. Mereka memilih beberapa warna dasar, lalu menyepakati bahwa keputusan bahan akan dibuat setelah melihat kain langsung. Pekerjaan belum selesai dan mereka tidak memaksakan tenggat yang tidak perlu. Shania merasa cukup dengan satu langkah yang berhasil ia ambil hari ini.
Shinta lalu membuka lemari contoh kain dan mengeluarkan dua bahan dengan tekstur berbeda. Yang satu tampak mewah, tetapi mudah kusut; yang lain lebih sederhana dan ringan saat disentuh.
'Kalau hanya mengejar kesan mahal, kita bisa memilih yang ini,' kata Shinta sambil mengangkat kain pertama. 'Tapi pemakainya mungkin tidak nyaman duduk lama.'
Shania meraba kedua bahan itu. 'Aku lebih suka yang ringan. Aku ingin orang bisa bergerak tanpa terus takut bajunya berubah bentuk.'
'Berarti kita perlu menguji jatuhnya setelah dijahit, bukan menilainya dari gulungan saja.'
Mereka mencatat pilihan tersebut sebagai bahan uji, bukan keputusan akhir. Shania juga mengingatkan agar koleksi itu memiliki ukuran yang beragam. Ia tidak ingin rancangan yang berbicara soal percaya diri hanya tersedia bagi tubuh tertentu.
'Kita bisa mulai dari pola dasar yang bisa disesuaikan,' ujarnya. 'Kalau ada bagian yang tidak nyaman, kita perbaiki sebelum pameran.'
Shinta menyetujui rencana itu. Ia tidak memuji Shania berlebihan; ia mengajukan pertanyaan tentang jahitan, ukuran, dan waktu yang tersedia. Justru keseriusan tersebut membuat Shania merasa dianggap sebagai rekan kerja sungguhan.
Shania menyimpan dua contoh kain itu dalam map kecil agar mereka tidak tertukar dengan bahan lain. Ia menambahkan catatan untuk mencoba keduanya di bawah cahaya alami, sebab warna di dalam butik tampak berbeda dari warna di luar.
'Kita tidak perlu memutuskan semuanya sekaligus,' katanya. 'Kalau satu pilihan belum cocok, kita cari lagi.'
Shinta tertawa pelan. 'Nah, itu baru terdengar seperti desainer yang sabar.'
'Aku sedang belajar.'
Menjelang waktu makan siang, Shania menyimpan sketsa di map agar tidak kusut. Ia dan Shinta sepakat melanjutkan pembahasan setelah beristirahat sebentar. Shania menutup map dan bersiap makan siang bersama Shinta. Pameran masih beberapa hari lagi, sehingga ia tidak perlu memaksakan semua rancangan selesai hari ini. Ia berjanji kembali bekerja setelah istirahat.