Sepekan setelah Pak Damar pensiun, Pak Tarno datang ke Bengkel 7 bukan untuk mengantar Bayu, bukan untuk berdiri di ambang pintu, melainkan untuk masuk.
Ia datang sore hari, ketika matahari sudah condong dan bengkel hampir kosong. Hanya Arka dan Bayu yang masih di sana, membereskan perkakas setelah menyelesaikan komponen Bu Marni. Pak Tarno berdiri di gerbang bengkel, dan untuk waktu yang lama ia tak melangkah masuk—hanya menatap pintu besi berangka tujuh yang terbuka lebar, menatap ke dalam, ke arah mesin-mesin yang menderum pelan di sudut.
Bayu yang pertama menyadarinya. "Pakde?"
Pak Tarno tak menjawab. Matanya terpaku pada satu titik di dalam bengkel: mesin bubut besar di sudut, mesin paling tua, mesin yang lima belas tahun lalu menelan tangan kanannya saat ia memaksakan lembur dengan pengaman yang sengaja ia lepas.
Arka mematikan mesin yang sedang ia bersihkan. Ia mengerti, tanpa perlu dijelaskan, betapa beratnya langkah yang sedang Pak Tarno coba ambil. Lelaki ini sudah lima belas tahun menghindari tempat ini. Lima belas tahun menyembunyikan tangannya yang cacat di balik punggung, di balik lengan baju, di balik rasa malu. Lima belas tahun membiarkan luka itu mengeras jadi sesuatu yang ia bawa ke mana-mana tanpa pernah benar-benar ia hadapi.
"Pakde mau masuk?" tanya Arka pelan, hati-hati, seperti orang yang menawarkan tangan pada hewan liar yang ketakutan.
Pak Tarno menelan ludah. Lehernya bergerak. Lalu, dengan langkah yang sangat pelan, seolah lantai bengkel itu bisa ambruk di bawah kakinya, ia melangkah masuk.
Satu langkah. Dua langkah. Ia berhenti di tengah ruangan, dan Arka melihat napas lelaki itu memburu, dadanya naik turun. Keringat muncul di dahinya meski sore itu tak panas. Matanya tak lepas dari mesin bubut besar di sudut.
"Pakde," Bayu mendekat, suaranya cemas, "kalau berat, nggak usah dipaksa—"
"Nggak," potong Pak Tarno, suaranya parau. "Saya harus." Ia menatap keponakannya. "Lima belas tahun, Bayu. Lima belas tahun saya lari dari mesin ini. Tiap malam saya mimpi suaranya. Suara waktu... waktu itu kejadian. Dan saya nggak pernah berani balik buat lihat dia diam." Ia kembali menatap mesin itu. "Pak Damar udah pergi dengan namanya bersih. Saya udah ngaku saya yang lepas pengaman. Tapi saya belum..." suaranya bergetar, "...saya belum berdamai sama benda yang ngambil tangan saya."
Ia melangkah lagi. Mendekati mesin bubut besar itu. Arka dan Bayu mengikutinya dari belakang, siap menangkapnya kalau ia jatuh, tapi tak menyentuhnya—ini adalah perjalanan yang harus Pak Tarno tempuh sendiri.
Pak Tarno berhenti di depan mesin itu. Mesin tua yang sudah diperiksa Pak Broto, sudah diganti bantalannya, sudah dipasangi pengaman baru yang benar. Mesin yang kini, oleh tangan-tangan murid, telah berubah dari benda terkutuk jadi alat yang mengajar. Pak Tarno menatap permukaannya yang berkilau oleh oli, cekam rahangnya, tuas-tuasnya, pengaman barunya yang mengilap.
Lalu, perlahan, ia mengangkat tangan kanannya—tangan yang cacat, yang selama ini ia sembunyikan—dan meletakkannya di atas badan mesin itu.
Arka menahan napas.
Untuk waktu yang lama, Pak Tarno hanya berdiri di sana, telapak tangannya yang cacat menempel di logam dingin mesin yang merenggutnya. Bahunya gemetar. Lalu Arka menyadari lelaki itu menangis—diam-diam, tanpa suara, air mata mengalir di pipinya yang keriput dan jatuh ke lantai bengkel di antara serpihan logam.
"Halo," bisik Pak Tarno pada mesin itu, dan kata itu begitu ganjil, begitu menyayat, hingga Arka merasakan matanya sendiri panas. "Lama nggak ketemu."
Ia membelai badan mesin itu dengan tangannya yang cacat, pelan, seperti orang yang mengelus hewan tua yang dulu menggigitnya tapi kini sudah terlalu renta untuk dibenci. "Aku nggak benci kamu," katanya, suaranya pecah. "Dulu aku benci. Bertahun-tahun. Tapi kamu cuma mesin. Yang salah aku. Aku yang lepas pengamanmu. Aku yang maksain. Kamu cuma... kamu cuma jalan kayak yang seharusnya."
Bayu tak tahan lagi. Ia melangkah maju dan memeluk pakdenya dari samping, kepalanya menempel di bahu lelaki tua itu. Pak Tarno tak melepaskan tangannya dari mesin, tapi tangan kirinya yang utuh memeluk balik keponakannya, dan keduanya berdiri di sana—seorang lelaki tua yang akhirnya menghadapi mimpi buruknya, dan seorang anak muda yang dulu mewarisi ketakutan pakdenya tapi telah mengubahnya jadi keberanian.
Arka mundur perlahan, memberi mereka ruang, dan menyaksikan dari kejauhan dengan tenggorokan tercekat. Ia teringat hari verifikasi, ketika Bayu—Bayu yang penakut—mengerjakan komponen di mesin yang sama ini di depan tim dinas, tenang dan presisi, dengan ritual keselamatan yang sudah jadi refleks. Saat itu Arka mengira itu adalah luka tertua dalam cerita mereka yang akhirnya menemukan penyembuhannya. Tapi ia salah. Penyembuhan yang sesungguhnya bukan ketika Bayu menaklukkan mesin itu. Penyembuhan yang sesungguhnya adalah ini: ketika korban tertua, lelaki yang kehilangan paling banyak, akhirnya bisa menyentuh benda yang merenggutnya tanpa dendam, hanya dengan damai.
Ketika Pak Tarno akhirnya melepaskan tangannya dari mesin, ia tampak lebih ringan, seolah ada beban tak kasat mata yang baru saja ia letakkan di atas logam tua itu. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan kirinya, lalu—untuk pertama kali sepanjang Arka mengenalnya—ia tak menyembunyikan tangan kanannya yang cacat. Ia membiarkannya tergantung di sisinya, terlihat, apa adanya.
"Boleh saya... sesekali main ke sini?" tanya Pak Tarno, suaranya sudah lebih tenang. "Lihat-lihat aja. Lihat anak-anak kerja."
"Boleh banget, Pakde," jawab Arka cepat. "Malah... kalau Pakde mau, sesekali cerita ke kami soal kerja di pabrik dulu. Soal mesin-mesin lama. Pakde kan dulu pekerja. Banyak yang Pakde tahu yang nggak ada di buku."
Pak Tarno menatapnya, dan sesuatu menghangat di matanya yang lelah. "Kamu serius?"
"Serius. Pak Damar dulu juga bilang, ilmu yang paling berharga itu yang dari tangan, bukan dari kertas."
Pak Tarno mengangguk pelan, dan untuk pertama kali dalam lima belas tahun, ia tersenyum di dalam Bengkel 7—bukan senyum getir, bukan senyum yang menyembunyikan luka, tapi senyum orang yang akhirnya pulang ke tempat yang dulu ia kira tak akan pernah bisa ia datangi lagi.