Tawaran itu datang lagi, persis seperti yang ditakutkan Sari—pemilik warung tempatnya kerja malam menawarkan kerja penuh, siang dan malam, dengan upah yang jauh lebih besar. Bu Tum, pemilik warung itu, bukan orang jahat; ia bahkan menyukai Sari dan ingin membantunya. Tapi bantuannya berbentuk jebakan: gaji yang cukup hari ini, dengan syarat berhenti sekolah.
"Aku sudah hampir terima dulu," kata Sari pada tim suatu sore, ketika mereka beristirahat di luar bengkel sambil minum teh dari termos yang dibawa Wening. "Waktu kalian lagi sibuk-sibuknya nyiapin dokumen. Aku diam-diam udah mau pamit. Tapi terus..." ia tersenyum kecil, "...terus kalian malah patungan nutupin kebutuhan keluargaku. Padahal kalian sendiri juga susah."
Arka ingat saat itu. Mereka mengumpulkan uang receh, hasil kerja part-time masing-masing, untuk menambal kekurangan keluarga Sari agar ia bisa bertahan sekolah. Itu pengorbanan yang nyata—Jefri menunda beli sepatu baru yang sudah jebol, Arka menyetor lebih sedikit ke bapaknya selama dua minggu, Wening menjual buku-buku lamanya. Bukan jumlah besar, tapi cukup untuk membeli Sari waktu.
"Sekarang gimana?" tanya Bayu. "Bu Tum nawarin lagi?"
Sari mengangguk. "Tadi pagi. Gaji lebih gede dari yang dulu. Dan..." ia menunduk, "...emakku nyuruh aku terima. Katanya buat apa sekolah kalau bisa langsung kerja dan bawa uang."
Kalimat itu menggantung berat. Arka mengenal logika itu terlalu baik—logika yang sama yang dulu hampir membuatnya berhenti sekolah, logika kemiskinan yang selalu memilih uang hari ini di atas kemungkinan esok hari, karena esok hari terlalu jauh dan perut hari ini terlalu nyata.
"Kamu mau terima?" tanya Arka pelan.
Sari diam lama. "Nggak tahu. Itu masalahnya. Aku nggak tahu. Sebagian diriku pengen banget bilang iya—biar emak senang, biar nggak jadi beban. Tapi sebagian lagi..." ia menggenggam gelas tehnya, "...sebagian lagi inget gimana rasanya waktu Pak Soeharno muji komponen yang kita bikin. Inget gimana rasanya bisa baca jangka sorong. Inget gimana rasanya jadi orang yang bisa bikin sesuatu, bukan cuma ngelap meja."
Wening, yang sejak tadi diam, membuka buku catatannya. "Sar, boleh aku hitungin sesuatu?"
Sari menoleh.
"Bukan buat maksa kamu," kata Wening cepat. "Cuma biar kamu mutusin sambil tahu angkanya. Bukan cuma sambil tahu perasaannya."
Ia mulai menulis. Gaji penuh di warung, dikali dua belas bulan, dikali sepuluh tahun ke depan. Lalu di kolom sebelah, ia menulis sesuatu yang lain: upah pekerja dengan sertifikat kompetensi pemesinan, gaji awal di pabrik atau bengkel, dengan catatan kenaikan tiap tahun. Angka pertama besar di awal lalu mendatar. Angka kedua kecil di awal lalu menanjak.
"Lihat," kata Wening, menunjuk titik temu kedua angka itu. "Tiga tahun. Cuma tiga tahun. Setelah itu, kerja dengan sertifikat lebih tinggi dari kerja di warung. Dan ini belum hitung kalau kamu nanti buka usaha sendiri." Ia menatap Sari. "Yang kamu tukar bukan 'sekolah' lawan 'uang'. Yang kamu tukar adalah 'uang sekarang yang mentok' lawan 'uang nanti yang naik terus'. Tiga tahun pertama berat. Tapi setelah itu..."
Sari menatap angka-angka itu, dan matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi tiga tahun itu lama, Wen. Emakku butuhnya sekarang. Adik-adikku makan sekarang."
Dan di situlah letak kepedihan yang sesungguhnya, yang tak bisa dipecahkan oleh hitungan mana pun. Karena kemiskinan tak peduli pada grafik yang berpotongan di tahun ketiga. Kemiskinan peduli pada nasi hari ini.
Arka berpikir keras. Lalu ia teringat sesuatu. "Sar. Bengkel sekarang udah resmi. Teaching factory. Dan teaching factory itu..." ia menoleh ke arah bengkel, "...itu boleh, malah harus, bayar murid yang produktif. Pak Hartono bilang gitu pas masa pembinaan ini. Order dari Bu Marni, dari pabrik, dari Pak Wira nanti—itu menghasilkan. Sebagian buat operasional, tapi sebagian buat upah kerja murid."
Wening mendongak, matanya bersinar karena ia langsung paham. "Iya. Iya, Ka. Kalau Sari kerja produktif di bengkel, dia dapat upah. Mungkin nggak sebesar warung. Tapi dia dapat upah SAMBIL sekolah, sambil dapat sertifikat. Dia nggak harus milih."
Sari menatap mereka bergantian. "Beneran? Bengkel bisa bayar?"
"Nggak banyak," Arka jujur. "Awalnya pasti kecil. Tapi nyata. Dan tiap bulan bisa naik kalau order nambah. Kamu bisa bantuin emak sebagian, sambil tetap sekolah, sambil tetap belajar."
Untuk pertama kali sore itu, sesuatu yang seperti harapan muncul di wajah Sari. Bukan jalan yang mudah—upah bengkel pasti lebih kecil dari warung, dan ia masih harus berhemat habis-habisan. Tapi itu jalan yang tak memaksanya membakar masa depannya demi hari ini.
Malam itu, Arka tahu kemudian, Sari pulang dan bicara dengan emaknya. Bukan dengan air mata, bukan dengan memohon, tapi dengan angka-angka yang dihitung Wening dan dengan janji upah bengkel yang nyata meski kecil. Emaknya, perempuan lelah yang seumur hidup hanya tahu memilih uang yang ada di depan mata, mendengarkan dengan dahi berkerut. Butuh dua malam perdebatan. Tapi akhirnya, ketika Sari membawa pulang upah bengkel pertamanya—jumlah yang sederhana, tapi diperoleh dengan tangannya sendiri sambil tetap memegang seragam sekolah—emaknya tak lagi menyuruhnya berhenti.
"Aku mau buka usaha sendiri nanti," kata Sari pada tim beberapa hari kemudian, matanya berbinar. "Bukan warung. Bengkel kecil. Atau toko perkakas. Sesuatu yang aku punya sendiri." Ia tertawa, hampir tak percaya pada kata-katanya sendiri. "Dulu cita-citaku cuma nggak kelaperan. Sekarang aku berani punya cita-cita yang lebih dari itu."
Arka memandangnya, dan ia menyadari betapa rapuhnya taruhan ini sejak awal—betapa mudahnya Sari hilang ke dunia kerja malam yang tak berujung, betapa tipisnya garis antara anak yang menyelesaikan sekolah dan anak yang tenggelam jadi buruh seumur hidup. Yang menyelamatkan Sari bukan keajaiban, bukan beasiswa dari langit. Yang menyelamatkannya adalah lima tangan yang menolak melepasnya, sebuah hitungan yang jujur, dan sebuah bengkel yang akhirnya cukup hidup untuk membayar mereka yang menghidupkannya.