Selepas makan siang, Shania kembali merapikan sketsa di ruang kerja kecil butik. Matahari masih tinggi, tetapi pikirannya terasa semakin hidup. Setelah sekian lama ia menggambar hanya untuk memenuhi permintaan orang lain, kini ia mencoba menuangkan gagasan yang berasal dari dirinya sendiri.
Shinta berdiri di belakangnya, memperhatikan rancangan yang sudah mulai terbentuk. 'Potongan bahunya bagus. Sederhana, tapi tetap kelihatan elegan.'
'Aku takut terlalu biasa.'
'Kamu tidak harus menambahkan banyak hal supaya desainmu dianggap istimewa.'
Shania tersenyum tipis. 'Kamu selalu bisa membuatku lebih percaya diri.'
'Karena aku tahu kamu mampu. Dulu kamu berhenti bukan karena kehilangan bakat, tapi karena kamu terlalu lama menaruh keinginan orang lain di atas keinginanmu sendiri.'
Kalimat itu membuat Shania terdiam. Ia tidak ingin menyalahkan seluruh masa pernikahannya, tetapi ia tak bisa memungkiri telah banyak mengalah. Sekarang ia ingin belajar membedakan pengorbanan yang tulus dari penghapusan dirinya sendiri.
Pintu butik terbuka dan salah seorang pegawai memberi tahu bahwa ada pesan untuk Shinta. Pesan itu berasal dari Raka, yang menanyakan apakah Shania bersedia menunjukkan sketsa ketika sudah siap. Shinta membacakan pesannya, lalu menoleh kepada sahabatnya.
'Kamu yang putuskan. Aku tidak akan menjawab atas namamu.'
'Balas saja aku akan menunjukkan rancangan setelah konsep awalnya selesai. Untuk sekarang aku belum mau membahas hal lain selain pekerjaan.'
Shinta mengetik jawaban sesuai permintaan. 'Sudah. Dia bilang tidak masalah dan mengucapkan semangat.'
'Bagus. Aku tidak mau ada orang yang salah paham.'
'Kamu berhak menentukan batas.'
Mereka kembali bekerja. Shania menambahkan beberapa detail pada bagian lengan dan pinggang, lalu menuliskan jenis kain yang ingin ia cari. Ia tidak ingin desainnya terlihat mewah hanya karena hiasan mahal. Baginya, pakaian itu harus membuat pemakainya berdiri lebih tegak dan merasa nyaman.
***
Shinta meminta Shania membandingkan dua versi garis lengan. Pada versi pertama, detailnya tampak indah saat digambar, tetapi mungkin membatasi gerakan. Shania mencoba menirukan gerakan mengangkat tangan dan tertawa kecil saat menyadari rancangan itu terasa terlalu kaku.
'Kita tidak sedang membuat pakaian untuk dipajang tanpa disentuh,' katanya. 'Orang harus bisa memakainya seharian.'
Shinta mengangguk dan menyobek secarik kertas pola untuk membuat contoh sederhana. Mereka mengukur ulang bagian lengan dan mendiskusikan cara menjahitnya agar tetap rapi tanpa menambah biaya berlebihan. Shania menyarankan agar satu contoh dijahit lebih dulu sebelum mereka memesan bahan dalam jumlah besar.
'Itu masuk akal,' kata Shinta. 'Kita uji satu dulu. Kalau nyaman, baru kita hitung kebutuhan koleksi.'
Keputusan kecil itu membuat Shania merasa rancangan tersebut mulai bergerak keluar dari buku catatan. Ia tidak hanya berkhayal tentang busana yang ingin dibuat; ia ikut mempertimbangkan waktu, biaya, dan kenyamanan orang yang akan memakainya.
Di kantor, Arhan mencoba berkonsentrasi pada proposal acara yang diminta Pak Raden. Jadwalnya masih tiga minggu lagi, tetapi persiapannya menuntut perhatian sejak sekarang. Ia membuka dokumen lalu menyadari beberapa bagian yang biasanya dikerjakan bersama tim lama masih berantakan.
