Pemeriksaan hampir selesai. Rombongan dinas mulai bergerak menuju ruang rapat untuk menyusun catatan akhir, dan untuk pertama kali sejak pagi, Arka membiarkan dirinya merasakan secercah harapan. Wajah Pak Soeharno tak lagi dingin. Pertanyaan-pertanyaannya yang terakhir terdengar lebih seperti orang yang mencari alasan untuk bilang ya, bukan tidak.
Lalu, di ambang pintu Bengkel 7, sebuah bayangan muncul. Dan seluruh tim membeku.
Pak Wira.
Lelaki tua yang aduannya nyaris menghancurkan sekolah ini berdiri di sana, dengan kemeja yang lebih rapi dari biasanya, memegang sebuah map. Arka merasakan perutnya jatuh. Semua kerja keras pagi ini, kejujuran Pak Damar, komponen Bayu—dan sekarang, di saat-saat terakhir, musuh lama mereka datang. Untuk apa kalau bukan menyerang? Untuk mengingatkan tim verifikasi soal aduan lama, soal tuduhan ilegal, soal segala hal buruk?
Sari menggenggam lengan Arka. Jefri melangkah maju setengah langkah, naluri melindungi. Pak Hartono memucat.
Pak Soeharno, yang tak tahu siapa Pak Wira, mengernyit. "Siapa ini?"
Pak Wira melangkah masuk. Matanya menyapu ruangan—mesin-mesin, komponen di meja inspeksi, anak-anak dengan tangan berlumur oli, lalu berhenti sejenak pada Arka. Ada sesuatu yang sulit di wajah lelaki tua itu, semacam pergulatan yang belum sepenuhnya selesai. Gengsi yang terluka. Tapi juga sesuatu yang lain.
"Saya Wira," katanya pada Pak Soeharno. Suaranya kaku, seperti orang yang melafalkan kalimat yang sudah ia latih dan tetap terasa pahit. "Saya punya bengkel di kawasan ini. Bengkel komersial. Dua puluh tahun."
Arka menahan napas. Inilah saatnya. Pak Wira akan bilang bengkel sekolah merusak pasar, bahwa anak-anak ini gratisan yang merampas rezeki orang.
Tapi yang dikatakan Pak Wira bukan itu.
"Saya datang," lanjutnya, dan tiap kata terdengar seperti ditarik keluar dengan susah, "untuk menyerahkan ini." Ia membuka map dan mengeluarkan selembar surat. "Surat kesediaan kerja sama. Bengkel saya mau bermitra dengan sekolah ini."
Ruangan terdiam total.
Pak Wira meletakkan surat itu di meja inspeksi, di samping komponen-komponen buatan murid. "Pengaturannya begini, Pak," katanya pada Pak Soeharno, meski sesekali matanya melirik Arka. "Order kecil-kecil yang nggak ekonomis buat saya kerjakan—satu dua biji, receh—saya arahkan ke anak-anak ini. Buat latihan mereka. Sebaliknya, order besar yang butuh presisi tinggi dan cepat, yang bahaya kalau dipaksakan ke mesin tua dan tangan yang masih belajar, mereka arahkan ke saya. Kami bagi pasar. Bukan rebutan."
Ia berhenti, menelan ludah. "Saya juga... saya punya pekerja. Salah satunya hampir saya berhentikan karena bengkel saya seret. Dengan kerja sama ini, mungkin saya nggak perlu mem-PHK siapa-siapa."
Arka menatap Pak Wira dengan dada yang penuh. Lelaki tua itu tak menatap balik—gengsinya tak akan mengizinkan itu—tapi Arka tahu apa yang baru saja terjadi. Tawaran damai yang ia bawa beberapa hari lalu, peta kasar dengan satu kata "cukup" di tengahnya, kertas yang Pak Wira terima tanpa menjawab—diterima. Diterima bukan dengan kata, tapi dengan tindakan, di saat yang paling tak terduga, di tempat yang paling menentukan.
Pak Soeharno mengambil surat itu dan membacanya. Lalu ia menatap Pak Wira, lalu Arka, lalu Pak Damar, dan wajahnya menyiratkan sesuatu yang akhirnya jelas: ia mengerti sekarang.
"Jadi," kata Pak Soeharno pelan, "bengkel komersial yang seharusnya saingan, malah jadi mitra."
"Bukan saingan, Pak," kata Arka, dan ia mengejutkan dirinya dengan keberanian berbicara. "Kami sama-sama orang kawasan ini. Kalau kami saling makan, kawasan ini mati. Tapi kalau saling lengkapi—bengkel besar buat yang besar, bengkel sekolah buat yang kecil—mungkin kami berdua bisa napas. Bengkel ini bukan cuma soal sekolah, Pak. Ini soal kawasan industri yang lagi sekarat, dan apakah kami bisa nemu cara buat bertahan bareng."
Pak Soeharno memandangnya lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk—dan kali ini, untuk pertama kali sepanjang hari, ada senyum tipis yang sungguhan di wajahnya.
"Anak muda," katanya, "saya sudah dua puluh tahun di dinas pendidikan. Saya datang ke sekolah-sekolah buat menilai gedung, dokumen, fasilitas. Tapi yang barusan kamu jelaskan—keterserapan dunia usaha, kemitraan industri, dampak ekonomi kawasan—itu justru inti dari kenapa SMK ada. Dan kalian melakukannya bukan di kertas. Kalian melakukannya beneran."
Ia menoleh ke timnya. Perempuan muda yang rajin mencatat itu sudah menulis dengan cepat, wajahnya bersemangat. Pak Soeharno menatap Pak Hartono.
"Saya belum bisa kasih keputusan, Pak Hartono. Itu bukan wewenang saya sendirian, dan masih banyak kekurangan administrasi yang harus saya catat jujur. Tapi saya akan bilang ini di laporan saya: sekolah ini bukan sekolah mati. Sekolah ini hidup. Dan menggabungkannya ke sekolah lain mungkin bukan menyelamatkannya—mungkin malah membunuh sesuatu yang langka."
Kata-kata itu menggantung di udara Bengkel 7 yang berbau oli.
Pak Hartono, kepala sekolah yang berbulan-bulan lalu sudah pasrah pada merger, berdiri dengan mata yang berkaca-kaca dan tak mampu bicara. Para guru di belakangnya saling pandang dengan harapan yang dulu tak berani mereka rasakan. Pak Damar menatap mesin bubut tuanya dengan wajah yang tenang. Pak Tarno, di ambang pintu, meletakkan tangannya yang cacat di bahu Bayu.
Dan Arka—Arka menatap Pak Wira, musuh lamanya yang kini berdiri canggung di sudut bengkel, dan ia mengangguk. Pak Wira mengangguk balik, satu kali, kaku, tapi nyata. Dua orang kawasan industri yang sekarat, yang dulu bermusuhan, kini berdiri di ruangan yang sama, di pihak yang sama.
Kemenangan belum pasti. Keputusan belum turun. Masih ada penantian panjang dan kekurangan yang harus ditambal. Tapi untuk satu pagi di Bengkel 7, dengan mesin tua yang berputar halus dan tangan-tangan yang sudah belajar, Arka merasakan sesuatu yang ia kira mustahil setahun lalu: bukan cuma harapan bahwa sekolahnya hidup, tapi keyakinan bahwa apa pun yang diputuskan orang-orang dari kota seberang, ia dan kawan-kawannya sudah memenangkan sesuatu yang tak bisa direnggut siapa pun.