Surat dari politeknik itu datang ke rumah Wening, dan ia tak langsung menceritakannya pada siapa pun.
Arka baru tahu seminggu kemudian, dan itu pun tak sengaja. Ia sedang di bengkel ketika Pak Hartono masuk, mencari Wening, sambil membawa selembar kertas. "Wening mana? Ada kabar bagus," katanya. "Politeknik negeri di kota provinsi nawarin jalur prestasi. Portofolio karya teaching factory kalian dilirik. Wening direkomendasikan masuk Teknik Mesin lewat jalur itu—nilainya, portofolionya, semuanya cocok."
Arka terkejut, lalu senang, lalu bingung kenapa Wening tak cerita apa-apa. Ketika Wening datang sore itu, Arka langsung bertanya.
Wening tampak gelisah. "Iya, ada suratnya," akunya pelan. "Tapi aku belum jawab."
"Kenapa? Itu kan kesempatan bagus banget, Wen. Politeknik negeri. Jalur prestasi."
Wening menunduk, jari-jarinya memainkan ujung jangka sorong di meja. "Bapakku nggak tahu aku mau ke teknik. Bapakku maunya aku kuliah yang... yang 'pantas'. Akuntansi. Manajemen. Sesuatu yang kantoran. Yang ada seragamnya rapi, ada mejanya bersih." Ia menelan ludah. "Bapakku selalu bilang teknik itu kerja kotor. Kerja tangan. Buat orang yang nggak punya pilihan lain."
Arka diam, karena ia kenal logika itu juga—logika yang menganggap kerja tangan sebagai kerja kelas bawah, kerja yang dilakukan orang yang gagal jadi orang kantoran. Logika yang sama yang dulu membuat Arka sendiri malu mengaku ia anak penarik rosok, malu pada tangannya yang berlumur oli.
Tapi ada yang ganjil. "Wen, kamu kan teliti banget. Kamu suka banget sama kerja presisi. QC kita berdiri di atas kamu. Kamu beneran nggak mau ke teknik?"
Wening mengangkat kepala, dan matanya berkaca-kaca. "Aku mau, Ka. Aku mau banget. Itu masalahnya." Ia tertawa kecil yang pahit. "Seumur hidup aku dilatih buat takut salah. Bapakku nuntut nilai sempurna. Sembilan koma kurang, masih ditanya kenapa nggak sepuluh. Rapor jelek dikit, langsung diceramahi berjam-jam. Aku jadi anak yang... yang nggak bisa napas kalau ada yang nggak sempurna."
Arka teringat masa-masa ketika ketelitian Wening hampir melumpuhkannya—ketika ia menahan komponen lolos terlalu lama, memeriksa dan memeriksa lagi sampai pekerjaan macet, karena takut ada satu kesalahan yang lolos. Pak Damar yang akhirnya mengajarinya bahwa toleransi bukan kelemahan, melainkan inti rekayasa. Bahwa tak ada yang sempurna; yang ada hanya cukup baik dan aman.
"Aku takut," lanjut Wening, suaranya hampir berbisik, "kalau aku ambil teknik, aku bakal hidup di dunia di mana kesempurnaan itu mustahil. Mesin tua nggak pernah pas seratus persen. Bahan ada cacatnya. Ukuran selalu punya toleransi. Dunia itu..." ia mencari kata, "...dunia itu nggak akan pernah cukup buat bapakku. Tapi anehnya, justru di dunia itu aku ngerasa paling tenang. Karena Pak Damar ngajarin aku, di teknik, 'cukup baik' itu bukan kekalahan. Itu kebijaksanaan. Itu malah lebih jujur daripada ngejar sempurna yang nggak ada."
Arka mulai mengerti. Tarikan dalam diri Wening bukan antara dua jurusan. Itu antara dua cara hidup—satu yang dituntut bapaknya, hidup mengejar kesempurnaan yang mustahil dan tak pernah cukup; dan satu yang ia temukan di Bengkel 7, hidup yang menerima toleransi, yang tahu kapan sesuatu sudah cukup baik, yang bisa bangga tanpa harus sempurna.
