Arka tak bicara pada siapa-siapa sebelum ia yakin. Ia membawa gagasannya pada Wening dulu, lalu pada Pak Damar—karena ia tahu kalau ada satu hal yang bisa membuatnya tampak bodoh, Pak Damar akan langsung menunjukkannya tanpa basa-basi.
"Kamu mau menolong orang yang ngirim aduan supaya bengkel ini ditutup?" Pak Damar mendengarkan sambil membersihkan kaca matanya dengan ujung kemeja. Suaranya datar, tak menghakimi, cuma memastikan Arka sudah memikirkan ini matang-matang.
"Bukan menolong dia, Pak," kata Arka. "Saya nggak peduli sama dia. Saya peduli sama Topan, sama pekerjanya. Sama kawasan ini. Kalau bengkel-bengkel di sini mati satu-satu, akhirnya kita juga yang nggak punya tetangga buat pesan bahan, buat pinjam alat, buat ngambil order. Bengkel Pak Lukas, Bu Marni, semua—kalau pasarnya mati, kita juga mati."
Pak Damar memasang kaca matanya kembali dan menatap Arka lama. Di belakang mereka, mesin bubut yang sudah dipasangi bantalan baru oleh Pak Broto berputar pelan di tangan Jefri, mengeluarkan serpihan logam tipis yang menggulung seperti per. Bau oli memenuhi ruangan.
"Kamu tahu Pak Wira nggak akan terima begitu saja," kata Pak Damar. "Gengsinya terluka. Dia kalah, dan sekarang anak yang dia hina mau menawarkan bantuan. Bagi orang seperti dia, itu lebih menyakitkan daripada bangkrut."
"Saya tahu, Pak."
"Lalu kenapa kamu mau lakukan?"
Arka diam sebentar. "Karena Bapak yang ngajarin saya soal mesin. Kekuatan mesin bukan dari satu bagian yang menang. Saya pikir... kawasan ini juga begitu. Kalau kami menang sendirian, kami cuma jadi satu roda yang muter di bengkel yang sekarat."
Untuk sesaat, ada sesuatu yang melintas di wajah Pak Damar—bukan senyum, tapi semacam pengakuan. Lelaki tua itu mengangguk pelan. "Pergilah. Tapi pergi sebagai orang yang menawarkan kerja sama, bukan sebagai orang yang menang menawarkan belas kasihan. Bedanya tipis, Arka. Tapi Pak Wira akan langsung mencium yang mana."
Arka pergi sore itu, sendirian. Ia tak mengajak siapa-siapa karena ia tahu rombongan hanya akan membuat Pak Wira merasa dikepung.
Bengkel Pak Wira lebih sepi dari yang ia ingat. Mesin-mesin yang dulu mengaung kini diam, dilapisi debu tipis. Pak Wira duduk di kursi plastik yang sama, sebatang rokok terselip di jarinya, memandang sebuah motor tua yang separuh dibongkar. Ketika ia melihat Arka di ambang pintu, wajahnya langsung mengeras.
"Mau apa kamu ke sini?" Suaranya kasar. "Mau lihat-lihat? Mau ketawa? Silakan. Lihat baik-baik. Inilah yang kalian mau, kan."
"Saya nggak ke sini buat ketawa, Pak," kata Arka. Ia berdiri di ambang, tak masuk, karena tahu masuk tanpa diundang akan langsung memanaskan. "Saya ke sini mau nawarin sesuatu."
Pak Wira mendengus. Asap rokoknya membubung. "Anak kemarin sore mau nawarin sesuatu ke saya. Mau nawarin apa? Sedekah?"
"Bukan sedekah, Pak. Pembagian kerja."
Kata itu membuat Pak Wira berhenti. Bukan karena ia tertarik—Arka bisa lihat ia masih marah—tapi karena kata itu tak sesuai dengan yang ia kira akan didengar.
Arka melanjutkan cepat, sebelum keberaniannya habis. "Bengkel kami sekolah, Pak. Kami lambat. Mesin kami tua. Kami nggak bisa ngambil order besar yang butuh cepat—itu malah bahaya buat kami. Tapi order-order kecil, receh, satu-dua biji yang Bapak males ngerjain karena nggak nguntungin—itu pas buat kami. Buat latihan murid."
Pak Wira tak menjawab, tapi ia juga tak menyuruh Arka pergi.
"Sebaliknya," kata Arka, "order yang butuh presisi tinggi, jumlah banyak, tenggat cepat—itu nggak akan pernah bisa kami ambil dengan aman. Mesin Bapak lebih baik. Tangan Bapak lebih cepat. Itu pas buat Bapak. Kalau ada pelanggan dateng ke kami minta yang besar, kami arahkan ke Bapak. Kalau ada yang dateng ke Bapak minta yang receh, Bapak arahkan ke kami."
Pak Wira menatapnya, dan untuk beberapa saat yang panjang, tak ada yang bicara. Dari kejauhan terdengar suara adzan maghrib yang lirih.
"Kamu pikir saya butuh diatur sama anak SMK?" kata Pak Wira akhirnya, tapi suaranya sudah berbeda—lebih lelah daripada marah.
"Saya nggak ngatur Bapak. Saya cuma nawarin. Kawasan ini sekarat, Pak. Bukan cuma bengkel Bapak. Semua. Kalau kita rebutan order yang makin sedikit, akhirnya kita banting harga sampai sama-sama rugi, terus sama-sama tutup. Tapi kalau kita bagi—Bapak yang besar, kami yang kecil—mungkin dua-duanya bisa napas."
Arka mengeluarkan secarik kertas dari saku. Bukan kontrak, cuma coretan tangan—peta kasar yang ia gambar tadi malam, dengan dua bengkel dan kata "cukup" di tengahnya.
"Saya nggak minta jawaban sekarang, Pak. Saya cuma minta Bapak pikirin. Topan—pekerja Bapak itu—dia cerita anaknya dua. Saya nggak mau dia kehilangan kerja. Tapi saya juga nggak bisa nampung dia di sekolah. Satu-satunya cara dia tetap kerja adalah kalau bengkel Bapak hidup lagi."
Pak Wira menerima kertas itu. Ia tak melihatnya, cuma menggenggamnya, tapi ia menerimanya. Tangan tuanya, yang juga penuh kapalan dan bekas luka logam, sama seperti tangan Topan, sama seperti tangan yang Arka harap kelak jadi miliknya.
"Pulang sana," kata Pak Wira. Tapi tak ada lagi kebencian di suaranya. Cuma keletihan seorang lelaki tua yang gengsinya terluka, tapi yang akalnya—Arka bisa melihatnya—mulai bergerak.
Arka mengangguk dan pergi. Ia tak menoleh, tapi sebelum ia berbelok di ujung jalan, ia mendengar bunyi kertas dibuka, dan ia tahu Pak Wira sedang memandang peta kasar itu. Itu sudah cukup. Untuk sekarang, itu sudah cukup.