Hari-hari berikutnya mengalir dengan keanehan yang sulit dijelaskan. Sekolah kembali ke ritme biasa—bel masuk yang sumbang, jam pelajaran yang mengantuk, kantin yang menjual gorengan yang itu-itu saja. Tapi di bawah permukaan yang biasa itu, ada sesuatu yang menggantung, seperti udara sebelum hujan yang tak kunjung turun.
Di Bengkel 7, tim kembali bekerja. Bukan karena ada yang menyuruh, tapi karena tak bekerja terasa lebih berat daripada bekerja. Pesanan Bu Marni masih harus diselesaikan—dua puluh komponen presisi untuk mesin pengaduk adonannya. Subkontrak dari pabrik kecil di seberang kawasan juga jalan terus; mereka sudah meneken kerja sama bertahap, dan menghentikannya hanya karena menunggu keputusan dinas terasa seperti mengkhianati sesuatu.
"Lagian," kata Jefri suatu sore sambil mengelap kacamata pengamannya, "kalau pun sekolah ini bubar, Bu Marni tetap butuh komponennya. Pabrik tetap butuh barangnya. Orang-orang ini nggak peduli sama keputusan dinas. Mereka cuma butuh barang yang jadi."
Kalimat Jefri yang ceplas-ceplos itu, anehnya, justru menenangkan. Karena di dalamnya ada kebenaran yang sering mereka lupakan dalam kepanikan akreditasi dan merger: bahwa di luar urusan dinas, ada dunia nyata yang terus berputar, dunia orang-orang kecil yang butuh sesuatu yang berfungsi dan dibuat dengan baik. Dan dunia itu, mereka sudah jadi bagiannya.
Wening menjalankan kendali mutu dengan ketelitian yang dulu hampir melumpuhkannya, tapi kini lebih tenang. Ia memeriksa setiap komponen dengan jangka sorong, mencatat angka, menyisihkan yang di luar toleransi. Pak Damar masih datang setiap hari, meski statusnya kini tak lagi 'dalam pemeriksaan'—ia datang karena tak tahu harus ke mana lagi, dan karena bengkel itu, setelah lima belas tahun terkunci, akhirnya jadi tempat ia bisa bernapas.
Arka memerhatikan gurunya itu dari kejauhan suatu siang. Pak Damar sedang mengajari Bayu menyetel pahat bubut, menjelaskan sudut potong dengan tangannya yang berurat, suaranya pelan dan sabar. Ada sesuatu yang berubah pada lelaki tua itu sejak hari verifikasi. Bahunya tak lagi membungkuk seberat dulu. Matanya, yang dulu selalu tampak menanggung sesuatu, kini lebih jernih.
"Pak," Arka mendekat saat Bayu pergi mengambil bahan. "Pak Damar nggak gugup nungguin keputusan?"
Pak Damar tersenyum tipis, tangannya tetap menyetel pahat. "Dulu iya. Dulu saya bakal nggak bisa tidur, mikirin yang nggak bisa saya ubah. Sekarang..." Ia berhenti, menimbang kata. "Sekarang saya udah terlalu tua buat capek karena hal yang bukan urusan saya."
Ia menatap Arka. "Kamu tahu apa yang saya pelajari dari lima belas tahun nyimpen rahasia, Ka? Saya pelajari bahwa nyiksa diri sendiri buat sesuatu yang udah lewat atau yang belum datang itu cuma bikin kita mati pelan-pelan sambil masih hidup. Yang bisa kita kerjain cuma hari ini. Komponen ini. Setelan pahat ini. Sisanya..." ia mengangkat bahu, "sisanya milik Yang Punya Waktu."
Arka merenungkan kata-kata itu sepanjang sisa hari. Ada kebijaksanaan getir di dalamnya, kebijaksanaan orang yang sudah terlalu lama membayar mahal untuk pelajaran yang seharusnya tak perlu semahal itu.
