Malam itu Pak Damar datang juga, tapi ia tak menyentuh mesin.
Ia muncul sekitar pukul sembilan, dipanggil bukan oleh tim tapi oleh Pak Hartono yang khawatir mendengar mesin utama mogok. Tapi begitu ia melihat apa yang sedang terjadi—lima muridnya berlumur oli, mesin separuh terbongkar, Wening mencatat tiap baut di buku, Bayu berangkat ke kota mencari bantalan—Pak Damar mengerti sesuatu, dan ia tak ikut campur.
Ia menarik kursi plastik ke sudut, duduk, dan memandang. Sekali-sekali Sari membawakannya kopi. Sekali-sekali Arka melirik ke arahnya, mencari tanda apakah ia harus bertanya, tapi Pak Damar cuma menggeleng pelan tiap kali—bekerjalah, matanya berkata, ini kerja kalian.
Arka paham. Pak Damar sengaja menahan diri. Ini ujian terakhir, dan sang guru memilih jadi penonton.
Bayu kembali menjelang tengah malam, napas tersengal, membawa bantalan baru terbungkus kertas minyak. "Ada satu yang pas," katanya, menyeka keringat. "Toko terakhir yang buka. Hampir aja tutup pas aku sampai." Ia juga membawa kabar buruk: "Dudukannya, Mas. Aku sempat tanya yang punya toko, dia montir tua. Katanya kalau aus segini, dudukan poros biasanya ikut peyang. Harus dicek."
Mereka membongkar lebih dalam. Dan benar—dudukan poros utama, tempat bantalan duduk, sudah sedikit aus dan tak lagi bulat sempurna. Bantalan baru tak akan duduk rapat di situ; ia akan goyang, dan dalam beberapa hari akan aus lagi.
"Ini masalah," kata Jefri pelan, memeriksa dudukan dengan jari. "Kalau dipaksa, besok mesin jalan, tapi cuma sebentar. Begitu dipakai bubut beneran di depan orang dinas, bisa rusak lagi. Bisa malah lebih parah."
Di sudut, Pak Damar menyeruput kopinya dan tak bergerak.
Keheningan turun. Inilah momen ketika biasanya mereka akan menyerah pada guru, ketika satu masalah teknis yang sebenarnya terlalu rumit muncul dan tangan mereka yang masih belajar terasa tak cukup. Arka merasakan godaan itu—menoleh ke sudut, bertanya pada Pak Damar. Tapi ia menahannya.
"Jefri," kata Arka. "Lo inget waktu Pak Broto benerin dudukan bantalan mesin frais yang aus dulu? Dia nggak ganti dudukannya. Dia—"
"Dia bikin selongsong," sambung Jefri, matanya tiba-tiba menyala. "Bushing. Dia bubut selongsong tipis dari bahan keras, terus dipres ke dudukan yang aus, biar bantalannya duduk di selongsong itu, bukan langsung di dudukan yang udah peyang."
"Bisa kita bikin?"
Jefri berpikir cepat. "Bisa. Tapi butuh dibubut presisi. Dan mesin bubut kita..." Ia menunjuk mesin yang separuh terbongkar di depan mereka. "...lagi mati. Ironi banget."
"Mesin bubut kecil di pojok," kata Wening. "Yang biasa buat latihan. Masih jalan."
"Itu mesin tua banget, Wen. Presisinya—"
"Presisinya cukup kalau yang megang sabar," potong Wening, dan ada nada di suaranya yang membuat semua diam. Wening yang dulu takut salah, yang ketelitiannya pernah melumpuhkannya—kini berbicara dengan keyakinan tenang seorang yang tahu persis batas yang bisa diterima. "Toleransinya nggak harus sempurna. Cuma harus cukup. Aku yang ukur. Arka yang bubut. Bisa."
Dan begitulah mereka bekerja, melewati tengah malam, masing-masing pada perannya. Jefri mengelas ulang sebuah braket yang ikut retak, percikan apinya menerangi bengkel yang gelap. Bayu, di mesin bubut kecil, membantu Arka menyetel bahan—Bayu yang membaca getaran mesin dengan telinga yang sudah peka, yang bilang "pelan dulu" atau "ini bunyinya udah bener" pada saat-saat yang tepat. Arka membubut selongsong itu dengan kesabaran yang ia tak tahu ia miliki, mengambil potongan tipis demi tipis, sementara Wening mengukur tiap beberapa saat dengan mikrometer, membaca angka dengan suara pelan.
"Masih kebesaran dua perseratus."
Arka mengambil lagi. Serpihan logam menggulung tipis seperti rambut.
"Satu perseratus."
Lagi. Pelan. Sabar. Mesin tua adalah hubungan, bukan paksaan—Pak Damar pernah berkata begitu, dan kini kata-kata itu hidup di tangan Arka.
"Pas," kata Wening akhirnya, dan suaranya nyaris berbisik. "Pas, Arka."
Selongsong itu dipres ke dudukan yang aus dengan hati-hati. Bantalan baru duduk di dalamnya, rapat, bulat, kokoh. Sari menyiapkan oli baru. Wening membaca buku catatannya terbalik—tiap baut dipasang kembali dalam urutan yang benar, dikencangkan dengan torsi yang sesuai. Jefri memeriksa tiap sambungan dua kali. Bayu memeriksa pengaman, satu per satu, seperti yang selalu ia lakukan sekarang—karena Bayu lebih dari siapa pun tahu apa yang bisa terjadi kalau pengaman dilewati demi cepat.
Menjelang subuh, ketika langit di luar mulai keabu-abuan dan adzan pertama terdengar dari kejauhan, semuanya terpasang.
Arka berdiri di depan tuas. Tangannya gemetar—bukan karena takut mesin rusak, tapi karena beban malam itu, kelelahan, dan sesuatu yang lebih besar yang tak bisa ia namai. Ia menatap teman-temannya. Lima wajah lelah, berlumur oli, mata merah, tapi semua menatap mesin dengan sesuatu yang menyerupai doa.
Ia menarik tuas.
Mesin batuk sekali. Lalu poros mulai berputar—pelan dulu, lalu rata, lalu halus, sehalus yang Arka ingat dari hari-hari terbaiknya. Tak ada dengungan kasar. Tak ada getaran yang merambat ke lantai. Cuma putaran bersih sebuah mesin tua yang dihidupkan kembali oleh tangan-tangan yang sudah belajar.
Untuk beberapa saat, tak ada yang bicara. Lalu Sari mulai tertawa—tawa lelah yang nyaris menangis—dan Bayu menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan Jefri menepuk punggung Arka begitu keras sampai Arka terhuyung, dan Wening cuma berdiri di sana memandang mikrometernya, tersenyum.
Di sudut, Pak Damar berdiri dari kursi plastiknya. Ia tak bicara. Ia cuma memandang mereka, dan di wajah tua itu ada sesuatu yang Arka tak pernah lihat sejelas itu sebelumnya. Bukan kebanggaan seorang guru pada karyanya. Tapi sesuatu yang lebih dalam—seperti orang yang akhirnya bisa melepaskan beban yang ia pikul terlalu lama, karena ia tahu sekarang, dengan pasti, bahwa ada tangan-tangan lain yang sanggup memikulnya.
Ia mengangguk satu kali, pada Arka, lalu mengambil topinya. "Pulang, tidur sebentar," katanya, suaranya serak. "Beberapa jam lagi mereka datang. Kalian sudah siap."
Lalu ia pergi, meninggalkan bengkel yang berdengung pelan, dan lima teknisi muda yang baru saja menjadi teknisi sungguhan.