Surat itu datang pada hari Selasa, dibawa oleh kurir berseragam dinas yang motornya bersih mengilap di tengah parkiran motor-motor butut. Tak ada yang tahu isinya, mulanya. Tapi di sekolah sekecil ini, kabar bocor lebih cepat daripada oli dari paking yang aus. Pada jam istirahat, semua orang sudah membicarakannya.
Arka tahu dari Sari, yang mendengar dari kakak kelas yang bertugas piket di TU. Sari adalah anak Teknik Pemesinan juga, satu kelas dengan Arka, tapi mereka jarang bicara karena Sari selalu buru-buru pulang begitu bel berbunyi—ia kerja malam di warung makan dekat terminal, mencuci piring sampai tengah malam. Wajahnya sering pucat di pagi hari, dan kantong matanya tak pernah benar-benar hilang.
"Isinya soal akreditasi," kata Sari, suaranya rendah. Mereka berkumpul di koridor depan kelas, beberapa anak Pemesinan, sambil makan gorengan yang dibeli patungan. "Kalau dalam satu semester nilai akreditasi nggak naik, sekolah digabung ke Tunas Bangsa. Resmi. Sudah ada tanggalnya tim verifikasi mau turun."
"Tunas Bangsa?" Galih mengernyit. "Itu yang di Kalimukti? Jauh banget. Naik apa ke sana?"
"Itu masalahnya," sahut Wening, yang biasanya jarang ikut nimbrung. Ia menutup buku catatannya. "Aku sudah hitung. Dari sini ke Kalimukti, kalau naik angkot, sehari pulang-pergi delapan ribu. Sebulan dua puluh dua hari sekolah, berarti seratus tujuh puluh enam ribu. Itu baru ongkos. Belum makan siang di sana, belum kalau ada praktik sampai sore."
Mereka semua terdiam. Angka-angka Wening selalu punya cara membuat masalah jadi nyata. Bagi banyak dari mereka, seratus tujuh puluh enam ribu sebulan bukan jumlah yang bisa diabaikan. Itu bisa jadi pembeda antara sekolah dan berhenti.
Arka menggigit gorengannya tanpa selera. Ia memikirkan adiknya, Lestari, yang baru kelas dua SD dan selalu bertanya kapan kakaknya jadi insinyur. Ia memikirkan bapaknya yang akan bilang, dengan nada datar yang justru lebih menyakitkan daripada kalau marah, 'Ya sudah, Le, kalau memang nggak bisa lanjut, bantu bapak saja. Tidak apa-apa.' Tidak apa-apa. Dua kata yang berarti segalanya yang apa-apa.
"Lagian ngapain dipertahankan," kata Arka tiba-tiba, suaranya lebih ketus dari yang ia inginkan. "Sekolah ini kan memang sudah mau mati. Murid sedikit, alat rusak, guru pada mau pensiun. Digabung juga nggak rugi-rugi amat."
Wening menatapnya tajam. "Gampang ngomong gitu buat orang yang bisa pindah. Yang nggak bisa pindah gimana?"
"Aku juga nggak bisa pindah," balas Arka, lalu langsung menyesal sudah mengatakannya. Ia menutupnya dengan tawa pendek. "Ya udah, berarti aku berhenti aja. Bagus malah, bisa kerja full."
Tak ada yang tertawa. Sari menatapnya dengan ekspresi yang Arka tak bisa baca—mungkin karena ia tahu Arka tidak sedang bercanda, dan ia sendiri mungkin memikirkan hal yang sama untuk dirinya.
Di ruang guru, suasananya tak jauh berbeda. Arka tahu ini karena ia kebetulan disuruh mengantar buku absen ke sana dan mendengar potongan-potongan percakapan dari balik pintu yang setengah terbuka. Para guru honorer—yang jumlahnya lebih banyak daripada guru tetap di sekolah ini—berkumpul dengan wajah cemas.
