Begitu melihat anggukan Shinta, pelayan itu segera berjalan ke meja pria di seberang restoran. Shania mengikuti geraknya dengan tatapan penasaran sekaligus kikuk. 'Kamu sudah mengenalnya lama?' bisiknya kepada Shinta. 'Lumayan. Dia teman lama sekaligus orang yang sedang mencari rancangan busana,' jawab Shinta.
Pelayan kembali bersama pria itu. Ia mengenakan kemeja biru tua dan celana bahan, tampil rapi tanpa kesan berlebihan. Senyumnya sopan ketika ia berhenti di sisi meja.
'Maaf mengganggu. Saya Raka,' katanya. 'Shinta bilang saya boleh bergabung.'
'Iya, silakan,' jawab Shinta, lalu mengenalkan mereka. 'Raka, ini Shania, sahabat yang sekarang menjadi anggota tim desainku. Shan, ini Raka. Kami kenal dari beberapa kegiatan komunitas kreatif.'
Raka menarik kursi setelah Shinta memberi ruang. 'Saya pernah melihat beberapa rancangan Shinta, tapi katanya sekarang ada desainer baru yang bergabung. Saya penasaran dengan karyanya.'
Shania menahan senyum canggung. 'Saya belum lama kembali mendesain. Belum ada karya baru yang pantas dibicarakan.'
'Shania sedang menyiapkan koleksi untuk pameran,' kata Shinta. 'Dia terlalu rendah hati untuk mengaku hasilnya bagus.'
'Jangan dilebih-lebihkan,' protes Shania. 'Saya masih banyak belajar.'
Raka mengangguk. 'Saya tidak ingin membuat Anda tidak nyaman. Saya hanya sedang mencari rancangan yang punya karakter dan terasa dibuat dengan pemikiran, bukan sekadar mengikuti tren. Kalau boleh, saya ingin melihat beberapa sketsa saat Anda sudah siap.'
'Saya biasanya meminta pakaian yang bisa dipakai berulang kali, bukan hanya untuk satu acara,' lanjut Raka. 'Karena itu saya memperhatikan potongan dan kenyamanan. Tapi saya tidak ingin memberi arahan sebelum melihat karya Anda.'
Shania sedikit melonggarkan bahunya. Cara Raka berbicara membuatnya jelas bahwa ia menghargai keputusan perancang. Ia belum merasa akrab, tetapi setidaknya tidak perlu bersiap menghadapi desakan atau pujian yang berlebihan.
Shania merapatkan jari di atas meja. 'Untuk urusan pekerjaan, nanti saya bisa bicarakan melalui Shinta. Saya belum biasa menunjukkan rancangan kepada orang yang baru saya kenal.'
'Tentu. Saya menghormati itu.' Raka tidak mendesak. Ia beralih menanyakan kabar Shinta dan kegiatan komunitas yang pernah mereka ikuti. Percakapan mereka mengalir, sementara Shania lebih banyak mendengarkan.
Ia merasa seperti orang yang datang ke acara tanpa mengetahui aturan di dalamnya. Raka tidak bersikap kurang ajar, tetapi keramahan pria itu tetap membuatnya waspada. Shania belum siap membuka ruang bagi perhatian laki-laki, terlebih setelah rumah tangganya runtuh karena orang ketiga.
'Kamu kelihatan sedang menjaga jarak,' ujar Shinta ketika Raka menerima panggilan singkat dari mejanya.
'Aku tidak mau memberi kesan yang salah.'
***
'Kamu berhak menjaga batas. Raka datang karena pekerjaan dan kenalanku. Kamu tidak wajib membalas apa pun selain membahas desain.'
Shania mengangguk. 'Aku tahu. Tapi aku masih merasa aneh duduk dengan pria yang baru dikenal.'
Raka kembali dan segera meminta maaf karena ponselnya berdering. Ia tidak berlama-lama. Setelah menanyakan apakah ia boleh menghubungi Shinta tentang rancangan, ia berdiri dan berpamitan.
'Terima kasih sudah mengizinkan saya bergabung. Saya tidak akan menghubungi Shania langsung sebelum ia merasa siap.'
Shania sedikit terkejut mendengar sikapnya yang menjaga jarak. 'Terima kasih sudah mengerti.'
Raka tersenyum. 'Semoga persiapannya lancar. Saya menunggu kesempatan melihat karya Anda.'
