Rombongan dinas pamit menjelang siang. Mereka bersalaman satu per satu, dan ketika giliran Pak Soeharno menyalami Arka, genggamannya lebih lama dari yang lain. Tapi tak ada janji. Tak ada kata yang bisa dipegang. Hanya sebuah anggukan dan sebaris kalimat yang akan Arka putar berulang-ulang di kepalanya sepanjang hari-hari berikutnya.
"Saya akan tulis apa yang saya lihat," kata Pak Soeharno. "Apa adanya. Yang baik dan yang kurang."
Lalu ia masuk ke mobil dinas berwarna abu-abu yang sudah pudar catnya, dan rombongan itu pergi, meninggalkan debu tipis di halaman sekolah dan keheningan yang aneh di Bengkel 7.
Untuk beberapa saat, tak ada yang bicara. Pak Hartono masih berdiri di tempatnya, tangan di saku, menatap pintu gerbang yang sudah kosong. Pak Wira sudah pulang lebih dulu, kembali ke bengkelnya sendiri tanpa banyak kata, hanya menepuk pundak Arka satu kali dengan canggung sebelum pergi. Pak Damar duduk di bangku panjang dekat mesin bubut, mengelap tangannya dengan majun yang sudah hitam, gerakannya pelan seperti orang yang lelah sampai ke tulang.
Sari yang pertama berani memecah hening. "Jadi... gimana? Kita menang?"
Tak ada yang menjawab. Karena tak ada yang tahu.
Malam itu, Pak Hartono memanggil mereka berkumpul di ruang guru. Beberapa guru honorer ikut—Pak Eko dengan kemeja batiknya yang lusuh, Bu Ratih guru bahasa yang matanya masih merah seperti habis menangis. Pak Hartono berdiri di depan papan tulis yang penuh coretan jadwal lama, dan untuk pertama kali sejak Arka mengenalnya, kepala sekolah itu tampak seperti orang yang berusaha jujur sekaligus tidak ingin menyakiti.
"Saya mau kalian dengar ini dari saya," katanya. "Bukan dari kabar burung."
Ia menghela napas. "Pak Soeharno terkesan. Itu benar. Bengkel 7 jadi bahan pembicaraan mereka sampai ke mobil. Saya dengar sendiri ketua tim bilang ke anak buahnya, 'baru kali ini saya lihat SMK pinggiran yang punya napas.' Itu kata-katanya."
Sari hampir bersorak, tapi Pak Hartono mengangkat tangan.
"Tapi," lanjutnya, dan kata itu menjatuhkan ruangan kembali ke bumi, "satu bengkel bukan satu sekolah. Mereka juga lihat yang lain. Atap ruang kelas dua yang bocor. Lab komputer yang separuh mesinnya mati. Dokumen kurikulum yang banyak belum lengkap. Rasio guru yang tak ideal. Perpustakaan yang bukunya terbitan sepuluh tahun lalu." Ia berhenti. "Mereka tidak menilai Bengkel 7. Mereka menilai sekolah. Dan sekolah ini, anak-anak, masih jauh dari kata sempurna."
Arka merasakan sesuatu mengempis di dalam dadanya. Ia tahu Pak Hartono benar. Ia sudah tahu sejak awal, sebenarnya—bahwa apa yang mereka lakukan di Bengkel 7 hanyalah satu titik terang di gedung yang sebagian besarnya masih remang. Tapi mendengarnya diucapkan terang-terangan, setelah pagi yang terasa seperti kemenangan, terasa seperti tangga yang tiba-tiba kehilangan anak tangga terakhirnya.
"Jadi kita kalah, Pak?" suara Bayu, pelan, hampir tak terdengar.
Pak Hartono menggeleng. "Saya tidak bilang begitu. Saya bilang belum tahu. Keputusan bukan di tangan Pak Soeharno sendiri. Ada rapat di dinas, ada pertimbangan anggaran, ada kepala dinas yang harus tanda tangan. Pak Soeharno cuma menulis laporan. Laporan itu bisa berbobot, bisa juga kalah sama hitungan di atas kertas yang bilang menggabungkan sekolah lebih hemat."
