Di dalam Bengkel 7, Pak Soeharno berdiri diam selama beberapa saat, membiarkan matanya menyapu ruangan.
Arka mencoba melihat bengkel itu lewat mata orang asing. Ia tahu apa yang dilihat Pak Soeharno: ini bukan bengkel modern. Mesin-mesinnya tua, catnya kusam, lantainya beton retak. Tapi ada hal lain yang lebih sulit dipura-purakan, dan Arka berharap orang dinas itu cukup berpengalaman untuk melihatnya.
Ketertiban.
Papan keselamatan yang baru dicat ulang, terbaca jelas. Jalur kerja yang ditandai garis kuning di lantai. Daftar periksa harian yang tergantung di tiap mesin, terisi dengan tulisan tangan yang rajin. Alat-alat yang tersusun di papan dengan bayangan tergambar di belakangnya, jadi langsung ketahuan kalau ada yang hilang. Kotak P3K yang tak berdebu. Setiap detail itu adalah hasil berbulan-bulan disiplin, dan tak ada yang bisa dipalsukan dalam semalam.
"Ini dikerjakan murid?" tanya Pak Soeharno, menunjuk komponen-komponen yang tertata di meja inspeksi.
"Iya, Pak," jawab Pak Damar, yang berdiri di samping mesin bubut utama. Statusnya kini bersih, dan ia bicara dengan ketenangan seorang yang tak lagi punya apa pun untuk disembunyikan. "Pesanan dari PT Sinar Logam Perkasa. Subkontrak komponen sederhana. Kami kerjakan bertahap, sesuai kapasitas."
Pak Soeharno mengambil salah satu komponen yang sudah jadi. Ia memutarnya di tangan, memeriksa permukaannya, dan—Arka memperhatikan dengan cermat—ia tampak tahu apa yang ia pegang. Ia bukan birokrat yang cuma tahu kertas. "Toleransinya berapa?"
Wening melangkah maju, dan meski tangannya sedikit gemetar, suaranya jelas. "Plus minus lima perseratus milimeter untuk diameter luar, Pak. Pabrik mintanya plus minus sepuluh. Kami jaga lebih ketat dari yang diminta, buat margin keamanan."
Pak Soeharno mengangkat alis. Ia mengambil mikrometer dari meja inspeksi—gerakan seorang yang tahu cara memakainya—dan mengukur sendiri komponen di tangannya. Ruangan menahan napas saat ia membaca angka.
Ia menaruh komponen itu kembali. Tak berkomentar, tapi tak juga membantah. Dan dari caranya menaruhnya—hati-hati, dengan rasa hormat pada benda yang dibuat dengan benar—Arka tahu angkanya benar.
Di pintu, dua orang masuk: Bu Marni dan Pak Gunadi, perwakilan pengadaan dari pabrik. Arka sudah meminta mereka datang, dan mereka datang—bukti hidup keterserapan dunia usaha yang tak bisa dibantah selembar map.
Bu Marni bicara dulu, dengan gaya pengusaha kecil yang tak kenal takut. "Saya Marni, Pak. Punya usaha pengrajin alat dapur. Saya pesan komponen ke anak-anak ini sudah beberapa kali. Awalnya saya ragu—anak SMK, mesin tua. Tapi barangnya jalan. Poros yang mereka buat masih muter di mesin produksi saya sampai sekarang. Saya tanda tangan kerja sama bukan karena kasihan. Karena barangnya bagus dan harganya masuk akal."
Pak Gunadi menambahkan, lebih hati-hati, dengan bahasa orang pabrik. "Kami di PT Sinar Logam awalnya cuma coba-coba. Penguji kami, Pak Wahyu, yang merekomendasikan setelah uji kompetensi. Terus terang, kami terkesan bukan karena kapasitas mereka—kapasitas mereka kecil. Tapi karena mereka jujur soal batas. Waktu kami tawari volume besar, mereka justru menolak, minta bertahap dulu. Di dunia kami, vendor yang berani bilang 'kami belum sanggup yang itu' jauh lebih bisa dipercaya daripada yang asal sanggup terus barangnya reject. Itu yang bikin kami teken."
Pak Soeharno mendengarkan semua itu dengan wajah yang perlahan berubah. Bukan jadi kagum—ia terlalu berpengalaman untuk mudah kagum—tapi jadi penasaran. Dan penasaran, Arka tahu, adalah jarak yang jauh lebih baik daripada kesimpulan yang sudah ditulis di kepala.
Ketua tim itu berbalik ke Pak Damar, lalu matanya jatuh pada Arka, yang berdiri agak di belakang. "Kamu yang mimpin tim ini?"
Arka maju selangkah. "Bukan mimpin, Pak. Kami berlima bagi tugas. Saya kebagian teknis sama koordinasi."
"Coba jelaskan," kata Pak Soeharno, dan ada ujian tersembunyi di suaranya, "gimana kalian jaga mutu. Bukan teorinya. Praktiknya."
Dan Arka menjelaskan. Bukan dengan istilah buku, tapi dengan bahasa kerja—bagaimana tiap komponen diukur tiga kali oleh Wening sebelum lolos, bagaimana mereka mencatat tiap reject buat tahu pola kesalahannya, bagaimana Bayu memeriksa pengaman tiap pagi sebelum mesin dinyalakan, bagaimana mereka berhenti dan istirahat wajib biar tak ada yang bekerja kelelahan—karena, Arka berkata pelan, di bengkel ini pernah ada orang yang celaka gara-gara mengejar tenggat sampai lupa lelah, dan mereka tak akan biarkan itu terjadi lagi.
Pak Soeharno menatapnya. "Kamu fasih sekali."
"Saya cuma cerita kerja saya sehari-hari, Pak," kata Arka. "Ini bukan hafalan. Ini yang kami lakukan tiap hari."
Dan untuk pertama kali pagi itu, sudut bibir Pak Soeharno yang dingin bergerak—bukan senyum penuh, cuma sedikit, tapi cukup untuk membuat jantung Arka berdegup. Karena ia tahu, di balik wajah dingin itu, ada seorang yang akhirnya benar-benar melihat.