Jack masuk ke dalam mobil dan terduduk sambil memikirkan apa yang diucapkan oleh sang nenek kepadanya tadi.
"Dia mengatakan aku akan mengganggu keluarganya? Yang benar saja! Baru juga aku datang ke kota ini sudah mendapat tuduhan yang tidak-tidak seperti itu. Dan yang paling aneh adalah suara si nenek yang terdengar berbeda. Hawa dingin yang tadi ku rasakan ketika bersalaman langsung berubah normal ketika jabatan tangan kami terlepas. Ada apa sebenarnya? Apa benar aku mengalami jet lag atau aku yang kelelahan?" gumam Jack bertanya-tanya dalam hati.
Ketika Jack menoleh ke samping atau ke kaca jendela mobil, Jack terkejut karena tiba-tiba saja ada wajah seseorang di sana.
Orang itu mengetuk kaca mobil dan menyuruh Jack untuk menurunkan kaca mobilnya.
Jack menurut saja dan kemudian dia menurunkan kaca mobil itu.
"Siapa kau dan ada apa?" tanya Jack.
"Siapa aku itu tidak penting saat ini. Tapi aku tahu bahwa kau baru saja mengalami kejadian yang aneh ketika berada di rumah itu," jawab pria paruh baya tersebut.
"Aku tidak mengalami kejadian yang aneh apa pun. Aku hanya kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang menuju kota ini," sanggah Jack.
"Jadi kau adalah orang baru di kota ini?" tanya pria itu lagi.
Jack hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Jack tampak sedikit kurang senang dengan kehadiran pria itu dan Jack sendiri bersikap acuh tak acuh menanggapi pembicaraan pria tersebut.
"Apa kau ingin tahu rahasia kelam yang ada di rumah itu?" tanya pria itu.
"Rahasia kelam? Aku pikir kau adalah seorang pria tapi ternyata aku salah..."
"Apa maksud ucapan mu itu?" potong si pria.
"Kau tampaknya tidak lebih seperti ibu-ibu komplek yang sedang mencari kawan untuk bergosip atau hal lain semacam itu," ucap Jack.
Pria itu hanya tertawa kecil ketika dikatakan ingin bergosip oleh Jack.
"Aku telah lama mengamati rumah itu dan aku yakin ada hal yang sangat aneh disana," ucap pria itu setelah selesai tertawa.
"Jika kau merasa ada hal yang aneh disana, kenapa kau tidak langsung ke rumah itu saja?" tanya Jack.
"Itulah masalahnya," kata pria itu singkat.
"Apa masalahmu memangnya?" tanya Jack.
"Ya... Itu... Itu wanita galak itu," jawab si pria sambil menunjuk kearah Laura yang sedang berjalan menuju arah mobil.
Jack lantas menoleh ke arah Laura.
"Sudahlah, kita akan bertemu lagi dan aku pastikan ketika kita bertemu nanti kau akan membutuhkan bantuan ku." tutup pria itu.
Jack menoleh kembali ke arah si pria yang tadi berdiri disamping mobil milik Laura itu namun ketika Jack menoleh dia sama sekali tidak mendapati pria itu lagi berada disana.
Jack melihat ke depan dan kaca spion mobil untuk mencari keberadaan pria yang tadi berbicara dengan dirinya. Akan tetap tetap saja Jack tidak menemukan bahkan bayangan pria itu pun tak tampak lagi.
"Orang yang aneh," ucap Jack.
Laura masuk ke dalam mobil ketika itu dia mendapati Jack masih dalam keadaan clingak-clinguk seperti mencari sesuatu.
"Apa yang kau cari?" tanya Laura ketika masuk ke dalam mobil.
"Tidak ada seseorang dan orang itu tiba-tiba menghilang begitu saja," jawab Jack.
Laura tertawa mendengar jawaban Jack seraya berkata,
"Aku rasa kai benar-benar kelelahan sehingga sedang istirahat pun bisa bermimpi,"
"Ya, mungkin aku memang kelelahan saja," ucap Jack sambil memelas.
Laura pun memacu mobilnya menuju rumah secepat mungkin agar Jack bisa beristirahat.
Laura adalah adik sepupu dari ibu Jack. Dia seorang janda dengan satu anak perempuan yang cantik bernama Kelly. Kelly baru saja menempuh semester ke dua di kampus yang sama dengan kampus yang akan Jack masuki yaitu Luna Ville University.
*****
Dua bulan sebelum kedatangan Jack di Luna Ville...
Gadis muda itu berjalan cepat karena dia melihat ke langit sore ketika itu sudah sangat mendung. Rintik hujan turun satu per satu membasahi bumi. Namun ketika memasuki kawasan yang berada di hadapannya, dia menghentikan langkahnya dan hatinya mulai merasa ragu. Kawasan itu bernama Red Light Distrik, daerah yang segala tempat hiburan ada disana. Mulai dari bar, club malam hingga discotik yang hampir tidak pernah berhenti beroperasi. Selain itu Red Light Distrik juga terkenal sebagai pusat pelacuran dan peredaran narkoba. Akan tetapi gadis itu berusaha menekan rasa ragunya demi mencari seseorang di daerah tersebut. Dengan berat hati gadis itu pun memasuki daerah itu. Langkahnya pelan dan tampak berhati-hati sambil memperhatikan keadaan disekitar tempat itu. Ketika dia melewati sebuah gang yang sepi tiba-tiba ada seseorang yang berteriak.
