Suasana tampak sedikit tegang di dalam ruangan Principal Albert.
Di hadapan Albert duduk dua orang pria yang mana kedua pria itu adalah ayah dan anak.
Sang ayah sesekali menahan nafas menyaksikan sebuah rekaman yang diputar di sebuah laptop yang terletak di atas meja kerja Albert.
"Apa yang anak anda lakukan ini sudah sangat keterlaluan Tuan Hunter," ucap Albert setelah Tuan Hunter selesai menyaksikan rekaman tersebut.
Tuan Hunter menoleh ke arah putranya yang mana sang putra tampak acuh sambil sesekali menatap langit-langit ruangan tersebut.
"Aku sama sekali tidak menyangka jika anak ku melakukan perbuatan seperti itu Tuan Albert," jawab Hunter.
"Ini bukan lagi soal kenakalan Tuan tapi ini adalah sebuah tindakan kriminal!" seru Albert.
"Dan anda tahu Tuan perbuatan seperti ini bisa dihukum penjara!" sambung Albert sambil menyampaikan ancamannya.
Mendengar ancaman penjara dari mulut Albert membuat sang putra yang tadi acuh menjadi terperanjat dan hampir saja terjatuh dari tempat duduknya.
Tuan Hunter atau yang bernama Thomas Hunter adalah seorang pengusaha dan orang yang cukup terpandang di kota itu. Tentu saja Thomas berpikir jika anaknya dipenjara itu akan merusak reputasinya sebagai orang yang terpandang di kota itu.
"Aku harap urusan ini cukup sampai disini saja Tuan Albert dan jangan sampai ke polisi," pinta Thomas.
"Dan aku akan membayar berapa pun kompensasi yang kalian inginkan," sambung Thomas menawarkan jalan keluar.
"Soal kompensasi itu bukan urusan ku Tuan tapi itu adalah urusan Nona Natasha sebagai pihak yang dirugikan oleh putra anda," kilah Albert.
"Lagi pula aku mengambil rekaman itu hanya untuk koleksi pribadi bukan untuk disebar luaskan," kilah sang putra membela diri.
Plak!
Satu keplakan menghantam kepala sang putra yang membuat pemuda itu mengeluh kesakitan dan tampak meringis.
"Apa pun itu kau tetap salah dan jangan membenarkan apa yang telah kau lakukan apa pun alasannya!" bentak Thomas kepada anaknya tersebut.
"Kalau begitu tolong panggilkan Nona Natasha," pinta Thomas.
Kemudian Albert pun menghubungin stafnya dan menyuruh wanita yang bernama Natasha untuk ke ruang kerja Albert.
Suasana di dalam ruangan itu hening untuk beberapa saat sampai terdengar suara ketukan dari luar.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!" seru Albert.
Ketika pintu terbuka baik Thomas maupun putranya sama-sama memutar tubuh dan melihat ke arah pintu.
Dari pintu itu masuk seorang wanita cantik yang memiliki tubuh proposonal serta berambut pirang.
Wanita itu menatap tajam ke arah pemuda itu dengan rasa amarah seakan-akan menerkam serta ingin memakan pemuda itu hidup-hidup.
"Silahkan duduk Nona Natasha," sambut Albert.
Thomas berdiri dari tempat duduknya kemudian menyalami Natasha sambil memperkenalkan diri sebagai ayah dari pemuda yang ingin dia telan hidup-hidup itu.
Thomas memperhatikan jam tangannya sejenak dan kemudian dia pun berkata,
"Aku tidak memiliki banyak waktu karena aku akan ada pertemuan dengan menteri beberapa saat lagi. Jadi begini Nona Natasha, aku harap urusan antar putraku yang bernama Jack dengan dirimu selesai disini saja dan tidak harus berakhir di kantor polisi. Aku tahu anda benar-benar sangat dirugikan oleh perbuatan Jack tapi aku dan Tuan Albert sudah membuat kesepakatan akan membayar berapa pun kompensasi yang diinginkan oleh pihak kampus asalkan tidak ada laporan yang masuk ke polisi," ucap Thomas panjang lebar.
Natasha melirik ke arah Albert dan kemudian Albert pun berkata,
"Aku rasa Jack juga tidak menyebarkan rekaman itu kemana pun jadi kau tetap aman Nona Natasha,"
Natasha menarik nafas sesat dan dia masih tampak kesal ketika melihat ke arah Jack.
"Tapi ada satu syarat lagi," ucap Natasha.
"Katakan apa syarat yang anda inginkan?" tanya Thomas.
