Mereka datang pukul sembilan pagi, rombongan tiga mobil dinas yang berhenti di halaman sekolah yang sudah lama tak melihat tamu sebanyak itu.
Arka, yang cuma tidur dua jam dan masih bisa mencium bau oli di tangannya meski sudah dicuci tiga kali, memperhatikan dari jendela koridor. Lima orang turun. Empat membawa map dan tas. Yang satu—lelaki paruh baya berkemeja rapi, dengan kaca mata dan wajah yang sulit dibaca—berjalan di depan, dan dari caranya melangkah, Arka langsung tahu dialah ketuanya.
Pak Hartono menyambut mereka di depan, jas terbaiknya yang agak kebesaran, senyum yang berusaha tenang. Para guru berbaris di belakangnya. Bahkan dari jauh Arka bisa melihat ketegangan di tubuh kepala sekolahnya—ini hari yang menentukan apakah seluruh kerja keras berbulan-bulan berarti sesuatu, atau cuma menunda yang tak terhindarkan.
"Namanya Pak Soeharno," bisik Wening, yang sudah mencari tahu. "Ketua timnya. Katanya dia keras. Sudah merger tiga sekolah tahun ini. Orang-orang bilang dia datang ke sini cuma formalitas—keputusannya udah condong ke merger."
Arka menelan ludah. "Berarti kita harus bikin dia ragu sama keputusannya sendiri."
Verifikasi dimulai di ruang rapat. Arka tak ada di dalam—itu urusan kepala sekolah dan guru—tapi ia bisa membayangkan apa yang terjadi dari wajah-wajah yang keluar masuk. Pak Soeharno dan timnya memeriksa dokumen, menanyakan data, membuka berkas. Sesekali terdengar suara yang ditinggikan, lalu suara Pak Hartono yang berusaha menjelaskan.
Saat istirahat, Pak Eko keluar dengan wajah cemas. Arka mencegatnya. "Gimana, Pak?"
Pak Eko menggeleng pelan. "Berat, Arka. Kekurangan kita banyak. Rasio guru tetap kurang, sarana banyak yang nggak standar, beberapa lab kosong. Pak Soeharno itu... dia nggak kasar, tapi dia dingin. Tiap kali kita tunjukin yang bagus, dia langsung tunjuk yang kurang. Kayaknya dia udah nulis kesimpulannya di kepala."
Arka merasakan dadanya mengencang. Mereka mengumpulkan begitu banyak bukti, bekerja semalaman benerin mesin, dan kalau ketua tim sudah memutuskan sejak awal, semua itu mungkin tak ada artinya.
Kemudian rombongan mulai berkeliling. Arka mengikuti dari jarak yang sopan. Mereka memeriksa kelas-kelas—sebagian masih separuh kosong, tak bisa disembunyikan. Mereka memeriksa laboratorium komputer yang setengah unitnya rusak. Mereka memeriksa perpustakaan yang bukunya usang. Tiap ruang, Pak Soeharno mencatat sesuatu di mapnya dengan wajah yang tak berubah, dan tiap goresan pena itu terasa seperti satu paku lagi di peti mati sekolah.
Pak Hartono terus menjelaskan, tapi suaranya makin lama makin kehilangan tenaga. Arka bisa melihat kepala sekolahnya mulai pasrah lagi, kembali ke lelah lama yang dulu.
Lalu mereka tiba di koridor jurusan teknik. Dan di ujung koridor itu, pintu besi berangka tujuh.
Bengkel 7.
Pintu itu terbuka, dan dari dalam terdengar bunyi yang berbeda dari seluruh sekolah—bunyi mesin bubut yang berputar halus, dengung kompresor, dentang pelan logam pada logam, suara orang bekerja. Bau oli dan logam panas menguar dari ambang pintu, menyebar ke koridor yang sunyi.
Pak Soeharno berhenti. Untuk pertama kali pagi itu, ia tampak sedikit terkejut—bukan oleh kemegahan, karena Bengkel 7 sama sekali tak megah, tapi oleh sesuatu yang lebih mendasar. Suara hidup di sekolah yang ia kira mati.
"Apa ini?" tanyanya.
"Ini Bengkel 7, Pak," kata Pak Hartono, dan untuk pertama kali sejak pagi, ada nada berbeda di suaranya. Bukan permohonan. Tapi sesuatu yang lebih dekat dengan bangga. "Unit teaching factory kami."
Pak Soeharno menatap pintu itu lama. Salah satu anggota timnya, perempuan muda yang sejak tadi rajin mencatat, melongok ke dalam dan keningnya berkerut—bukan tak suka, tapi karena melihat sesuatu yang tak ada di daftar periksanya.
"Boleh kami masuk?" tanya Pak Soeharno.
"Tentu, Pak," kata Pak Hartono. "Silakan."
Dan ketika rombongan dinas itu melangkah ke ambang pintu besi berangka tujuh—pintu yang dulu digembok, dituduh ilegal dan berbahaya, pintu tempat seorang lelaki kehilangan tangannya lima belas tahun lalu—Arka menahan napas. Inilah ruangan yang akan bicara untuk mereka. Bukan dokumen, bukan kata-kata kepala sekolah, bukan semangat. Tapi benda, kerja, dan tangan-tangan yang sudah belajar.
Di dalam, Jefri menengadah dari mesin las, Bayu dari pengaman yang sedang ia periksa, Sari dari papan jadwalnya, Wening dari mikrometernya. Dan mesin bubut utama—yang semalam mati dan mereka hidupkan kembali sebelum subuh—berputar halus, bersih, sempurna, mengerjakan komponen pesanan pabrik yang nyaris tak selesai.
Pak Soeharno melangkah masuk. Dan Arka melihat, untuk pertama kali, wajah dingin itu retak oleh keheranan.