Luna Ville adalah kota kecil yang diapit oleh pegunungan dan juga pantai. Kota kecil yang indah namun sangat tertutup sehingga tidak begitu banyak turis atau orang yang datang ke kota tersebut.
Bahkan penerbangan menuju Luna Ville dapat dihitung dengan jari dalam seminggu.
Pesawat yang ditumpangi oleh Jack baru saja mendarat.
Ketika itu hari sudah sore dan Jack berjalan pintu keluar bandara yang mana bandar itu tidak terlalu besar.
Jack berdiri sejenak dan bergumam,
"Aku harus kemana? Dan mana yang katanya datang ingin menjemput ku?"
"Apa kau yang bernama Jack?" terdengar suara wanita dari arah samping.
Jack menoleh ke samping dan disana ada seorang wanita mengenakan dress ketat berwarna hitam singkat sebatas paha.
Jack tidak melihat ke arah wajah wanita itu karena ada pemandangan yang lebih menarik bagi Jack yaitu bagian d**a wanita itu yang tampak menyembul besar.
"Besar sekali," gumam Jack.
Jack terpana dan terpaku untuk beberapa saat sampai wanita itu kembali bertanya,
"Apa kau yang bernama Jack Hunter?"
Jack tersadar dan kemudian menjawab,
"Eh... I_iya, aku Jack Hunter," jawab Jack sedikit gugup.
"Wajahku disini bukan disini," ucap wanita itu sambil menunjuk dadanya.
"Ka... kau siapa?" tanya Jack.
"Aku? Masa kau tidak mengenaliku?" wanita itu balik bertanya.
"Aku baru melihatmu, bagaimana mungkin aku tahu siapa dirimu," jawab Jack.
"Tentu saja kau tidak ingat siapa aku karena terakhir bertemu kau masih sangat kecil sekali," ucap wanita tersebut.
"Apa kau tante Laura?" terka Jack.
"Meski pun aku ini adik sepupu ibumu bukan berarti aku setua itu. Kau cukup panggil aku dengan sebutan Laura saja," ucap wanita cantik yang bernama Laura tersebut.
Jack melongo dan tidak habis pikir kenapa dia harus menyebut nama saja kepada adik sepupu ibunya tersebut.
"Ayolah kita berangkat karena aku harus bekerja malam ini," ucap Laura sambil mengajak Jack untuk pergi meninggalkan bandara tersebut.
"Baiklah," sahut Jack sambil menarik nafas.
Akhirnya Jack sampai ke Luna Ville, tempat yang sama sekali tidak ada dalam pikirannya. Namun segala sesuatu kadang memang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan termasuk jalan hidup yang sedang dijalani oleh Jack saat ini.
*****
Keduanya pantas berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka bertemu tadi.
"Selamat datang di kota kecil yang indah bernama Luna Ville," ucap Laura ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Sepertinya kau telat mengucapkan kata-kata itu," sahut Jack.
"Telat atau tidak, selamat datang ya selamat datang," ucap Laura.
"Kalau begitu aku ucapkan terima kasih," balas Jack.
Mobil pun melaju pergi meninggalkan bandara tersebut.
Jack melihat kiri-kanan keadaan kota kecil yang bernama Luna Ville itu.
"Beginilah keadaan kota ini. Tenang, damai dan tidak terlalu ramai. Tidak sama seperti kota besar yang kua tinggali itu. Aku harap kau betah tinggal disini," ucap Laura sambil terus memacu mobilnya.
Jack menarik nafas panjang dan kemudian berkata,
"Betah atau tidak betah. Aku harus tetap berada di kota ini sampai kuliah ku selesai,"
"Aku merasa heran dengan sikap ibumu dan ayahmu yang memindahkan mu untuk kuliah di kota kecil seperti ini. Padahal kampus di kota besar jauh lebih bagus dan bermutu dibandingkan dengan kampus yang berada di tempat ini meski pun itu adalah kampus terbaik yang ada di kota ini," ucap Laura.
"Entahlah, sebagai anak aku hanya menuruti keinginan kedua orang tua ku," balas Jack.
