Arka tak berniat menguping. Sungguh. Ia hanya kebetulan ada di belakang sekolah sore itu karena ban motor bapaknya kempis lagi dan ia menyembunyikan pompa angin di balik tumpukan kayu dekat Bengkel 7—tempat yang ia anggap aman karena tak pernah ada yang ke sana.
Matahari sudah condong, dan sekolah sudah hampir kosong. Pelajaran berakhir tiga jam lalu. Arka jongkok di balik tumpukan kayu, memompa ban yang ia gelindingkan dari parkiran, ketika ia mendengar bunyi gemerincing logam. Ia mengintip.
Pak Damar berdiri di depan pintu besi Bengkel 7. Di tangannya, seuntai kunci. Ia memasukkan satu kunci besar berkarat ke gembok rantai, memutarnya dengan susah payah—gembok itu jelas sudah lama tak tersentuh, dan engselnya melawan. Pak Damar menyemprotnya dengan sesuatu dari kaleng kecil, menunggu sebentar, lalu memutar lagi. Kali ini gembok terbuka dengan bunyi 'klik' yang dalam keheningan sore terdengar seperti tembakan.
Arka menahan napas. Pak Damar melepas rantai, menggulungnya, dan mendorong pintu besi itu. Pintu mengerang di engselnya—suara karat bergesek karat—lalu terbuka, memuntahkan bau yang bahkan dari jarak sepuluh meter bisa Arka cium: bau oli tua, debu, dan logam yang lama tidur.
Pak Damar berdiri di ambang pintu, menatap ke dalam kegelapan. Bahunya naik turun seperti orang yang menarik napas berat. Lalu ia masuk.
Arka tahu seharusnya ia diam saja. Ambil pompa, kembali ke motor, urusan selesai. Tapi ada sesuatu—rasa ingin tahu yang sudah tertahan setahun setengah—yang membuatnya berdiri, melangkah pelan, dan mengintip dari ambang pintu.
Di dalam, Bengkel 7 seperti dunia yang dibekukan. Cahaya sore menerobos dari celah-celah atap seng dan jendela kaca yang berdebu tebal, jatuh dalam berkas-berkas yang penuh partikel debu melayang. Di tengah ruangan berdiri mesin-mesin: dua mesin bubut tua dengan bodi besi cor yang dicat hijau pudar, sebuah mesin frais, sebuah mesin gerinda, dan rak-rak berisi perkakas yang berselimut karat tipis. Di dinding, papan keselamatan kerja yang catnya hampir hilang—Arka cuma bisa membaca potongan kata: 'UTAMAKAN' dan 'KESELAMATAN', sisanya pudar.
Pak Damar berjalan di antara mesin-mesin itu, tangannya menyentuh permukaan logam dengan cara yang aneh—lembut, seperti menyentuh sesuatu yang hidup. Atau yang pernah hidup. Ia berhenti di depan mesin bubut yang paling besar, di sudut, dan berdiri di sana lama sekali tanpa bergerak.
Arka pasti membuat suara, entah bagaimana—mungkin papan lantai yang berderit—karena tiba-tiba Pak Damar berbalik cepat, lebih cepat dari yang Arka kira bisa dilakukan orang setua itu.
"Siapa di situ!" suaranya keras, tajam.
Arka membeku. Tak ada gunanya bersembunyi. Ia melangkah ke dalam berkas cahaya. "Saya, Pak. Arka. Pranaja."
Wajah Pak Damar berubah—dari waspada menjadi sesuatu yang lebih rumit. Ada kemarahan, tapi juga ada hal lain. Rasa terkejut, mungkin. Atau rasa ketahuan.
"Ngapain kamu di sini?" tanyanya.
"Pompa, Pak. Ban motor saya kempis. Saya cuma..." Arka menelan ludah. "Saya lihat Bapak buka pintu. Saya penasaran."
Pak Damar menatapnya lama. Lalu, perlahan, ketegangan di bahunya mengendur. Ia menghela napas, dan tiba-tiba terlihat sangat tua. "Tutup pintunya," katanya. "Jangan sampai ada yang lihat dari luar."
