Dia mulai resah karena hujan mulai turun deras sejak tadi. Wajahnya yang mulai keriput tidak mengurangi kecantikan dirinya. Terlebih dibagian kepala terikat bandana sutra halus berwarna merah muda pemberian mendiang suaminya dulu. Wanita itu hanya berpakaian tipis tanpa lengan dengan rok pendek sebatas paha. Ini adalah rokok yang kesekian kali dia hisap sambil menunggu hujan yang tak kunjung reda. Wanita itu bernama Paula berusia sekitar 55 tahun. Paula tinggal di ujung gang bagian belakang daerah Red Light Distrik.
Rumahnya yang kecil hanya berisikan lemari kecil serta kasur lantai yang sudah mulai menipis. Ada sebuah meja kecil yang mana diatas meja itu berserakan bekas botol minuman keras yang entah sejak kapan berserakan di meja dan di lantai rumah atau bisa dikatakan itu hanyalah sebuah pondok karena ukurannya yang sangat kecil.
Hidup Paula dulunya begitu berkecukupan karena suaminya adalah seorang pengusaha yang cukup sukses di daerah Luna Ville. Namun sejak kematian suami dan putrinya karena sebuah kecelakaan mobil membuat Paula menjadi sangat-sangat depresi. Setelah sembuh dan keluar dari rumah sakit tidak membuat keadaan Paula menjadi jauh lebih baik. Paula mulai mabuk-mabukan dan menjadi pecandu narkoba sebagai pelarian atas rasa sedih yang dia alami.
Paula membuka pintu rumahnya dan melihat hujan masih tampak turun sangata deras.
"Jika seperti ini terus aku tidak bisa keluar dan tidak akan mendapatkan uang," ucapnya dengan wajah memelas.
Dibawah derasnya suara hujan tiba-tiba saja telinga Paula menangkap sebuah suara dengan samar-samar.
"Suara tangisan? Siapa yang menangis?" Paula bertanya-tanya dalam hati.
Suara itu berasal dari balik sebuah drum penampung air yang berada tepat disamping rumah Paula.
Wanita paruh baya itu melongok kebalik drum itu namun dia tidak melihat apa pun.
Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Paula pun berjalan ke arah drum tersebut dan...
"Astaga!" Paula berseru kaget melihat sesuatu dibalik drum tersebut.
Paula ketika itu menemukan seorang gadis muda meringkuk kedinginan dalam keadaan telanjang bulat.
"Siapa kau?" tanya Paula.
Gadis itu tidak menjawab namun dia mengangkat wajahnya menatap Paula dengan tatapan mengiba.
Paula tidak yakin jika gadis yang dia temui dalam keadaan telanjang itu adalah orang gila segera memeluk gadis itu dan menenangkannya.
"Tenanglah. Ada ibu disini nak," ucap Paula sambil memeluk gadis itu.
Karena hujan masih turun dengan derasnya Paula pun mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah Paula memberikan gadis itu pakaian dan minuman hangat untuk menghangatkan tubuhnya.
Malam itu Paula tidak jadi beroperasi karena harus merawat gadis yang dia temui karena si gadis setelah itu mengalami demam.
*****
Kita kembali masa Jack sudah berada di Luna Ville.
Jack merasa segar setelah bangun pagi itu. Dia bergegas ke kamar mandi untuk mandi karena hari itu adalah hari pertama dia kuliah di kampus barunya.
Setelah selesai mandi Jack bergegas keluar dan menuju meja makan untuk sarapan. Disana Jack terkejut ada seorang gadis cantik berambut ikal panjang dan tentu saja cantik sudah duduk dan sarapan.
"Kau pasti Jack," sapa si gadis.
"Ka... Kau siapa?" tanya Jack.
"Apa ibuku tidak mengatakan siapa aku dan membicarakan tentang aku kemarin?" si gadis balik bertanya.
"Aku rasa Laura tidak berbicara apa pun tentang gadis cantik di rumah ini kemarin karena kemarin sepulang dari rumah nenek aku langsung istirahat dan tertidur," jawab Jack panjang lebar.
"Namaku Kelly dan aku adalah putri satu-satunya dari Laura," ucap Kelly memperkenalkan diri.
"Ternyata ibu dan anak sama saja," ucap Jack.
"Apa maksud dari ucapan mu itu?" tanya Kelly sambil melotot menatap Jack.
