Sesudah beranjak dari meja, Shania dan Shinta berhenti sebentar dekat pintu restoran. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul setengah sembilan. Mereka sempat membahas rancangan pameran dan mencatat beberapa gagasan Raka yang mungkin berguna untuk koleksi butik. Shania tetap menjaga pembicaraan itu profesional.
'Aku akan antar kamu,' kata Shinta sambil mengambil tas.
'Tidak usah. Rumahku tidak jauh dari sini.'
'Sudah malam, Shan.'
'Aku bisa pulang sendiri. Kamu juga kelihatan capek.'
Shinta menatap wajahnya, lalu mengalah setelah Shania berjanji akan mengirim pesan begitu tiba. Shania memesan kendaraan dan pulang tanpa mampir ke mana-mana. Di sepanjang perjalanan ia memandang lampu jalan yang berkelebat, berusaha menata pikirannya.
Perjalanan pulang membawa Shania kembali pada rumah yang terasa berbeda sejak Arhan mengucapkan talak di sana. Ia masih menunggu perkara yang menurut Arhan sudah diajukan dan memahami dirinya perlu menjalani masa tunggu. Hitungan tiga bulan yang dibuatnya sendiri belum menggantikan penjelasan proses resmi. Ia juga belum mempunyai tempat lain untuk dituju.
Ketika membuka pintu, ia mendapati Arhan duduk di ruang tengah. Televisi menyala tanpa suara. Majalah olahraga terbuka di pangkuannya, tetapi tatapan pria itu segera terangkat begitu Shania masuk.
'Kamu baru pulang?'
'Iya.' Shania menutup pintu. 'Ada apa?'
'Kamu dari mana sampai malam begini?'
'Makan bersama Shinta. Kami membicarakan pekerjaan.'
Arhan menutup majalahnya. 'Aku lihat ada pria yang bergabung di meja kalian.'
Shania terdiam sebentar. 'Mas melihat dari mana?'
***
'Aku lewat di sana. Aku melihat kalian.'
'Kalau begitu Mas juga melihat Shinta ada di sana.'
'Aku tahu. Tapi siapa pria itu?'
Pertanyaan itu membuat Shania menatapnya tajam. 'Kenapa Mas ingin tahu?'
'Aku cuma bertanya.'
'Tidak. Nada Mas seperti sedang menginterogasi.' Shania meletakkan tas di kursi. 'Pria itu kenalan Shinta yang tertarik pada desainku. Kami bicara soal pekerjaan. Tidak ada yang perlu Mas khawatirkan.'
'Aku tidak khawatir.'
'Kalau tidak khawatir, kenapa Mas menungguku di ruang tengah?'
Arhan berdiri. 'Aku pulang lebih dulu. Lalu kamu tidak ada di rumah. Tentu saja aku ingin tahu.'
'Aku masih di rumah yang sama karena proses perpisahan kita belum selesai dan aku belum pindah. Itu tidak berarti Mas berhak mengatur dengan siapa aku bertemu.'
Arhan mengatupkan rahang. 'Aku tidak mengatur.'
'Mas cemburu.'
'Jangan mengada-ada.'
Shania menghela napas. Ia tidak ingin kembali menjadi perempuan yang selalu mengalah hanya agar suasana rumah tampak damai. 'Mas Arhan, Mas sendiri yang mengucapkan talak di rumah ini dan memilih Atika. Aku tidak akan meminta izin untuk bekerja atau bertemu teman.'
'Aku tahu apa yang kulakukan.'
***
'Kalau begitu, jangan bertindak seolah aku masih milik Mas.'
Kata-kata itu membuat Arhan terdiam. Ia hendak menjawab, tetapi tidak ada kalimat yang bisa membatalkan keputusan yang telah ia ucapkan sendiri. Shania mengambil tas dan berjalan menuju kamarnya.
'Kamu tidak perlu bicara seperti itu setiap kali aku bertanya,' katanya.
Shania berhenti di ambang lorong. 'Aku bicara seperti ini karena Mas terus meminta aku menjalani peran yang sama setelah Mas sendiri mengucapkan talak.'