"Kalau digabung, kita gimana, Bu?" suara seorang guru muda, Pak Eko yang mengajar Fisika. "Tunas Bangsa pasti pakai guru mereka sendiri. Kita nggak akan ditarik ke sana."
"Yang sudah tua malah enak, tinggal pensiun," sahut yang lain, getir. "Kita yang honorer baru lima tahun ini mau ke mana?"
Lalu suara berat yang Arka kenali sebagai Pak Damar. "Jangan ribut dulu. Belum tentu jadi. Akreditasi bisa diperjuangkan."
"Diperjuangkan pakai apa, Pak?" balas Pak Eko, nadanya nyaris putus asa. "Sarana kita minim. Bengkel kita separuh nggak jalan. Mau pamer apa ke tim penilai? Mesin yang rusak?"
Pak Damar tak menjawab. Tapi saat Arka mengintip lewat celah pintu untuk meletakkan buku absen di meja, ia melihat wajah guru tua itu. Bukan wajah putus asa. Wajah orang yang sedang menghitung sesuatu, diam-diam, di belakang matanya.
Kepala sekolah, Pak Hartono, masuk ke ruang guru saat itu. Lelaki berusia lima puluhan dengan kemeja yang selalu rapi meski sekolahnya berantakan. Wajahnya lelah, lebih lelah dari biasanya.
"Bapak-Ibu," katanya, dan ruangan langsung hening. "Saya tahu kalian semua sudah dengar. Saya tidak akan bohong. Peluang kita kecil. Tim verifikasi merger akan datang akhir semester. Mereka akan menilai apakah sekolah ini layak dipertahankan atau lebih baik sumber dayanya digabung ke yang lebih besar."
Ia berhenti, menatap satu per satu wajah di depannya. "Saya bukan musuh kalian. Saya cuma realistis. Kalau akhirnya digabung, mungkin itu yang terbaik buat murid-murid—mereka dapat fasilitas lebih bagus di sana. Tugas saya memastikan kalau pun kita kalah, kita kalah dengan terhormat dan tidak ada yang dirugikan lebih dari perlu."
Kalimat itu, bagi Arka yang menguping, terasa seperti seseorang sudah menyerah sebelum bertanding. Tapi ada juga sesuatu yang jujur di sana, yang membuatnya tak bisa benar-benar membenci kepala sekolah itu. Pak Hartono tidak jahat. Ia cuma lelah, dan kelelahan kadang terlihat persis seperti pengkhianatan.
Arka meletakkan buku absen dan keluar. Di koridor, ia berpapasan dengan Pak Damar yang baru keluar dari ruang guru. Untuk sesaat mata mereka bertemu. Guru tua itu menatapnya, seakan menimbang sesuatu.
"Pranaja," kata Pak Damar. "Kamu masih sering bantu bapakmu narik rosok?"
Arka kaget. Ia tak menyangka guru itu tahu. "Iya, Pak."
"Berarti kamu terbiasa pegang besi. Tahu mana baja bagus, mana yang sudah getas." Pak Damar mengangguk-angguk seperti pada dirinya sendiri. "Bagus. Tangan yang terbiasa kerja itu modal yang tidak diajarkan di buku."
Ia berlalu sebelum Arka sempat menjawab, meninggalkan kalimat itu menggantung di udara koridor yang berbau debu dan kapur. Arka memandangi punggung guru tua itu yang membungkuk pelan menuju arah belakang sekolah—ke arah Bengkel 7.
Malam itu, mendorong gerobak penuh besi tua bersama bapaknya di bawah lampu jalan yang separuh mati, Arka memikirkan dua kalimat. 'Tidak apa-apa kalau nggak bisa lanjut,' kata bapaknya di kepalanya. Dan 'tangan yang terbiasa kerja itu modal,' kata Pak Damar. Dua kalimat itu seperti dua arah jalan yang berlawanan, dan ia berdiri di persimpangannya, belum tahu harus ke mana.