Arhan mengusap wajah. 'Aku harus berhenti memikirkan hal lain.'
Ia menatap daftar pekerjaan dan mulai menyusun prioritas. Namun penolakan Shania untuk kembali diatur setelah ia sendiri mengucapkan talak terus terngiang. Arhan menyadari ia kehilangan bukan hanya seseorang yang menyiapkan sarapan, tetapi juga orang yang selama ini memperhatikan kebutuhan kecil di rumah yang sering ia abaikan.
Ia hampir menghubungi Shania untuk menanyakan sketsanya, tetapi berhenti sebelum menekan tombol panggil. Ia tidak ingin rasa ingin tahunya menjadi alasan untuk melanggar batas. Jika Shania ingin bercerita, ia akan bercerita sendiri.
Arhan kembali membaca proposal. Kali ini ia memaksa dirinya memahami setiap angka dan kebutuhan acara tanpa mengandalkan rekan tim lama yang telah dipindahkan ke cabang lain. Ia tahu ia masih harus membuktikan dirinya di kantor, tetapi untuk hari ini ia hanya ingin menyelesaikan satu bagian dengan benar.
Menjelang sore, Arhan menyelesaikan satu bagian proposal lalu menyimpannya untuk diperiksa kembali. Ia belum berubah menjadi lelaki yang lebih baik hanya karena sekali menahan diri. Namun ia mulai memahami bahwa perubahan harus dimulai dengan berhenti menganggap Shania selalu tersedia untuk menyelamatkannya.
Di rumah, Arhan duduk sendirian di meja makan. Ia baru pulang dari kantor dan menemukan suasana rumah yang sunyi. Tidak ada suara Shania di dapur, tidak ada aroma masakan yang biasa menyambutnya. Ia mencoba menelepon Atika, tetapi perempuan itu sedang tidak menjawab. Arhan meletakkan ponsel dan memandang kursi kosong di hadapannya.
Ia teringat Shania pulang larut malam sebelumnya dan wajahnya yang tegas ketika mengingatkan bahwa ia sendiri telah mengucapkan talak dan tidak boleh terus mengatur kepulangannya. Seharusnya ia merasa lega, sebab ia sendiri menginginkan kebebasan untuk bersama Atika. Namun kenyataannya, ia merasa kehilangan sesuatu yang selama ini ia anggap selalu tersedia.
'Apa aku benar-benar cemburu?' gumamnya.
Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban. Arhan mencoba menyalakan televisi, tetapi suara pembawa acara malah membuat kepalanya semakin penuh. Ia mematikan televisi dan berdiri untuk menyiapkan teh sendiri.
***
Shania tiba tak lama kemudian. Ia membawa buku sketsa dan beberapa kain contoh. Arhan berdiri di ruang tengah ketika mendengar pintu terbuka.
'Kamu baru pulang?' tanyanya, lalu segera menyadari pertanyaan itu terdengar seperti malam sebelumnya.
'Iya. Aku habis bekerja di butik.'
'Aku mau bilang soal caraku bertanya waktu kamu pulang dari kafe - '
'Mas tidak perlu meminta maaf karena bertanya. Tapi aku minta Mas jangan menganggap aku harus melaporkan setiap kegiatanku.'
Arhan mengangguk pelan. 'Aku mengerti.'
Shania terkejut mendengar jawaban itu begitu cepat. Ia tidak tahu apakah Arhan sungguh memahami atau hanya ingin menutup pembicaraan. Ia tetap menjaga jarak.
'Bagus. Aku mau istirahat. Besok aku kembali ke butik.'
'Kamu sedang mengerjakan rancangan pameran?'
'Iya. Mas tahu dari mana?'
'Kamu membawa kain dan buku gambar.'
'Itu pekerjaanku sekarang.'
Arhan melihat buku sketsa di tangan Shania, tetapi tidak meminta melihatnya. Ia menyadari bahwa dahulu ia jarang bertanya tentang hal yang disukai istrinya. Sekarang ia takut jika bertanya, Shania menganggapnya sebagai cara ikut campur.
'Semoga lancar,' ucapnya akhirnya.
'Terima kasih.'