Arka menurut, mendorong pintu besi sampai hampir tertutup, menyisakan celah untuk cahaya. Lalu ia berdiri canggung di tengah ruangan, di antara mesin-mesin yang seperti raksasa tidur.
"Bengkel ini ditutup sejak sebelum kamu lahir, hampir," kata Pak Damar pelan, tangannya kembali menyentuh bodi mesin bubut besar. "Lima belas tahun lebih. Dulu ini bengkel terbaik di sekolah. Murid-murid dari sini pada diterima kerja di pabrik-pabrik besar. Sebelum semuanya tutup."
"Kenapa ditutup, Pak?" Arka bertanya, meski separuh dirinya sudah menebak jawabannya.
Pak Damar diam. Lama. "Ada kecelakaan," katanya akhirnya. "Mesin ini." Ia menepuk bodi mesin bubut besar pelan. "Seorang murid. Tangannya... ya, sudahlah. Setelah itu sekolah panik. Dinas turun. Mereka bilang mesinnya tidak layak, pengaman tidak standar. Bengkelnya disegel. Pengelolanya—gurunya waktu itu—dipindahtugaskan. Dan sejak itu tidak ada yang berani menyentuh tempat ini."
Arka menatap mesin itu dengan perasaan baru, campuran takut dan hormat. "Lalu kenapa Bapak buka sekarang?"
Pak Damar tak langsung menjawab. Ia berjalan ke jendela, mengusap debu dengan jari, dan menatap ke luar—ke arah bangunan utama sekolah yang akan dievaluasi, yang akan ditentukan nasibnya dalam beberapa bulan.
"Karena di luar sana," katanya, "orang-orang sudah memutuskan sekolah ini sebaiknya mati. Termasuk kepala sekolahmu sendiri, yang sebenarnya orang baik tapi sudah capek bertarung. Mereka akan datang, melihat ruang kelas yang separuh kosong dan alat yang rusak, dan mereka akan menulis di kertas: tidak layak. Lalu selesai."
Ia berbalik menghadap Arka. "Tapi sekolah bukan cuma gedung dan kertas, Pranaja. Sekolah itu apakah dia masih bisa menghasilkan orang yang bisa kerja atau tidak. Dan tempat ini—" ia merentangkan tangan ke seluruh bengkel, "—dulu menghasilkan orang yang bisa kerja. Aku mau buktikan kalau dia masih bisa. Bukan dengan pidato, bukan dengan kertas. Tapi dengan barang. Dengan benda nyata yang dibuat tangan murid dan dipakai orang."
Arka tak sepenuhnya mengerti. "Maksudnya, Pak?"
"Belum waktunya kamu tahu semua," kata Pak Damar. "Tapi aku perlu kamu janji satu hal. Jangan cerita ke siapa-siapa kalau bengkel ini kubuka. Belum. Kalau bocor sekarang, sebelum aku siap, mereka akan menutupnya lagi sebelum aku sempat membuktikan apa pun." Ia menatap Arka lekat-lekat. "Bisa kamu pegang janji itu?"
Arka memandang guru tua itu, lalu memandang mesin-mesin di sekelilingnya. Ada sesuatu di ruangan ini—di bau oli dan debu dan logam tua ini—yang membuat dadanya terasa aneh. Seperti tempat ini mengenalinya. Seperti tangannya yang terbiasa besi tua tahu ke mana ia seharusnya berada.
"Bisa, Pak," katanya.
Pak Damar mengangguk. "Bagus. Sekarang ambil pompamu dan pulang. Dan Pranaja—" ia menambahkan saat Arka sudah di pintu, "—besok, kalau kamu tidak bolos, datang ke sini sepulang sekolah. Aku mau lihat seberapa terampil tanganmu sebenarnya."
Arka pulang malam itu dengan ban yang sudah terpompa dan kepala yang penuh. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tidak memikirkan gerobak rosok. Ia memikirkan mesin bubut hijau pudar di sudut ruangan berdebu, dan rahasia yang baru saja ia setujui untuk pegang.