Setelah Raka pergi, Shania masih memandang kursi kosong di hadapannya. Ada rasa lega karena percakapan mereka berlangsung sopan, tetapi ia juga belum terbiasa menerima perhatian dari orang baru.
'Raka itu memang tidak banyak basa-basi,' kata Shinta. 'Dia pernah meminta beberapa rancangan untuk acara komunitas. Waktu aku cerita ada desainer baru di timku, dia tertarik melihat karyamu.'
'Dia klien butikmu?'
'Pernah memakai jasa kami. Bukan klien tetap, tapi dia mengenal kualitas kerja kami.'
Shania memainkan sedotan di gelasnya. 'Kalau dia hanya tertarik pada desain, aku tidak keberatan. Aku cuma tidak ingin kamu menjodoh-jodohkan aku.'
Shinta segera mengangkat kedua tangan. 'Aku tidak akan memaksa. Aku juga tidak tahu apakah dia tertarik lebih dari urusan kerja. Yang jelas, dia menghargai desainmu sebelum melihatnya langsung.'
'Dia belum melihat desainku.'
'Dia melihat contoh yang pernah kamu unggah dulu. Aku pernah menunjukkan koleksi lamamu saat kami membicarakan pameran.'
Shania mengerutkan kening. 'Kamu masih menyimpan foto-foto itu?'
***
'Semua karya bagus kusimpan. Kamu yang menyuruhku jangan membuang apa pun.'
Shania tertawa pelan. Ia teringat masa ketika ia masih berani mengunggah desainnya dan membayangkan suatu hari karyanya dipakai banyak orang. Ia tidak tahu kapan rasa percaya dirinya memudar, tetapi mungkin ia tidak perlu menunggu sampai rasa takut itu hilang seluruhnya untuk mulai menggambar lagi.
'Kalau nanti dia meminta melihat sketsa, kamu ikut,' kata Shania. 'Aku belum siap bertemu sendirian.'
'Pasti. Kamu yang tentukan apa yang ingin ditunjukkan dan apa yang tidak.'
Shinta juga menjelaskan bahwa Raka tidak pernah bersikap memaksa. Ia mengenalnya dari pekerjaan, bukan karena ingin mencari pasangan untuk siapa pun. Shania berterima kasih karena Shinta tidak membuat keputusan atas namanya.
Mereka meninjau kembali tema yang sudah dipilih untuk pameran, tanpa mengubah konsep yang mulai dikerjakan sebelum pertemuan ini. Shania ingin melihat pilihan kain terlebih dahulu agar bentuk busana tidak hanya tampak bagus di atas kertas. Shinta menyukai gagasan itu dan mencatat bahwa mereka perlu mengatur waktu untuk berbelanja bahan.
Shania juga meminta Shinta mengirimkan foto koleksi lama yang pernah mereka bicarakan. Ia ingin meninjau kembali pilihan warna dan melihat bagian mana yang masih terasa dekat dengan dirinya. Ia tidak berniat menyalin rancangan lama; ia hanya ingin mengingat bahwa pernah ada masa ketika ia berani membuat pilihan sendiri.
'Besok kita mulai dari kain, bukan dari apa yang mungkin disukai orang lain,' katanya.
'Setuju. Kita lihat bahannya dulu, lalu kamu putuskan bentuknya,' jawab Shinta.
Shania mengangguk. Untuk pertama kalinya malam itu, pembicaraan tentang masa depan terasa seperti sesuatu yang bisa ia atur sedikit demi sedikit.
'Jadi malam ini kamu tidak langsung jatuh cinta pada pria di kafe?' goda Shinta.
'Tidak. Aku jatuh cinta pada sketsaku yang belum selesai.'
'Jawaban yang aman.'
'Jawaban yang jujur.'
Mereka tertawa, lalu beranjak dari meja. Shania merasa suasana hatinya lebih ringan. Raka mungkin akan menjadi seseorang yang penting bagi pekerjaan mereka, tetapi ia tidak perlu buru-buru memberinya tempat lain di hidupnya.
Shania menarik napas. Di tengah puing-puing rumah tangganya, ia ingin menjaga hatinya tanpa kembali mengurung dirinya sendiri. Ia belum tahu ke mana jalan baru ini akan membawanya, tetapi untuk malam ini ia memilih mengakhiri pertemuan dengan tenang sambil memikirkan desainnya.