Kabar bahwa seluruh aduan Pak Wira runtuh menyebar ke kawasan industri kecil itu dengan cepat, seperti kabar selalu menyebar di kampung yang saling kenal.
Di warung-warung kopi tempat para pemilik usaha kecil berkumpul, orang-orang membicarakannya. Bengkel sekolah yang dituduh ilegal dan berbahaya ternyata bersih—malah dapat kerja sama dengan pabrik. Guru tua yang dituduh lalai ternyata tak bersalah. Dan fitnah bahwa komponen sekolah cacat dan membahayakan terbukti tak berdasar, runtuh sendiri ketika orang melihat motor Pak Sapari masih mengaung setahun, bushing Pak Lukas masih jalan, poros Bu Marni masih berputar di mesin produksinya.
Akibatnya bisa diduga. Beberapa pelanggan kecil yang dulu menarik dukungan karena takut pada Pak Wira kini diam-diam kembali ke jaringan sekolah. Bukan karena melawan Pak Wira, tapi karena alasan yang lebih sederhana dan lebih kuat: harga di Bengkel 7 lebih masuk akal untuk order receh, dan anak-anak itu jujur. Bu Yanti, yang dulu ketakutan menarik suratnya, datang lagi dengan malu-malu membawa engsel pagar yang rusak. "Maaf ya, Nak," katanya pada Arka. "Dulu Ibu takut. Sekarang Ibu nggak takut lagi."
Secara hitungan, ini kemenangan. Bengkel 7 menang. Pak Wira, antagonis yang selama berbulan-bulan menjadi wajah konkret dari segala kesulitan mereka, kini melemah. Aduannya gugur, fitnahnya terbongkar, dan pasarnya menyusut.
Tapi ketika Arka melewati bengkel Pak Wira suatu sore, dalam perjalanan pulang, ia tak merasakan kemenangan yang ia bayangkan.
Bengkel itu—yang dulu selalu ramai, dengan deru kompresor dan suara gerinda dan antrean motor di depan—kini sepi. Pintunya setengah terbuka, dan di dalam, Arka bisa melihat Pak Wira duduk sendirian di kursi plastik, memandang mesin-mesinnya yang menganggur. Hanya ada satu motor yang sedang dikerjakan, padahal dulu ada lima. Di sudut, dua pekerja Pak Wira berbisik-bisik dengan wajah cemas—wajah orang yang tahu bahwa pekerjaan mereka sedang terancam.
Arka berhenti di seberang jalan, memandang pemandangan itu, dan sesuatu di dadanya terasa tak nyaman.
Pak Wira pernah menyebut anak-anak SMK sebagai "buangan" yang merusak pasar. Ia telah memfitnah mereka, menekan tetangga miskin, melayangkan aduan yang nyaris menghancurkan sekolah dan Pak Damar. Ia adalah musuh. Arka punya setiap alasan untuk merasa puas melihatnya terjepit sekarang.
Tapi yang ia rasakan bukan puas. Yang ia rasakan adalah sesuatu yang ganjil dan tak diundang—iba.
Karena Arka mengenali pemandangan itu. Bengkel yang sepi, dapur yang terancam tak ngebul, pekerja yang cemas akan nasibnya. Itu pemandangan yang sama dengan bengkel bapaknya Jefri yang dulu bangkrut dan kalah saing. Itu pemandangan yang sama dengan keluarganya sendiri ketika rosok tak laku dan utang menumpuk. Pak Wira, dengan segala kejahatannya, adalah orang yang juga sedang berjuang bertahan di kawasan industri yang sekarat. Order receh yang ia tolak dulu, yang membuatnya marah pada anak-anak SMK, ternyata penting baginya justru karena ekonomi seret. Ia membanting harga, memfitnah, menekan—bukan karena ia raksasa yang kuat, tapi karena ia juga orang kecil yang takut tenggelam.
Dan kini bengkel sekolah, dalam memenangkan pertarungannya, telah ikut menenggelamkan Pak Wira.
Arka teringat kata-kata Pak Damar tentang mesin yang baik—bahwa kekuatannya bukan dari satu bagian yang menang, tapi dari banyak bagian yang saling menopang. Ia teringat juga pelajaran tentang "cukup"—bahwa keserakahan, bahkan keserakahan untuk menang, bisa memakan orang. Apa artinya menyelamatkan sekolah kalau caranya adalah dengan membuat keluarga lain kehilangan dapurnya? Apa artinya menang kalau kemenangan itu cuma memindahkan kemiskinan dari satu pintu ke pintu yang lain?
Salah satu pekerja Pak Wira, lelaki muda yang Arka kadang lihat membeli rokok di warung, menoleh dan menangkap Arka memandang. Sesaat mata mereka bertemu—dan dalam tatapan pekerja itu, Arka melihat sesuatu yang membuatnya berbalik dan melanjutkan jalan dengan cepat: ketakutan seorang yang akan kehilangan pekerjaan, dan di balik ketakutan itu, secercah harapan yang ditujukan padanya, seolah berkata, tolong.
Malam itu Arka pulang dengan kepala penuh. Ia sudah membayangkan kemenangan ini sebagai akhir yang bersih—musuh kalah, mereka menang, sekolah selamat. Tapi kemenangan yang sesungguhnya, ia mulai paham, jarang sebersih itu. Selalu ada korban. Selalu ada wajah di pihak yang kalah, dan wajah itu—kalau kau cukup berani menatapnya—ternyata bukan wajah monster, melainkan wajah orang yang sama sepertimu, yang juga cuma ingin bertahan.
Ia duduk di teras rumahnya yang sempit, mendengar suara gerobak bapaknya yang baru pulang berderit di gang, dan ia tahu satu hal dengan pasti: pertarungan dengan Pak Wira belum benar-benar selesai. Tapi bentuk penyelesaiannya, ia mulai merasakan, mungkin bukan dengan menghancurkannya sampai habis. Mungkin ada jalan lain—jalan yang lebih sulit daripada menang, dan jauh lebih sulit daripada benci. Jalan untuk hidup berdampingan di kawasan yang sama-sama mereka coba selamatkan.