"Ya sama... Sama-sama Cantik," jawab Jack sambil tertawa.
"Dasar ceriwis!" seru Kelly yang juga ikut tertawa.
"Cepat habiskam sarapan mu atau kau akan aku tinggalkan," ujar Kelly sambil bangkit dari tempat duduknya.
Jack mengambil roti yang menjepit roti itu dengan bibirnya dan berlari mengejar Kelly yang sudah keluar duluan.
"Apa kita kuliah di kampus yang sama?" tanya Jack ketika hendak masuk ke dalam mobil.
"Ya tentu saja! Kau pikir aku kuliah dimana lagi karena di kota ini cuma itu satu-satunya kampus yang ada," jawab Kelly.
"Aku pikir kau masi SMA," ledek Jack.
"Sembarangan kau!" seru Kelly kesal.
Kedua saudara sepupu itu pun segera berangkat menuju kampus dengan Kelly yang bertindak sebagai sopir.
Tiba-tiba Jack teringat akan Laura yang sama sekali tidak dia temui pagi itu di rumah.
"Eh... Laura kemana? Kenapa dia tidak tampak ikut sarapan di rumah tadi?" tanya Jack.
"Ibu baru pulang pagi tadi dan dia pasti sedang tidur," jawab Kelly.
Jack mengangguk paham dan dia tidak melanjutkan pertanyaannya lagi.
Sedangkan Kelly semakin menginjak gas mobil dan membawa mobil dengan kecepatan tinggi menuju kampus mereka yang bernama Luna Ville University.
*****
Kedua saudara sepupu itu keluar dari dalam mobil setelah Kelly memarkir mobilnya.
Di pelataran parkir itu mereka bertemu dengan seorang mahasiswa berbadan gemuk dengan wajah kemerah-merahan. Kaca mata sedikit tebal menghiasi wajahnya. Dengan tergopoh-gopoh pemuda itu berjalan menghampiri Kelly dan Jack.
"Hai Kelly! Apa pria ini pacar baru mu lagi?" tanya si gendut.
"Dia saudara sepupu ku dan namanya adalah Jack," jawab Kelly sedikit ketus.
"Syukurlah," ucap si gendut dengan wajah lega.
"Hai Jack! Namaku Justin dan aku adalah calon pacarnya Kelly," ucap si gendut yang bernama Justin memperkenalkan dirinya.
"Wah! Kau serius?" tanya Jack dengan mimik wajah seperti mengejek Kelly.
"Tentu saja aku serius! Benar begitu kan Kelly?" tanya Justin sambil melirik ke arah Kelly.
"Jangan harap dan jangan pernah berharap!" seru Kelly dengan wajah kesal.
Kelly yang merasa kesal melihat Justin, pergi begitu saja meninggalkan Jack.
"Kelly! Aku bagaimana?" tanya Jack sedikit bingung karena dia adalah mahasiswa baru dan harus bertemu dengan Principal universitas tersebut.
"Pergi saja kau dengan teman barumu itu!" teriak Kelly kesal.
Jack dan Justin saling pandang dan kedua pria itu sama-sama melongo untuk beberapa saat.
"Ini semua gara-gara kau," ujar Jack sambil mendorong pundak Justin.
"Apa salahku?" tanya Justin heran sambil garuk-garuk kepala.
"Aku juga tidak tahu," jawab Jack sambil tertawa.
Justin memperhatikan Jack beberapa saat dan kemudian Justin pun berkata,
"Kau tampak begitu asing dan aku baru melihatmu di kampus ini,"
"Karena aku mahasiswa baru disini," jawab Jack.
"Pantaslah," kata Justin singkat.
"Apanya yang pantaslah?" tanya Jack sambil melotot.
"Ya... Ya pantas saja aku baru melihatmu," sahut Justin.
"Sekarang Kelly sudah pergi dan aku tidak tahu harus kemana setelah ini," keluh Jack.
"Tenang saja sobat! Selama ada Justin, kau akan selamat," hibur Justin.
"Aku harus bertemu Principal dan kau bisa mengantarkan aku ke ruang Principal?" pinta Jack.
"Tentu saja bisa!" seru Justin dengan penuh semangat.
Justin pun akhirnya mengantarkan Jack menuju ruangan Principal karena Jack ditinggalkan begitu saja oleh Kelly karena kesal melihat Justin yang terus merayu dirinya.