"Apa kau ada masalah serius di kampus mu sebelumnya?" tanya Laura.
Jack tercekat dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Laura barusan.
"Tentu saja tidak! Aku adalah salah satu mahasiswa yang berprestasi di kampus ku," jawab Jack berbohong.
"Sepertinya aku tidak percaya dengan jawaban mu itu,"
"Itu hak mu jika kau mau percaya atau tidak," sahut Jack acuh.
Matanya liar melihat kiri-kanan dan memperhatikan keadaam kota tersebut.
Mobil memasuki sebuah perumahan dan berhenti di depan sebuah rumah.
"Apa ini rumahmu?" tanya Jack.
"Tidak, ini adalah rumah ibuku. Nenek mu juga karena ibuku dan nenek mu adalah Kakak beradik," jawab Laura.
Di depan pintu rumah tampak berdiri seorang wanita tua berusia sekitar 70 tahuan.
Rambutnya yang putih dan wajah yang mulai keriput tidak membuat kecantikan wanita tua itu tampak luntur.
Jack memperhatikan wanita tua tersebut dan kemudian dia berkata sambil melirik ke arah Laura,
"Pasti ibumu waktu muda dulu adalah wanita yang sangat cantik,"
"Sok tahu! Ayo turun!" ajak Laura sambil membuka pintu dan keluar dari dalam mobil.
"Baiklah," sahut Jack.
Mereka berdua keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah wanita tua tersebut.
"Siapa pecundang yang kau bawa itu?" tanya si nenek dengan nada ketus.
Laura tersenyum dan tertawa kecil ketika Jack disebut pecundang oleh ibunya.
"Dia? Dia adalah Jack Hunter putra dari Thomas. Ibu pasti mengenal siapa Thomas dan istrinya," jawab Laura.
"Jadi kau adala cucu dari kakak ku yang bernama Martha itu?" tanya sang nenek.
"I... Iya nek," jawab Jack sambil menunduk.
Jack kemudian menghampiri dan menyalami sang nenek.
Namun ketika mereka bersalaman Jack merasakan hawa dingin yang merasuk ke sekujur tubuhnya.
"Hawa dingin apa ini?" tanya Jack dalam hati.
Jack kemudian melirik kearah sang nenek yang mana wanita tua itu tampak sedang menatap tajam ke arah dirinya.
Tatapan yang belum pernah didapatkan oleh Jack. Itu bukan tatapan rasa kasih sayang tapi adalah sebuah tatapan yang dipenuhi oleh rasa kebencian.
"Kau pecundang! Jangan pernah kau membuat ulah dan menggangguku serta keluarga ku atau kau akan merasakan akibatnya!" Jack mendengar suara ancaman tersebut.
Jack ketika itu merasa berada disebuah ruang hampa dan gelap.
"Apa... Apa yang sedang terjadi?" gumam Jack.
"Apa Jenny ada di rumah bu?" tanya Laura.
Suara dari Laura tadi membuat Jack kembali tersadar dam segera melepaskan tanganya dari tangan si nenek.
"Ada! Dia ada di dalam," jawab si nenek.
Jack masih terdiam dan terpaku dan kemudian dia baru menyadari suara yang dia dengar ketika salaman tadi jelas berbeda dengan suara si nenek ketika berbicara dengan Laura barusan.
"Apa ini? Ada apa sebenarnya?" Jack semakin bingung.
Plak!
Laura menepuk pundan Jack yang membuat Jack terperanjat dam terkejut.
"Jack! Kau kenapa?" tanya Laura.
"Tidak...Tidak... Aku tidak apa-apa," jawab Jack yang tampak seperti orang kebingungan.
"Kalau kau tidak kenapa-kenapa lantas kenapa kau tampak seperti orang yang sedang kebingungan?" tanya Laura.
"Ini mungkin karena jetlag dipenerbangan tadi. Sebaiknya aku kembali dan menunggu di mobil saja," jawab Jack sambil melangkah pergi menunju mobil.
"Baiklah kalau begitu kau tunggu dimobil saja karena aku tidak akan lama," ucap Laura.
Jack tidak menjawab lagi dan tampak berlari kecil menuju ke arah mobil.