Bunyi pertama yang Arka dengar saat masuk gerbang SMK Wijaya Karya Nusantara bukan bel, melainkan suara sapu lidi menggesek lantai paving yang sudah retak di banyak tempat. Pak Sukirman, penjaga sekolah, menyapu daun ketapang yang menumpuk di depan ruang piket. Sekolah ini punya empat ratus murid sepuluh tahun lalu. Sekarang, kalau satu angkatan masih sampai seratus, itu sudah keajaiban.
Arka menyelipkan motor bapaknya yang knalpotnya batuk-batuk ke barisan parkir yang separuh kosong. Ban belakangnya gundul, dan ia tahu betul karena dialah yang menambalnya tiga kali bulan lalu. Ia turun, melepas helm, dan menatap papan nama sekolah yang catnya mengelupas. Huruf 'K' pada kata TEKNIK sudah hilang separuh, jadi tinggal TEKNI. Sudah dua tahun begitu. Tak ada yang sempat membenahinya, atau tak ada yang merasa perlu.
Tiga hari ia tidak masuk. Tiga hari itu ia habiskan mendorong gerobak rosok bersama bapaknya, menyusuri gang-gang sempit di kawasan bekas pabrik tekstil, menimbang besi tua, kardus basah, dan botol plastik yang dikumpulkan dari tong sampah perumahan. Tangannya masih bau karat dan keringat asin meski sudah ia cuci dua kali tadi pagi.
"Pranaja." Suara itu memanggilnya begitu ia melewati ruang Bimbingan Konseling. Bu Ratih berdiri di ambang pintu, map cokelat di tangan. "Masuk dulu sebentar."
Arka menghela napas dan masuk. Ruangan itu sempit, berbau pengharum ruangan murah yang malah membuat kepala pening. Di dinding ada poster motivasi yang sudah pudar warnanya, bertuliskan sesuatu tentang menggapai bintang. Arka selalu menganggap poster semacam itu lelucon. Bintang itu jauh. Yang dekat hanya tagihan listrik dan beras yang menipis di karung.
"Tiga hari, Arka," kata Bu Ratih, membuka map. "Bulan lalu lima hari. Bulan sebelumnya empat. Ini sudah bukan izin lagi namanya, ini pola."
"Saya bantu bapak, Bu," jawab Arka pelan. Ia tak mengangkat wajah. Bukan karena takut, tapi karena ia tahu kalau ia menatap mata gurunya, ia harus menjelaskan, dan menjelaskan berarti membuka hal yang tak ingin ia buka. Bahwa bapaknya sakit pinggang dan tak kuat menarik gerobak penuh sendirian. Bahwa adiknya butuh seragam baru. Bahwa di rumahnya, sekolah adalah barang mewah yang harus dibayar dengan jam-jam yang hilang.
"Saya tahu kamu pintar," kata Bu Ratih, suaranya melunak sedikit. "Pak Damar bilang gambar tekniknya kamu paling cepat baca di angkatanmu. Tapi pintar tidak ada gunanya kalau rapormu bolong-bolong. Ini surat peringatan ketiga. Setelah ini, kalau kamu bolos lagi, namamu bisa dicoret dari daftar peserta ujian kompetensi nanti. Kamu paham artinya?"
Arka mengangguk. Ia paham. Tanpa sertifikat uji kompetensi, ijazah SMK cuma kertas. Tak ada bengkel atau pabrik yang mau menerima lulusan yang tak punya bukti bisa mengoperasikan mesin.
"Saya tanda tangan," katanya, menerima pena yang disodorkan. Tangannya yang kapalan menggores tanda tangan asal-asalan di kolom yang disediakan.
Di luar, lonceng pertama berbunyi. Bukan bel listrik—itu sudah lama rusak—tapi lonceng besi tua yang dipukul Pak Sukirman dengan sendok semen. Tiga kali. Arka keluar dari ruang BK dan menyusuri koridor menuju kelasnya. Sepanjang jalan, ia melewati ruang-ruang praktik. Bengkel Otomotif masih ramai, lumayan. Tapi ruang gambar teknik separuh kosong, dan Lab Komputer sudah dua minggu ini digembok karena ACnya mati dan beberapa unit hilang dicuri orang lewat jendela belakang.