Ia menatap mereka satu per satu. "Saya tidak mau membohongi kalian dengan harapan. Saya sudah pernah melakukan itu pada diri saya sendiri, dan sakitnya tidak sepadan. Tapi saya juga tidak mau bilang ini sia-sia. Karena bukan."
Wening, yang sejak tadi diam dengan buku catatannya di pangkuan, mengangkat kepala. "Berapa lama, Pak? Sampai keputusannya turun?"
"Dua minggu. Mungkin tiga. Tergantung jadwal rapat mereka."
Dua minggu. Tiga minggu. Angka itu menggantung di udara ruang guru seperti sesuatu yang tak bisa disentuh. Setelah berbulan-bulan bekerja dengan tenggat yang jelas—tiga hari lagi, dua hari lagi, besok—sekarang mereka dihadapkan pada penantian yang tak punya bentuk. Tak ada yang bisa dikerjakan untuk mempercepatnya. Tak ada komponen yang bisa dibubut untuk membuatnya datang lebih cepat. Hanya waktu, kosong dan datar, yang harus dilalui.
Malam itu Arka pulang berjalan kaki melewati gang-gang sempit kawasan industri yang sebagian besar lampunya sudah mati. Ia melewati bekas pabrik tekstil yang jendelanya pecah-pecah, melewati deretan kos buruh yang separuh kamarnya kosong sejak pabrik tutup. Dulu ia berjalan di jalan-jalan ini dengan kepala tertunduk, malu pada kemiskinannya, malu pada masa depan yang tak jelas. Sekarang ia masih berjalan menunduk, tapi karena alasan yang berbeda—karena ia sedang berpikir, bukan karena ia sedang sembunyi.
Di rumah, bapaknya sedang menghitung uang receh hasil rosok hari itu di bawah lampu lima watt. Lestari, adiknya, sudah tidur meringkuk di kasur tipis. Bapaknya mendongak. "Gimana tadi? Yang dari dinas itu?"
Arka duduk di lantai di samping bapaknya. Ia berpikir lama sebelum menjawab. "Belum tahu, Pak. Mereka belum mutusin."
Bapaknya mengangguk, lalu kembali menghitung receh. "Ya. Begitulah orang-orang kantoran. Lambat." Tapi kemudian ia berhenti, dan menatap Arka dengan tatapan yang jarang Arka lihat—tatapan yang seolah sedang memandang anaknya untuk pertama kali. "Tapi kamu udah ngerjain yang bisa kamu kerjain, kan?"
"Iya, Pak."
"Ya udah. Sisanya bukan urusanmu lagi." Bapaknya kembali ke recehnya. "Tidur sana. Besok masih ada sekolah."
Arka berbaring di kasurnya yang berdecit, menatap langit-langit triplek yang noda airnya membentuk peta negeri antah-berantah. Bapaknya benar, dengan caranya yang kasar dan sederhana. Mereka sudah mengerjakan yang bisa dikerjakan. Mesin yang mogok sudah diperbaiki. Komponen sudah selesai. Pak Wira sudah jadi mitra. Pak Damar sudah bersih namanya. Apa pun yang diputuskan orang-orang di kota seberang, di ruang-ruang ber-AC yang Arka tak pernah masuki, tak akan mengubah satu hal: bahwa tangannya kini tahu cara membuat sesuatu yang dipakai orang, dan itu tak bisa direnggut siapa pun.
Tapi ia tetap tak bisa tidur. Karena tahu kau sudah berusaha tak sama dengan tahu kau akan menang. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Arka menyadari betapa beratnya menunggu sesuatu yang sepenuhnya di luar kendalimu—dan betapa kerja keras, sekeras apa pun, tak pernah membeli jaminan.