Surat keputusan dinas mengubah segalanya dan tak mengubah satu hal: usia Pak Damar. Ia tetap tua. Pensiunnya tetap jatuh tempo akhir bulan itu, persis seperti yang tertulis di berkas kepegawaian belasan tahun lalu, jauh sebelum ada Bengkel 7 yang hidup, jauh sebelum ada nama yang harus dibersihkan.
Arka tahu hari itu akan datang. Mereka semua tahu. Tapi mengetahui sesuatu akan datang tak pernah benar-benar mempersiapkanmu untuk kedatangannya.
"Pak nggak bisa minta perpanjangan?" tanya Sari suatu sore, ketika kabar pensiun itu jadi bahan obrolan di bengkel. "Sekarang sekolah lagi butuh-butuhnya guru praktik. Masa pembinaan dua tahun. Pak Damar yang paling ngerti teaching factory."
Pak Damar, yang sedang mengasah pahat di gerinda, menggeleng tanpa berhenti dari pekerjaannya. "Aturan itu aturan, Sar. Saya sudah lewat umur. Lagipula..." ia mematikan gerinda, dan percikan api terakhir padam, "...sekolah ini nggak boleh bergantung sama satu orang tua. Kalau Bengkel 7 cuma bisa hidup selama saya ada, berarti dia belum benar-benar hidup. Dia cuma napas saya yang pinjam."
Kalimat itu menusuk Arka, karena ia tahu Pak Damar benar, dan kebenaran itu pahit. Tapi gurunya melanjutkan, dan kali ini suaranya melembut, ditujukan terutama pada Arka.
"Yang saya takutkan dulu bukan pensiun. Yang saya takutkan adalah pensiun dengan bawaan yang belum saya letakkan. Lima belas tahun saya pikir saya bakal pergi dengan rahasia itu masih nempel di punggung, sampai mati nanti. Bahwa orang-orang bakal inget saya sebagai guru yang gara-gara dia, anak orang kehilangan tangan." Ia menatap mesin bubut besar di sudut, mesin yang dulu menelan tangan Pak Tarno. "Sekarang nggak lagi. Sekarang saya bisa pergi ringan. Itu hadiah dari kalian yang nggak bakal saya bisa balas."
Hari terakhir Pak Damar mengajar jatuh pada Jumat. Sekolah, dengan dana seadanya, mengadakan acara perpisahan kecil di aula yang sebagian gentingnya masih bolong. Pak Hartono memberi sambutan, suaranya tersendat di beberapa bagian. Guru-guru menyalami Pak Damar satu per satu. Beberapa murid yang dulu tak pernah dekat dengannya pun ikut datang, karena kabar tentang Bengkel 7 dan apa yang dilakukan guru tua itu sudah menyebar ke seluruh sekolah.
Tapi Arka tahu, dan tim tahu, bahwa perpisahan yang sesungguhnya bukan di aula. Itu di Bengkel 7.
Sore itu, setelah acara aula bubar, kelima murid mengajak Pak Damar ke bengkel untuk terakhir kalinya sebagai guru mereka. Pak Tarno datang juga, diam-diam, berdiri di ambang pintu seperti biasa. Sinar matahari sore masuk miring lewat jendela yang berdebu, menyinari serpihan logam di lantai sampai berkilau seperti pasir emas.
Mereka tak menyiapkan pidato. Mereka tak pandai berkata-kata. Sebagai gantinya, mereka menyiapkan sesuatu yang lain.
"Pak," kata Arka, dan ia mengeluarkan sebuah benda dari kantong celananya. Sebuah komponen kecil dari kuningan, dibubut dengan presisi, permukaannya dipoles sampai mengilap. Bentuknya sederhana—sebuah cincin dengan ulir halus di dalamnya—tapi setiap lekuknya dikerjakan dengan teliti. "Kami bikin ini barengan. Lima tangan. Bukan buat dijual. Buat Pak Damar."