"Wen," kata Arka pelan, "kamu inget waktu kamu nahan komponen Bu Marni terlalu lama? Yang udah masuk toleransi tapi kamu masih ukur berkali-kali?"
Wening mengangguk, malu.
"Pak Damar bilang apa waktu itu?"
Wening tersenyum getir, mengingat. "Dia bilang... 'Wening, kamu ngukur komponen ini buat mastiin dia berfungsi, atau buat mastiin kamu nggak salah? Kalau buat fungsi, dia udah lewat sejak ukuran ketiga. Kalau buat nenangin ketakutanmu, kamu bisa ukur seribu kali dan tetap nggak tenang.'"
"Nah," kata Arka. "Surat politeknik ini sama. Kamu nahan jawabannya bukan karena ragu mau teknik apa nggak. Kamu tahu kamu mau. Kamu nahan karena takut bapakmu nganggap kamu salah pilih. Tapi itu ketakutan kamu, Wen. Bukan kebenaran. Komponen kamu udah masuk toleransi dari dulu. Kamu cuma takut ngakuin dia udah cukup baik."
Wening menatapnya lama. Lalu air matanya jatuh, tapi ia tersenyum di saat yang sama—senyum aneh dari orang yang baru saja melihat sesuatu yang sudah lama ada di depan matanya.
"Bapakku bakal kecewa," katanya.
"Mungkin," Arka jujur. "Awalnya. Tapi kamu mau hidup sempurna di mata bapakmu sambil mati pelan di dalam, atau hidup cukup baik di jalan yang bikin kamu napas?"
Butuh waktu. Wening pulang malam itu, dan Arka tahu kemudian bahwa ia bicara dengan bapaknya—bukan dengan air mata, bukan dengan memohon, tapi dengan membawa pulang portofolio karya Bengkel 7. Komponen-komponen yang ia ukur, ring Bu Marni yang lolos QC-nya, surat rekomendasi penguji industri yang menyebut namanya. Ia menunjukkan pada bapaknya bahwa 'kerja kotor' yang ia takutkan itu telah menghasilkan sesuatu yang diakui orang, sesuatu yang membuka pintu ke politeknik negeri yang bahkan tak bisa dimasuki banyak anak dari sekolah lebih mahal.
Bapaknya tak langsung menerima. Butuh berhari-hari, dan beberapa malam yang tegang. Tapi pada akhirnya, ketika lelaki itu melihat surat resmi dari politeknik negeri—negeri, bukan swasta abal-abal—sesuatu dalam gengsinya luluh. Anak perempuannya diterima lewat prestasi, bukan lewat uang. Dan itu, bagi seorang bapak yang seumur hidup mengukur nilai dari angka dan pengakuan, ternyata adalah bahasa yang bisa ia mengerti.
"Aku ambil," kata Wening pada tim beberapa hari kemudian, dan wajahnya berseri dengan cara yang belum pernah Arka lihat. "Politekniknya. Aku ambil."
Mereka bersorak, dan Sari memeluknya, dan Jefri menepuk pundaknya dengan kasar khas dirinya.
Tapi yang paling Arka ingat dari sore itu bukan kabar politekniknya. Yang paling ia ingat adalah ketika Wening, di tengah kegembiraan, memeriksa sebuah komponen yang baru selesai—dan setelah dua kali pengukuran, ia meletakkannya di tumpukan 'lolos' tanpa mengukur untuk ketiga, keempat, kelima kalinya. Ia membiarkannya pergi. Cukup baik. Aman. Selesai.
Dan ia tersenyum, bangga, tanpa rasa takut—untuk pertama kali dalam hidupnya membiarkan sesuatu menjadi cukup baik, dan menemukan bahwa langit tak runtuh karenanya.