Pak Lukas datang ke Bengkel 7 keesokan sorenya, dan kedatangannya menjawab pertanyaan yang menggantung di kepala Arka sejak kemarin.
Pak Lukas pemilik bengkel las di gang sebelah sekolah—bengkel kecil yang membuat pagar, teralis, dan kanopi pesanan tetangga. Wajahnya legam terbakar matahari dan percikan las, tangannya penuh bekas luka kecil. Ia datang membawa sesuatu yang dibungkus kain lap di telapak tangannya, dan ia masuk lewat pintu samping yang Pak Damar buka khusus untuknya.
"Ini, Pak Damar," katanya, membuka bungkusan. Di dalamnya ada potongan logam—semacam selongsong kecil dengan ulir di dalamnya, sudah aus dan satu sisinya retak. "Bushing buat mesin rolling saya. Yang aslinya dari pabrik, tapi pabriknya sudah tutup sepuluh tahun lalu. Saya cari ke toko-toko, nggak ada yang cocok ukurannya. Yang ada di toko ukuran standar, punya saya ini ukuran khusus, lama."
Pak Damar mengambil bushing itu, memutarnya di bawah cahaya, mengukurnya dengan jangka sorong manual dari sakunya. "Diameter dalam berapa yang kamu butuh?"
"Yang cocok sama as-nya. Saya bawa as-nya juga." Pak Lukas mengeluarkan batang logam dari tas. "Kalau nggak ada bushing ini, mesin rolling saya nggak bisa jalan. Sudah dua minggu nganggur. Pesanan pagar numpuk, nggak bisa saya kerjakan."
"Kenapa nggak pesan ke bengkel bubut di kota?" tanya Pak Damar, meski Arka—yang berdiri mengamati di pojok—merasa pertanyaan itu sengaja, seperti pertanyaan yang sudah tahu jawabannya.
Pak Lukas tertawa pendek, getir. "Sudah saya tanya ke Pak Wira. Bengkelnya yang besar di Jalan Industri itu. Dia bilang minimal order, dan satuannya mahal. Buat satu bushing kecil begini dia minta dua ratus ribu, plus ongkos, plus harus antre seminggu karena dia ngerjain order pabrik dulu yang banyak. Saya ini orang kecil, Pak. Mesin saya cuma satu. Dua ratus ribu buat saya itu untung dua hari kerja."
Ia memandang Pak Damar dengan harap. "Saya dengar dari Bu Yanti yang jual nasi di depan sekolah, katanya Bapak buka bengkel lagi, mau bantu-bantu warga. Saya nggak butuh yang cepat-cepat amat, Pak. Saya butuh yang masuk akal harganya, dan yang mau ngerjain barang kecil kayak gini. Bahan saya bawa sendiri kalau perlu."
Arka mengerti sekarang. Inilah yang dimaksud Pak Damar kemarin. Bukan menyaingi bengkel besar—bengkel besar tak akan mau repot dengan order receh seperti ini, dan kalaupun mau, harganya membunuh orang kecil seperti Pak Lukas. Yang ada di celah ini adalah orang-orang yang terlalu kecil untuk dilayani pasar besar, tapi cukup nyata untuk butuh barangnya. Tetangga yang saling kenal, yang lebih percaya pada orang sekampung daripada bengkel asing di kota.
"Kami kerjakan," kata Pak Damar. "Tapi saya jujur, Lukas. Ini bukan bengkel komersial. Ini sekolah. Yang ngerjain murid, di bawah pengawasan saya. Mungkin lebih lama dari bengkel betulan. Kalau ada yang meleset, kami ulang. Bayarnya cukup ganti bahan dan sedikit lebih buat kas bengkel. Tidak usah dua ratus ribu."
Pak Lukas mengernyit, ragu. "Murid? Bisa, Pak? Maaf, bukan meragukan, tapi ini harus presisi. Kalau longgar sedikit, oblak, mesinnya rusak."
Pak Damar menoleh ke arah Arka. "Pranaja. Sini."
Arka maju, jantungnya berdebar. Pak Damar menyerahkan bushing rusak dan as itu ke tangannya. "Coba baca. Apa yang dia butuh."
Arka memegang dua benda itu. Tangannya yang terbiasa menimbang besi tua secara naluri merasakan bobot dan permukaannya. Ia mengukur as dengan jangka sorong yang disodorkan Pak Damar—gerakannya canggung di awal, lalu makin yakin. "As-nya diameter dua puluh lima koma... dua, Pak. Hampir. Berarti bushing-nya, biar pas tapi nggak seret, lubang dalamnya harus dua puluh lima koma tiga, mungkin empat. Diameter luarnya..." ia mengukur bushing yang lama, "...tiga puluh dua. Panjangnya empat puluh. Bahannya kuningan, kelihatan dari warnanya yang lama. Atau perunggu."
