Jefri menemukan kertas itu di laci meja kerja Bengkel 7—selembar kertas surat polos, agak kekuningan, sisa dari entah kapan. Ia mengambilnya tanpa berpikir, lalu menatapnya lama, dan Arka yang kebetulan ada di dekatnya melihat sesuatu berubah di wajah temannya itu.
"Kenapa, Jef?" tanya Arka.
Jefri tak langsung menjawab. Ia melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku. "Nggak apa-apa."
Tapi tiga hari kemudian, Jefri datang ke bengkel lebih awal dari biasanya, ketika hanya Arka yang sudah di sana. Ia duduk di bangku panjang, mengeluarkan kertas itu, dan meletakkannya di meja. Lalu ia berkata, tanpa basa-basi, dengan gaya khasnya yang ceplas-ceplos tapi kali ini bergetar di tepinya, "Aku mau nulis surat buat bapakku."
Arka tahu kisah Jefri. Mereka semua tahu sekarang, sejak luka itu terbongkar berbulan-bulan lalu. Bapak Jefri dulu montir andal—tangan terbaik di kawasan ini, kata orang—tapi bengkelnya bangkrut, kalah saing dari bengkel besar seperti milik Pak Wira yang punya modal dan mesin baru. Setelah bangkrut, lelaki itu pergi. Meninggalkan istri dan anaknya, hilang entah ke mana, mungkin mencari kerja di kota lain, mungkin sekadar tak tahan menanggung malu. Jefri masuk jurusan otomotif untuk membuktikan ia lebih dari sekadar anak montir gagal. Permusuhannya pada jurusan pemesinan, gengsi antarjurusan yang dulu jadi sumber gesekan, semuanya adalah topeng dari satu hal: iri pada kerja presisi yang tak pernah sempat diajarkan bapaknya sebelum pergi.
"Kamu tahu di mana bapakmu sekarang?" tanya Arka hati-hati.
Jefri mengangkat bahu. "Nggak persis. Tapi paklikku tahu alamat terakhirnya. Kota seberang, katanya. Kerja di bengkel orang." Ia menatap kertas kosong itu. "Aku nggak tahu surat ini bakal sampai apa nggak. Nggak tahu dia bakal baca apa nggak. Nggak tahu dia bakal balas apa nggak." Ia menelan ludah. "Tapi aku harus nulis."
"Kenapa sekarang?"
Jefri terdiam lama. Lalu ia berkata, pelan, "Karena sekarang aku punya sesuatu buat dikasih tahu. Dulu kalau aku nulis, isinya cuma marah. Cuma nyalahin dia karena pergi. Sekarang..." ia menatap mesin bubut di sudut, mesin yang dulu ia pandang rendah, "...sekarang aku bisa ngebubut, Ka. Aku bisa ngelas dudukan mesin. Aku bisa baca mesin yang bergerak. Aku udah bukan cuma anak montir gagal. Aku tukang. Tukang beneran."
Ia mulai menulis. Arka tak membaca dari balik bahunya—itu bukan haknya—tapi ia tinggal di bengkel, membersihkan perkakas dalam diam, menemani Jefri menulis surat yang sudah belasan tahun mengendap di dadanya.
Butuh lama. Jefri menulis, mencoret, merobek, mulai lagi. Beberapa kali ia berhenti dan menatap kosong ke dinding. Sekali ia mengusap matanya dengan punggung tangan dan pura-pura ada serpihan logam yang masuk. Arka tak berkomentar.
Ketika akhirnya selesai, Jefri menyandarkan punggungnya ke dinding dan menghela napas panjang, seolah baru saja mengangkat sesuatu yang sangat berat. "Udah," katanya.
"Kamu mau cerita isinya?" tanya Arka.
Jefri menatap kertas itu. "Nggak panjang. Aku cuma bilang... aku kabarin aku sekolah di SMK. Jurusan otomotif, tapi sekarang aku juga belajar pemesinan. Aku ceritain soal Bengkel 7, soal pesanan yang kita kerjain, soal mesin yang mogok dan kita benerin sendiri jam tiga subuh." Ia tersenyum kecil, getir. "Aku ceritain aku bisa ngebubut sekarang. Bisa ngelas. Hal-hal yang dulu pengen banget dia ajarin ke aku tapi nggak sempat."
