Bencana datang sehari sebelum verifikasi, persis seperti yang ditakuti Jefri.
Sore itu mesin bubut utama—mesin tua yang sudah dipasangi bantalan baru oleh Pak Broto, mesin yang sedang mengerjakan dua puluh komponen terakhir pesanan pabrik—mengeluarkan suara yang salah.
Arka langsung tahu suara itu salah sebelum otaknya sempat memikirkan kenapa. Berbulan-bulan di bengkel ini telah mengajari telinganya membaca mesin seperti membaca wajah orang. Putaran yang biasanya halus dan rata kini diselingi dengungan kasar, lalu getaran yang merambat ke lantai, lalu—bunyi gerinda logam pada logam yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Matikan!" teriaknya. "Jefri, matikan sekarang!"
Jefri menarik tuas. Mesin berhenti dengan keluhan panjang, lalu diam. Asap tipis mengepul dari sekitar kepala mesin, dan bau—bukan bau oli yang biasa, tapi bau logam terbakar dan panas yang berlebihan—memenuhi ruangan.
Lima orang berdiri mengelilingi mesin yang mati itu dalam keheningan yang berat. Komponen yang sedang dikerjakan masih terjepit di cekam, separuh jadi, permukaannya kasar karena pahat tergelincir saat mesin macet.
"Apa yang kejadian?" tanya Sari, suaranya kecil.
Bayu yang menjawab. Ia sudah berjongkok di sisi mesin, memeriksa dengan mata yang dilatih ketakutan selama bertahun-tahun—karena Bayu, dari mereka semua, yang paling tahu apa artinya mesin yang berkhianat. "Bantalannya," katanya pelan. "Bukan yang baru dipasang Pak Broto. Yang ini, di poros utama. Aus. Pak Broto sempat bilang ini harus diganti juga, tapi kita nunda karena nunggu dana."
Arka memejamkan mata. Ia ingat sekarang. Pak Broto memang menyebutnya—bantalan poros utama sudah aus, masih bisa jalan sebentar, tapi harus diganti. Mereka menundanya karena harga bantalan itu lumayan dan kas bengkel sedang ketat untuk bahan pesanan pabrik. "Masih jalan kok," begitu keputusan mereka waktu itu. Keputusan yang sekarang menampar balik.
"Bisa diperbaiki?" tanya Arka.
Bayu tak langsung menjawab. Ia memutar poros dengan tangan, merasakan kekasarannya, mendengarkan. "Bisa," katanya akhirnya. "Kalau bantalannya ganti. Tapi..." Ia menelan ludah. "Bantalan ukuran ini nggak ada di toko deket sini. Harus ke kota. Dan ini... ini bukan cuma ganti bantalan, Mas. Dudukannya juga mungkin kena. Harus dibongkar dulu baru tahu seberapa parah."
"Pak Broto?" tanya Wening, meski ia sudah tahu jawabannya.
Sari yang menggeleng. "Aku tadi ke rumahnya nganterin bahan. Beliau sakit, Wen. Demam tinggi. Anaknya bilang nggak mungkin ke mana-mana minimal seminggu."
Keheningan kembali turun. Di luar, langit mulai gelap. Besok pagi, tim verifikasi datang. Dan komponen pesanan pabrik—bukti utama keterserapan dunia usaha, bukti bahwa Bengkel 7 benar-benar mengerjakan pekerjaan industri nyata, bukti yang mungkin jadi penentu hidup-matinya sekolah—terjepit setengah jadi di mesin yang mati.
"Panggil Pak Damar," kata Jefri.
"Jangan," Arka mengejutkan dirinya sendiri dengan kata itu.
Semua menoleh padanya.
"Kenapa nggak?" Sari hampir marah. "Ini darurat, Arka. Mesin mati. Verifikasi besok. Ini bukan waktunya gengsi."
"Ini bukan gengsi." Arka mencari kata-kata. "Dengar. Kalau kita panggil Pak Damar, beliau pasti dateng. Beliau pasti bantu. Dan mungkin mesin ini hidup lagi malam ini. Tapi besok, kalau orang dinas tanya siapa yang benerin, jawabannya guru. Bukan kita."
"Terus kenapa?" tanya Bayu.
"Karena seluruh cerita kita itu tentang murid yang bisa kerja sungguhan," kata Arka. "Tentang teaching factory yang melahirkan teknisi beneran. Kalau tiap kali ada masalah kita lari ke guru, kita bukan teknisi. Kita cuma anak-anak yang main bengkel-bengkelan. Pak Damar ngajarin kita semua hal yang kita butuh buat benerin ini. Bantalan, dudukan, penyetelan—kita udah pernah lihat semua. Kita udah pernah pegang." Ia memandang mereka satu per satu. "Pertanyaannya bukan apa kita bisa. Pertanyaannya apa kita berani."
Jefri menatapnya lama, lalu menatap mesin yang mati. "Lo sadar nggak, kalau kita ngaco, besok nggak ada komponen buat ditunjukin. Sekolah bisa di-merger gara-gara kita sok jago malam ini."
"Aku sadar," kata Arka. "Tapi aku juga sadar—kalau Pak Broto sakit dan Pak Damar nggak selalu ada, terus kita nggak pernah bisa benerin mesin sendiri, maka teaching factory ini bohong. Cepat atau lambat kita harus bisa. Kenapa nggak sekarang?"
Keheningan lagi. Lalu Bayu—Bayu yang dulu paling penakut, yang dulu nyaris pingsan tiap mesin bubut berputar—berdiri dan melepas jaketnya, menggulung lengannya.
"Aku tahu di mana toko bantalan yang buka malam," katanya. "Di dekat terminal. Sari, kamu masih punya nomor sopir angkot yang tadi?"
Sari mengangguk, sudah mengeluarkan ponselnya.
"Kalau begitu," kata Bayu, dan suaranya tak gemetar, "kita bongkar dulu. Biar tahu ukuran pastinya sebelum aku ke kota. Jefri, siapin kunci. Wening, catat tiap baut yang kita lepas, urutannya, biar nggak bingung waktu masang lagi. Arka..." Ia menatap Arka, dan ada sesuatu di matanya yang Arka tak pernah lihat sebelumnya. Keberanian. "Arka, kamu pimpin penyetelan nanti."
Arka memandang teman-temannya—lima anak miskin di sebuah bengkel tua, sehari sebelum nasib sekolah mereka diputuskan, dengan mesin yang mati dan guru yang tak bisa datang. Ia teringat malam ketika Pak Damar pertama membuka gembok Bengkel 7. Betapa jauh mereka sudah berjalan.
"Ayo," katanya. "Kita kerja."
Dan mereka mulai. Kunci pertama mengait baut pertama. Malam panjang baru saja dimulai.