Ia masuk ke kamar dan menutup pintu tanpa membantingnya. Arhan tetap berdiri di ruang tengah, mendengar bunyi kunci diputar. Dadanya dipenuhi sesuatu yang sulit ia namai. Ia ingin menyalahkan pria di kafe, tetapi jauh di dalam hati ia tahu tidak ada yang memaksa dirinya menjatuhkan talak.
Shania masih membawa tas ketika bunyi kunci berhenti. Ia menenangkan napas, menunggu langkah di luar menjauh, lalu menaruh tas itu di kursi. Malam ini ia tidak ingin kembali keluar hanya untuk meredakan perasaan Arhan.
Di dalam kamar, Shania duduk di tepi ranjang dan mendengar langkah Arhan menjauh. Ia mengira malam itu akan berakhir dengan pertengkaran, tetapi ketegasan yang ia tunjukkan membuatnya justru merasa lelah. Ia membuka lemari, mengambil pakaian tidur, lalu menutupnya setelah memastikan pakaian untuk esok masih mudah dijangkau. Hidupnya belum berpindah tempat, namun ia mulai menata barang-barangnya seolah sedang menyiapkan masa depan sendiri.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Shinta menanyakan apakah ia sudah sampai. Shania membalas bahwa ia aman, lalu menceritakan singkat Arhan menunggunya dan menanyakan Raka. Ia tidak ingin mengubah peristiwa itu menjadi gosip atau drama. Ia hanya ingin sahabatnya tahu bahwa batas yang sudah dibangun masih perlu ditegaskan.
Shinta membalas, 'Kamu tidak harus menjelaskan hidupmu kepadanya. Kalau ada urusan rumah, bicarakan seperlunya.'
Shania membaca kalimat itu beberapa kali. 'Aku tahu. Tapi kadang kebiasaan lama membuatku hampir merasa bersalah karena memilih diriku sendiri,' tulisnya.
'Memilih menjaga diri bukan kesalahan,' jawab Shinta.
Shania membaca kalimat itu beberapa kali. Ia tidak ingin mengubah kepeduliannya menjadi kebencian, tetapi ia juga tak bisa terus memikul perasaan Arhan seolah-olah itu tugasnya. Ia menulis balasan singkat, 'Aku akan berusaha menjalani hari besok tanpa merasa harus menjelaskan setiap keputusan.' Shinta mengirim tanda hati dan mengingatkannya untuk tidur cukup.
Shania meletakkan ponsel di meja. Untuk malam itu, ia tidak akan menyusun jawaban untuk pertanyaan Arhan yang belum ditanyakan. Ia akan memberi dirinya waktu untuk beristirahat dan membiarkan keputusan kecil esok hari menjadi urusannya sendiri.
Setelah percakapan selesai, Shania meninggalkan meja dan mengambil wudu. Sebelum salat, ia memandangi cincin yang masih tersimpan di laci. Ia tidak memakainya lagi, tetapi belum sanggup membuangnya. Benda itu mengingatkannya bahwa pernah ada masa ia berharap ketulusan bisa mengubah hati seseorang. Kini ia ingin belajar bahwa cinta tidak seharusnya membuat dirinya kehilangan suara.
'Ya Allah, kuatkan aku untuk menjalani pilihan ini,' bisiknya. Ia salat dan berdoa agar diberi keteguhan, bukan agar Arhan kembali. Doa itu terasa baru, dan justru karena itu ia mengulanginya dalam hati.
Arhan tetap di ruang tengah. Ia tahu ia seharusnya meminta maaf atas nada cemburunya, tetapi ia juga mulai mengerti bahwa permintaan maaf tanpa perubahan hanya akan menjadi cara lain untuk meminta Shania menenangkannya. Ia mematikan televisi dan duduk dalam sunyi. Bayangan pria di kafe tetap mengusiknya, meski ia tahu kecemburuan tersebut tidak memberinya hak apa pun.
Sebelum memejamkan mata, Shania menuliskan tiga hal yang ingin ia lakukan esok hari: menyelesaikan catatan rancangan, datang ke butik, dan tidak meminta maaf hanya karena berkata jujur. Daftar itu sederhana, tetapi membuatnya merasa punya arah. Ia menutup buku kecil tersebut dan menarik selimut, membiarkan malam berlalu tanpa menunggu Arhan mengetuk pintu.