Tiga hari setelah Arka melewati bengkel Pak Wira yang sepi, lelaki muda itu mencegatnya di gang dekat pasar loak. Arka mengenalinya—pekerja yang dulu menangkapnya memandang dari seberang jalan, yang membeli rokok di warung dengan tangan hitam oli.
"Mas Arka, ya?" lelaki itu menyebut namanya seolah sudah lama dipendam. "Saya Topan. Kerja di tempatnya Pak Wira."
Arka berhenti. Sepeda butut yang ia tuntun ikut berhenti, rantainya berderit. Di sekeliling mereka, pasar loak besi tua mengeluarkan bunyinya yang biasa—dentang palu pada pelat, suara orang menawar pipa bekas, radio yang setengah rusak. Tapi Arka cuma mendengar napas Topan yang agak tersengal, seperti orang yang sudah lama menahan sesuatu sebelum akhirnya mengucapkannya.
"Saya mau ngomong, tapi jangan tersinggung," kata Topan. Ia melihat sekeliling, memastikan tak ada yang dengar. "Bengkel kami lagi seret. Pak Wira mau ngurangi orang. Saya yang paling baru, jadi saya yang pertama disuruh berhenti. Bulan depan."
Arka diam. Ia ingin bilang bahwa itu bukan urusannya, bahwa Pak Wira pantas menuai apa yang ia tanam. Tapi kata-kata itu tak mau keluar. Yang ada di kepalanya malah wajah bapaknya pulang dengan gerobak kosong, malam ketika rosok tak laku dan utang ditagih.
"Anak saya dua," lanjut Topan, suaranya pelan. "Yang kecil baru tujuh bulan. Saya nggak punya ijazah apa-apa, Mas. Cuma bisa megang gerinda sama las. Saya dengar bengkel sekolah kalian sekarang ramai. Saya... saya cuma mau tanya. Kalau-kalau butuh tangan tambahan. Saya nggak minta gaji besar. Saya cuma butuh kerja."
Di situ Arka merasakan tanah seolah bergeser sedikit di bawah kakinya.
Ia membayangkan kemenangan mereka sebagai sesuatu yang bersih—musuh kalah, sekolah selamat. Tapi yang berdiri di depannya bukan musuh. Ini orang yang mengeringkan keringat dengan ujung kausnya, yang punya bayi tujuh bulan, yang menyebut nama Arka dengan harapan yang ditahan-tahan supaya tak terlihat terlalu memelas. Arka mengenali sikap itu. Itu sikap orang yang gengsi mengaku susah, yang menertawakan diri sebelum orang lain sempat menertawakannya. Itu sikap Arka sendiri, selama ini.
"Pak Wira tahu Mas ke sini?" tanya Arka akhirnya.
Topan menggeleng cepat. "Nggak. Beliau bisa marah besar kalau tahu. Bagi beliau, kalian itu... maaf ya, Mas, beliau yang bilang, bukan saya... kalian itu yang ngerusak pasarnya. Tapi saya nggak peduli pasar. Saya cuma peduli anak saya makan."
Arka menatap tangan Topan. Kapalan di pangkal ibu jari, kuku yang patah-patah, bekas luka bakar kecil di punggung tangan—tanda orang yang bertahun-tahun bekerja dengan logam panas. Tangan itu tak berbeda dari tangan Jefri, dari tangan Pak Tarno, dari tangan yang Arka harap kelak jadi miliknya sendiri.
"Saya nggak bisa janji apa-apa, Mas," kata Arka jujur. "Bengkel kami itu sekolah. Yang kerja di sana murid, bukan pegawai. Kami nggak punya wewenang nerima orang luar."
Bahu Topan turun sedikit. "Oh. Iya. Saya ngerti." Ia berusaha tersenyum, senyum yang lebih menyakitkan daripada kalau ia langsung pergi. "Maaf ya, Mas. Saya cuma... ya sudah. Terima kasih sudah mau dengar."
Ia berbalik. Dan ada sesuatu dalam cara punggungnya membungkuk—seperti orang yang sudah terlalu sering ditolak sampai belajar menelan penolakan tanpa protes—yang membuat Arka memanggilnya.
"Mas Topan."
Topan menoleh.
"Saya nggak bisa janji. Tapi saya nggak akan diam aja. Kasih saya waktu beberapa hari."
Arka sendiri tak tahu kenapa ia mengucapkan itu. Ia tak punya rencana. Ia cuma tahu bahwa membiarkan Topan pergi dengan punggung membungkuk seperti tadi adalah sesuatu yang akan menggerogotinya semalaman.
Topan memandangnya, dan untuk pertama kali ada cahaya kecil di matanya. "Terima kasih, Mas," katanya. Kali ini senyumnya sungguhan. Lalu ia menghilang di antara tumpukan besi tua, kembali ke bengkel yang sebentar lagi tak lagi membutuhkannya.
Malam itu Arka tak bisa tidur. Ia berbaring di kamar sempit yang ia bagi dengan Lestari, mendengar napas adiknya yang teratur, dan kepalanya berputar.
Selama berbulan-bulan ia membenci Pak Wira. Membenci adalah hal yang sederhana; ia tahu di mana harus menaruh amarahnya. Tapi sekarang amarah itu tak punya tempat lagi. Pak Wira bukan raksasa. Pak Wira cuma orang tua yang bengkelnya sekarat, yang ketakutan, yang menyakiti orang lain karena ia sendiri merasa terancam. Dan di belakang Pak Wira ada Topan, dan di belakang Topan ada bayi tujuh bulan yang tak tahu apa-apa tentang pasar, akreditasi, atau gengsi antarbengkel.
Arka teringat kata Pak Damar tentang mesin yang baik. Bukan satu bagian yang menang sendirian. Tapi banyak bagian yang saling menopang.
Selama ini ia mengira menyelamatkan sekolah berarti mengalahkan Pak Wira. Tapi kalau menang berarti memindahkan kemiskinan dari pintu Pak Damar ke pintu Topan, lalu apa bedanya? Apa gunanya bengkel mereka hidup kalau bengkel sebelah mati, dan kawasan ini tetap saja sekarat, cuma berganti siapa yang kelaparan?
Ia bangun, menyalakan lampu remang di teras, dan duduk dengan buku tulis lusuh di pangkuannya. Ia mulai menggambar—bukan gambar teknik, tapi semacam peta. Bengkel 7 di satu sisi, bengkel Pak Wira di sisi lain. Di antaranya ia menulis satu kata, lalu mencoretnya, lalu menulisnya lagi.
Cukup.
Kalau bengkel mereka belajar berkata cukup pada pabrik—menolak volume yang terlalu besar—mungkin ada cara untuk berkata cukup juga di sini. Mungkin ada order yang lebih cocok untuk mereka, dan order yang lebih cocok untuk Pak Wira. Mungkin pasar yang sempit ini tak harus diperebutkan sampai salah satu mati. Mungkin bisa dibagi.
Gagasan itu masih kasar, setengah jadi, dan Arka tahu Pak Wira akan menertawakannya. Lelaki tua yang gengsinya terluka itu mana mau menerima belas kasihan dari anak SMK yang ia sebut buangan.
Tapi untuk pertama kali sejak ia melihat bengkel Pak Wira yang sepi, dada Arka tak lagi terasa tak nyaman. Yang ada sekarang adalah sesuatu yang lebih sulit daripada benci, dan lebih berat daripada menang. Sesuatu yang terasa, anehnya, seperti tanggung jawab.
Ia menutup buku tulis itu, mematikan lampu, dan untuk pertama kali dalam tiga malam, ia tidur.