Ia berhenti. "Dan aku bilang..." suaranya jadi serak, "...aku bilang aku nggak benci dia lagi. Dulu aku benci. Bertahun-tahun aku benci dia karena pergi, karena ninggalin kami, karena bikin aku jadi anak yang bapaknya kabur. Tapi sekarang aku ngerti. Sekarang aku tahu rasanya bengkel kalah saing, rasanya kerja keras tapi tetap kalah sama yang punya modal lebih gede. Aku lihat itu di Pak Wira lawan kita. Aku ngerti kenapa dia hancur. Bukan berarti yang dia lakuin benar—ninggalin anak istri itu salah, titik. Tapi aku ngerti dia bukan jahat. Dia cuma... kalah, dan nggak kuat nanggung malunya."
Arka mendengarkan dalam diam, dan ia teringat bapaknya sendiri—bapaknya yang menolak kerja jauh demi tetap dekat keluarga, bapaknya yang menarik gerobak rosok dengan punggung membungkuk tapi tak pernah pergi. Betapa berbedanya dua bapak ini, dan betapa nasib bisa begitu tipis garisnya—satu lelaki bertahan, satu lelaki kabur, mungkin keduanya sama-sama hancur, tapi memilih jalan yang berbeda.
"Terus kamu tutup gimana?" tanya Arka.
Jefri membaca baris terakhir suratnya, dan suaranya hampir berbisik. "Aku tutup dengan: 'Pak, aku nggak nuntut Bapak balik. Nggak nuntut Bapak ngapa-ngapain. Aku cuma pengen Bapak tahu, anakmu nggak jadi orang gagal kayak yang Bapak takutin. Aku tukang yang bisa bikin barang dipakai orang. Dan kalau suatu hari Bapak pengen lihat aku kerja, aku ada di Bengkel 7, SMK Wijaya Karya Nusantara. Pintunya nggak digembok lagi.'"
Arka merasakan tenggorokannya tercekat.
Jefri melipat surat itu, memasukkannya ke amplop, menuliskan alamat yang ia dapat dari paklik-nya. "Mungkin nggak sampai," katanya lagi, kali ini lebih tenang. "Mungkin alamatnya udah pindah. Mungkin dia baca terus nggak peduli. Mungkin macam-macam." Ia menatap amplop di tangannya. "Tapi kamu tahu nggak, Ka? Anehnya, sekarang aku ngerasa... lega. Padahal belum dikirim. Padahal belum tahu bakal dibalas apa nggak."
"Kenapa lega?" tanya Arka.
Jefri tersenyum, dan untuk pertama kali senyum itu tak ada getirnya. "Karena ternyata surat ini bukan buat dia. Surat ini buat aku. Buat ngeluarin semua yang udah belasan tahun nyangkut di dada. Setelah ini, mau dia balas atau nggak, mau dia peduli atau nggak—itu urusan dia. Aku udah ngelakuin bagianku. Aku udah bilang. Aku udah cukup."
Dan Arka mengerti. Gengsi antarjurusan yang dulu jadi topeng amarah Jefri—gengsi yang membuatnya keras kepala, yang membuatnya merendahkan kerja presisi karena itu mengingatkannya pada apa yang bapaknya gagal ajarkan—gengsi itu kini lenyap. Tergantikan bukan oleh kemenangan atas bapaknya, bukan oleh balas dendam, melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih sulit didapat: rasa cukup atas diri sendiri. Jefri tak lagi perlu membuktikan apa pun pada lelaki yang pergi. Ia sudah membuktikannya pada satu-satunya orang yang benar-benar perlu diyakinkan—dirinya sendiri.
Sore itu, Jefri mengantar surat itu ke kantor pos di ujung jalan. Arka menemaninya. Ketika amplop itu jatuh ke dalam kotak surat dengan bunyi pelan, Jefri berdiri diam sejenak, menatap kotak besi merah itu, lalu berbalik dan tersenyum.
"Yuk balik," katanya. "Komponen Bu Marni belum kelar."
Dan mereka berjalan pulang ke bengkel, ke kerja yang menunggu, ke kehidupan yang terus berdenyut—seorang anak muda yang akhirnya berdamai dengan luka tertuanya, bukan dengan menyembuhkan masa lalu yang tak bisa diubah, tapi dengan melepaskannya.