Di kelas XI Teknik Pemesinan, dari tiga puluh dua bangku, yang terisi tak sampai delapan belas. Wening, gadis berkacamata yang selalu duduk di depan, sedang menyalin catatan dengan tulisan rapi yang nyaris seperti cetakan. Di pojok belakang, Bayu menunduk membaca buku rumus, jari-jarinya menghitung sesuatu tanpa suara. Arka menjatuhkan diri di bangkunya, dekat jendela yang kaca-nya retak ditambal lakban.
"Sudah dengar belum?" bisik teman sebangkunya, Galih, begitu Arka duduk. "Katanya sekolah mau dievaluasi. Ada orang dinas mau datang."
"Dievaluasi gimana?" Arka pura-pura tak tertarik, tapi telinganya menajam.
"Nggak tahu detailnya. Tapi Pak Wahyu dari TU bilang ke guru-guru, katanya soal akreditasi. Kalau jelek, bisa-bisa kita..." Galih membuat gerakan memotong leher dengan jari.
Arka mengernyit. "Dibubarin maksudnya?"
"Digabung. Sama SMK Tunas Bangsa di seberang kota. Yang besar itu."
Arka diam. Kota seberang. Naik angkot dua kali, satu jam lebih. Ongkosnya saja, kalau dihitung sebulan, hampir setara setengah penghasilan bapaknya. Kalau sekolahnya pindah ke sana, ia tahu jawabannya sudah pasti: ia tak akan ikut. Ia akan berhenti, dan menarik gerobak penuh waktu.
Pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia, diampu Bu Sari Wulandari yang suaranya selalu serak karena harus mengajar tiga kelas berturut-turut. Arka mendengarkan setengah hati, matanya menerawang ke luar jendela, ke arah deretan bangunan praktik di belakang sekolah. Yang paling ujung, terpisah sedikit dari yang lain, adalah sebuah bangunan rendah berdinding tembok yang catnya sudah menjadi abu-abu kusam. Pintunya dari pelat besi, digembok dengan rantai. Di atas pintu, dengan cat yang nyaris tak terbaca lagi, tertulis angka: 7.
Bengkel 7. Sejak Arka masuk sekolah ini setahun setengah lalu, bangunan itu selalu terkunci. Tak ada yang masuk, tak ada yang keluar. Anak-anak senior dulu bilang ada hantu di sana. Anak-anak yang lebih masuk akal bilang ada kecelakaan dulu, lama sekali, dan sejak itu bengkelnya disegel. Mana yang benar, Arka tak tahu, dan terus terang ia tak terlalu peduli.
Yang ia pedulikan saat itu hanya satu: bel pulang, supaya ia bisa kembali ke gerobak, ke besi tua, ke dunia yang lebih jujur daripada poster bintang di ruang BK.
Tapi ada satu hal kecil yang ia lihat hari itu, yang baru ia sadari kemudian. Saat pelajaran ketiga, ketika ia izin ke kamar mandi dan melewati jendela yang menghadap ke belakang, ia melihat sosok tua dengan baju kerja biru pudar berdiri di depan Bengkel 7. Pak Damar, guru praktik permesinan yang sudah hampir pensiun, yang oleh anak-anak dipanggil 'Pak Damar Jadul' karena masih percaya pada jangka sorong manual ketika sekolah lain sudah pakai digital. Pak Damar berdiri di sana, menatap pintu besi itu lama sekali, tangannya memegang sesuatu yang berkilau di saku. Lalu ia berbalik dan pergi, seakan baru saja memutuskan sesuatu.
Arka tak memikirkannya saat itu. Ia kembali ke kelas, menunggu bel, dan pulang menarik gerobak sampai magrib. Tapi gambar itu—orang tua di depan pintu berkarat—tinggal di sudut ingatannya, menunggu untuk berarti.