Malam-malam berikutnya, kabar burung beterbangan di sekolah seperti nyamuk yang tak bisa diusir. Ada yang bilang dengar dari saudaranya yang kerja di dinas bahwa keputusan sudah bulat untuk merger. Ada yang bilang sebaliknya. Ada guru yang sudah diam-diam melamar ke sekolah lain, berjaga-jaga. Bu Ratih, guru bahasa itu, suatu pagi datang dengan mata bengkak lagi—rumahnya ngontrak dekat sekolah, dan kalau merger jadi, ia harus pindah jauh atau menganggur. Pak Eko mulai lebih sering melamun di ruang guru.
Kegelisahan itu menular, dan Arka menyadari sesuatu: penantian bisa lebih menghancurkan daripada kekalahan itu sendiri. Dalam kekalahan, setidaknya kau tahu apa yang harus kau hadapi. Dalam penantian, kau dipaksa membayangkan dua kemungkinan sekaligus, dan keduanya menguras tenaga.
Suatu sore, ketika tim sedang membereskan bengkel, Sari tiba-tiba berkata, "Kalian tahu nggak, anehnya apa?"
Mereka menoleh.
"Anehnya," Sari melanjutkan, menggantung sapu di dinding, "aku jadi nggak takut kayak dulu lagi. Dulu kalau dengar kata 'merger', perutku langsung mules. Sekarang... ya, aku masih pengen sekolah ini selamat. Banget. Tapi kalau pun nggak..." ia menatap tangannya sendiri, telapak yang dulu cuma tahu mengelap meja warung kini bisa membaca jangka sorong, "...aku tetap udah belajar sesuatu yang nggak bakal hilang. Iya nggak sih?"
Arka menatapnya, dan tiba-tiba ia mengerti apa yang Sari maksud, karena ia merasakan hal yang persis sama. Mereka semua, kelima orang ini yang dulu dipaksa bersama oleh keadaan, telah berubah menjadi sesuatu yang tak bisa dikembalikan ke bentuk semula. Bayu yang dulu gemetar di depan mesin kini bisa mendiagnosis bantalan rusak dari suaranya. Jefri yang dulu memandang rendah jurusan pemesinan kini bisa membubut. Wening menemukan bahwa ketelitiannya adalah karunia, bukan kutukan. Sari tahu cara membaca gambar teknik. Dan Arka—Arka tak lagi malu mengaku bahwa tangannya adalah satu-satunya kekayaannya, karena ia akhirnya tahu betapa berharganya tangan yang tahu cara membuat sesuatu.
"Iya," kata Arka pelan. "Keputusan dinas bisa nutup gedung ini. Tapi nggak bisa nutup apa yang udah masuk ke kepala dan tangan kita. Itu udah jadi punya kita."
Wening, yang biasanya paling jarang bicara soal perasaan, menambahkan dengan suara hampir berbisik, "Bapakku selalu bilang nilai itu segalanya. Angka di rapor, peringkat, juara. Tapi nilai paling tinggi yang pernah aku dapat malah dari sini—dari mbenerin mesin yang mogok jam tiga subuh. Dan itu nggak ada angkanya."
Mereka tertawa kecil, tawa yang lelah tapi hangat. Lalu mereka melanjutkan membereskan bengkel, menggantung perkakas pada tempatnya, menyapu serpihan logam, mematikan lampu satu per satu. Pekerjaan biasa, dilakukan dengan tangan yang sudah belajar, di bawah papan keselamatan yang kini terbaca jelas.
Di luar, langit kawasan industri yang meredup itu berangsur gelap. Di kejauhan, klakson kereta barang melintas. Hidup berjalan terus, apa pun yang sedang ditimbang orang-orang di ruang rapat kota seberang. Dan untuk pertama kali sejak hari verifikasi, Arka menutup pintu besi berangka tujuh itu tanpa rasa gelisah—hanya dengan kelelahan yang puas dan keyakinan yang tenang bahwa mereka, bagaimanapun, sudah menang atas sesuatu yang lebih dalam daripada selembar keputusan.