"Berhenti!"
Gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah gang tersebut.
Dari dalam gang berjalan seorang pria kurus paruh baya dengan setelan jas rapi.
Pria itu menghentikan langkahnya ketika jarak antara mereka hanya dua langkah saja.
Gadis itu berdiri diam dan terpaku ketika pria tersebut memperhatikan dirinya dari ujung kepala sampai ke kaki. Bukan itu saja, pria tersebut sempat mengeliling tubuh si gadis yang masih berdiri terpaku.
"Kau tahu ini tempat apa?" tanya pria paruh baya tersebut.
Gadis itu menjawab dengan anggukan kepala.
Pria itu kembali memperhatikan si gadis dan kemudian dia kembali berkata,
"Dilihat dari penampilan mu kau tampak seperti seorang p*****r dan pecandu narkoba. Apa kau butuh uang sehingga kau beroperasi ketika hari masih sore seperti ini?"
"Kau hanya menilai orang dari penampilannya saja. Aku bukanlah orang yang seperti kau pikirkan! Atau jangan-jangan kau adalah seorang hidung belang atau seorang pengedar narkoba di daerah ini?" si gadis balik menuduh.
Pria itu tertawa kecil dan tersenyum mendengar tuduhan yang dilayangkan kepada dirinya.
Tanpa banya bicara pria itu lantas merogoh saku jasnya dan memperlihatkan tanda pengenalnya kepada si gadis.
Gadis itu tercekat kaget melihat tanda pengenal itu.
"Kau telah menghina seorang petugas kepolisian. Aku Detective Morales dan bekerja dibagian narkotika!" seru pria paruh baya itu yang ternyata seorang Detective yang bernama Morales.
"Ma... Maaf aku tidak tahu," ucap si gadis sambil menunduk.
"Aku sedang bertugas dan sekarang aku akan melakukan tugasku," balas Detective Morales.
Detective Morales kemudian menarik gadis tersebut ke dalam gang yang sepi tempat dimana dia tadi muncul.
"Serahkan tas mu itu," pinta Detective Morales.
Gadis itu tidak membantah dan menyerahkan tas tersebut kepada Detective Morales.
Sang Detective memeriksa tas si gadis berharap menemukan narkoba di dalam tas itu.
Namun dia tidak menemukan apa-apa di dalam tas tersebut.
Setalah memeriksa tas, kemudian Morales meminta jaket si gadis yang di ikat di pinggangnya itu.
Detective itu memeriksa satu persatu kantong jaket tersebut dan ternyata juga tidak menemukan apa-apa.
"Sekarang buka pakaian mu!" perintah Detective Morales.
Tentu saja kali ini si gadis menolaknya kerena permintaan itu sudah terlalu mengada-ngada.
"Aku tidak mau karena aku bukan pemakai dan juga bukan pengedar narkoba!" tolak si gadis.
"Kau tahu berapa tahun hukuman bagi seseorang yang menghalangi tugas polisi?" tanya Detective Morales sambil mengancam.
Gadis itu tetap tidak bergeming dan tidak ingin membuka pakaiannya.
Hal itu jelas membuat Morales jengkel dan kemudian dia mengeluarkan pistol serta menodongkan pistol itu ke arah si gadis.
Gadis itu tampak ketakutan yang pada akhirnya dia pun menuruti permintaan Detective Morales.
Gadis itu membuka satu per satu pakaiannya.
Detective Morales tampak beberapa kali menelan ludah ketika melihat tubuh indah si gadis. Terlebih dibagian d**a dengan tonjolan daring yang membusung.
"Itu padat sekali," gumam Detective Morales yang matanya tidak beralih dari d**a si gadis.
Detective Morales tidak menghiraukan pakaian gadis itu lagi untuk diperiksa. Dia mendekati dan mencoba memeluk gadis itu.
Kali ini gadis itu baru tersadar jika Detective itu bukan ingin melakukan pemeriksaan akan tetapa hendak memperkosa dirinya.
Detective Morales mendekat sambil melucuti celananya sendiri. Seperti harimau yang buas, dia pun segera menerkam gadis tersebut.
Si gadis meronta mempertahankan kesuciannya sedangkan Morales semakin buas karena sudah dikuasai nafsu.
Mereka bergumul di jalan setapak gang tersebut dengan posisi Morales berada diatas tubuh si gadis.
Gadis itu mendapat satu kesempatan ketika Morales melebarkan kaki saat itulah dia melakukan satu hal yang tak terduga.
Buuuk!
Lututnya menghantam telak alat vital Morales yang berdiri tegak tersebut.
"Hiikss!" Morales meringis kesakitan dan berguling ke samping.
Detective itu meringkuk kesakitan sambil memegangi alat vitalnya.
"k*****t kau! Dasar wanita jalang!" maki Morales sambil menahan rasa sakit.
Gadis itu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur. Dia tidak menghiraukan lagi keadaan dirinya yang bugil. Dia berlari menyusuri gang tersebut dan menghilang disebuah tikungan.
Sementara itu Detective Morales masih meringkuk kesakitan disana.