Pak Damar mengangguk pelan, dan ada kilatan kecil di matanya yang Arka tangkap—kepuasan. "Dengar itu, Lukas? Anak ini baru megang lima detik sudah tahu yang kamu butuh. Bushing-nya kuningan, betul. Kebetulan saya masih simpan stok kuningan batangan di rak sana, sisa zaman dulu."
Pak Lukas memandang Arka dengan ekspresi berubah—dari ragu menjadi sedikit terkesan. "Berapa lama, Pak?"
"Beri kami tiga hari," kata Pak Damar. "Anak ini belum pernah bubut benda jadi sendiri. Saya mau dia yang kerjakan, saya yang awasi. Kalau cuma saya yang kerjakan, sehari selesai. Tapi gunanya bukan itu." Ia menepuk bahu Arka. "Gunanya, dia belajar bikin barang yang betul-betul dipakai orang. Bukan latihan yang ujungnya dibuang."
Setelah Pak Lukas pergi, Pak Damar membawa Arka ke mesin bubut yang lebih kecil—bukan yang besar di sudut, Arka memperhatikan, tidak pernah yang besar di sudut. Ia mengeluarkan batang kuningan dari rak, memotongnya dengan gergaji tangan sampai sedikit lebih panjang dari yang dibutuhkan.
"Sebelum kamu sentuh mesin," kata Pak Damar, suaranya berubah jadi tegas, "kamu hafal aturannya dulu. Baju jangan kedodoran. Lengan baju gulung sampai siku, tapi jangan ada yang menjuntai. Tidak boleh pakai sarung tangan kain waktu mesin jalan—ini penting, Pranaja, dengar baik-baik—sarung tangan bisa tergulung ke benda kerja yang berputar dan menarik tanganmu ikut. Banyak orang celaka karena mengira sarung tangan itu melindungi. Justru sebaliknya, di mesin bubut."
Arka mengangguk, menyerap setiap kata. Ada keseriusan dalam cara Pak Damar bicara soal keselamatan yang melebihi sekadar prosedur—seperti ada sejarah pribadi di baliknya.
"Rambut, kalau panjang, diikat. Mata, pakai kacamata pelindung ini." Ia menyerahkan kacamata bening yang sudah ia bersihkan. "Tatal—serpihan logam yang keluar waktu dibubut—panas dan tajam seperti silet. Tidak boleh dibersihkan pakai tangan waktu mesin jalan. Pakai kuas, dan hanya kalau mesin sudah berhenti."
Lalu, perlahan, ia mengajari Arka memasang benda kerja di cekam, mengunci kuningan itu agar berputar lurus tanpa goyang. Mereka memutar mesin pelan dulu. Arka merasakan getaran logam yang berputar lewat tangannya yang memegang tuas. Pak Damar menunjukkan cara memasang pahat, cara menyetel kedalaman, cara menggerakkan eretan dengan kedua tangan dalam ritme yang stabil.
Ketika pahat pertama kali menyentuh kuningan yang berputar, serpihan tipis keemasan mengulir keluar seperti pita, dan permukaan logam yang kusam berubah jadi mengilap. Arka menahan napas. Ada sesuatu yang nyaris hipnotis dalam melihat logam mentah menjadi bentuk yang ia kehendaki, sedikit demi sedikit, di bawah pahat yang ia kendalikan.
"Pelan-pelan," gumam Pak Damar di belakangnya. "Logam tidak bisa diburu-buru. Kamu paksa, dia patah, atau ukuranmu lewat. Sekali kebanyakan ambil, tidak bisa ditambah lagi. Logam yang sudah hilang tidak kembali."
Arka bekerja sampai magrib hari itu. Tangannya pegal, matanya perih oleh konsentrasi, dan bushing yang ia kerjakan baru setengah jadi. Tapi ketika ia pulang—telat lagi, dan ia tahu bapaknya akan menunggu di gerobak—ia membawa pulang sesuatu yang tak biasa di dadanya. Bukan lelah. Bukan cemas soal uang. Sesuatu yang lebih dekat dengan rasa yang belum pernah ia kenali namanya: ia telah membuat sesuatu hari ini. Sesuatu yang akan dipakai orang. Dan itu, entah kenapa, terasa berbeda dari semua besi tua yang pernah ia timbang.