Pak Damar menerimanya, memutarnya di antara jari-jarinya yang berurat, memeriksa kerjanya seperti ia selalu memeriksa kerja murid-muridnya. Dan Arka melihat tangan gurunya itu gemetar.
"Ulirnya rapi," kata Pak Damar pelan, suaranya serak. "Toleransinya bagus. Permukaannya halus." Ia mendongak, dan matanya basah. "Siapa yang ngebubut ulirnya?"
"Bayu, Pak," jawab Wening.
Pak Damar menatap Bayu—anak yang dulu paling penakut, yang dulu gemetar bahkan untuk menyalakan mesin. "Bayu," ulangnya, dan ia tertawa kecil di sela tangis yang ditahan. "Yang dulu nggak berani megang pahat. Sekarang ngebubut ulir dalam yang rapinya kayak gini."
Bayu menunduk, tapi Arka melihat sudut bibirnya naik.
Lalu Pak Damar melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kunci—kunci gembok Bengkel 7, kunci yang dulu ia bawa ke mana-mana, kunci yang dulu ia titipkan pada Arka dalam malam paling genting. Kunci yang sama yang dulu memberi Arka pilihan antara melanggar aturan atau membiarkan sekolahnya mati.
"Ini," kata Pak Damar, dan ia mengulurkan kunci itu kepada Arka, "buat kamu."
Arka tak langsung menerimanya. "Pak, tapi... saya cuma murid. Kunci ini harusnya di sekolah, di Pak Hartono—"
"Sekolah punya kuncinya sendiri," potong Pak Damar. "Ini punya saya. Yang saya bawa lima belas tahun. Yang saya pikir bakal saya bawa sampai mati." Ia menatap Arka dalam-dalam. "Saya nggak nyerahin ini ke kamu sebagai pengurus. Itu urusan administrasi, ada suratnya nanti. Saya nyerahin ini sebagai..." ia mencari kata, "...sebagai orang tua yang nyerahin yang paling dia jaga ke tangan yang dia percaya."
Arka menerima kunci itu. Dingin, berat, ujungnya sudah aus karena pakai. Ia menggenggamnya, dan tiba-tiba terbayang malam ketika kunci yang sama ini ada di tangannya, ketika ia harus memilih, ketika seluruh cerita ini sebenarnya dimulai dari sebuah pilihan kecil yang ia ambil dengan gemetar.
"Jaga, ya," kata Pak Damar. "Bukan kuncinya. Yang di dalam."
Arka mengangguk, tak mampu bicara.
Pak Damar menatap bengkel itu untuk waktu yang lama—mesin-mesin tua, papan keselamatan yang kini terbaca jelas, foto-foto kecil karya pertama mereka yang mulai mereka tempel di dinding. Lalu ia menarik napas, seolah menghirup bau oli dan logam itu untuk terakhir kali, dan berbalik ke arah pintu.
Di ambang pintu, Pak Tarno berdiri menunggunya. Dua lelaki tua itu—satu yang merasa bersalah selama lima belas tahun, satu yang kehilangan tangannya—saling menatap. Lalu Pak Tarno mengulurkan tangan kirinya, satu-satunya tangan yang utuh, dan Pak Damar menjabatnya. Tak ada kata. Tak perlu kata. Beban yang dulu memisahkan mereka sudah terangkat, dan yang tersisa hanya dua orang tua yang akhirnya bisa saling memandang tanpa luka.
Pak Damar melangkah keluar dari Bengkel 7, melewati halaman yang disepuh cahaya sore, dan tak menoleh lagi. Tapi langkahnya, Arka memerhatikan, ringan—langkah orang yang akhirnya meletakkan sesuatu yang terlalu lama ia panggul. Ia pergi bukan sebagai pelarian. Ia pergi sebagai orang yang telah menebus, dan karena itu, bisa pulang dengan damai.