"Aku tidak ingin melihat pemuda b******k ini lagi dan aku ingin dia dikeluarkan dari universitas ini," pinta Natasha.
Tentu saja mendengar permintaan Natasha itu membuat Jack jatuh terjengkang dari tempat duduknya karena saking terkejutnya dia mendengar permintaan Natasha yang ingin dia dikeluarkan dari universitas tersebut.
"Setuju!" sahut Thomas tanpa berpikir lagi.
Thomas dan Natasha pun bersalaman.
Jack yang tampak kesal segera bangkit dan meninggalkan ruangan tersebut tanpa sepatah kata pun.
"Sekarang aku harus pergi karena ada urusan penting. Kirim saja berapa jumlah kompesasinya dan nomor rekening Nona Natasha." tutup Thomas sambil berlalu pergi.
Albert hanya mengangkat kedua tangannya tanda pasrah dan Natasha sedikit tersenyum karena Jack yang selama ini menjadi biang kerok di kampus itu telah berhasil disingkirkan walau ada sedikit rasa tidak puas dalam hatinya karena semua urusan dapat diselesaikan hanya dengan uang.
*****
Thomas masuk ke dalam mobil ketika sopir pribadinya membukakan pintu untuk dirinya. Di dalam mobil mewah itu sudah ada Jack yang duduk dengan wajah tampak sangat kesal terhadap keputusan ayahnya yang menyetujui jika dirinya dikeluarkan dari universitas tersebut.
"Kau kenapa?" tanya Thomas sambil menoleh dan menatap Jack.
"Ayah masih bertanya aku kenapa?" Jack balik bertanya dengan nada kesal dan menatap tajam ke arah sang ayah.
"Setiap perbuatan itu pasti ada konsekuensinya dan kau harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kau perbuat. Jika itu adalah hukuman maka kau harus menerima hukuman atas kesalahan yang kau perbuat. Kau adalah seorang laki-laki maka jadilah laki-laki yang mempertanggung jawabkan apa yang telah kau perbuat," ucap sang ayah.
Jack yang keras kepala tentu saja tidak bisa menerima nasehat yang diberikan oleh sang ayah terlebih ketika sang ayah setuju dirinya dikeluarkan dari universitas terbaik di kota tersebut.
"Ngomong-ngomong tubuh Nona Natasha itu bagus juga ternyata," ucap sang ayah sambil tersenyum.
Kenakalan apa yang dilakukan oleh Jack sehingga dia dikeluarkan dari universitas tersebut?.
Nona Natasha adalah pelatih pemandu sorak tim basket di universitas tempat Jack kuliah.
Keindahan tubuh Nona Natasha membuat Jack merasa penasaran dan ketika mendapat kesempatan, Jack merekam Nona Natasha yang sedang mandi di kamar mandi kampus ketika telah selesai melatih. Namun celakanya Jack ketahuan dan rekaman itu disita pihak universita. Dan rekaman itulah yang disaksikan oleh Thomas ketika berada di ruangan Albert tadi.
"Aku punya rencana lain untukmu," ucap Thomas memecah keheningan.
"Rencana apa?" tanya Jack yang tampak malas.
"Ini adalah rencana terbaik untukmu Jack dan ini akan melatih dirimu bagaimana menjadi seorang laki-laki nantinya," ucap sang ayah.
Jack hanya menoleh ke arah sang ayah tanpa bicara sepatah kata pun.
"Aku tidak ingin kau tumbuh menjadi laki-laki yang lemah dan manja serta apa yang kau inginkan selalu kau dapatkan," ucap sang ayah lagi.
"Aku bukan orang yang selemah dan semanja itu!" protes Jack.
"Kalau begitu buktikan!" tantang sang ayah.
"Katakan apa yang sedang ayah rencanakan sebenarnya?" tanya Jack yang merasa sedikit kesal.
"Aku juga sudah bicara dengan ibumu dan ibumu setuju dengan rencana ku ini," jawab sang ayah.
"Ibu? Ibu setuju dengan rencana ayah? Apa yang sebenarnya kalian sedang rencanakan terhadap diriku?" tanya Jack penasaran.
"Tapi aku tidak yakin kau akan mampu untuk itu," ucap sang ayah meremehkan.
Jack yang merasa kesal karena ayahnya bicara berbelit-belit pun merasa tetantang karena merasa diremehkan seperti itu.
"Ayah jangn meremehkan aku! Aku bukan lelaki cengeng dan manja seperti yang ayah kira," ujar Jack kesal.
"Apa betul seperti itu?" tanya sang ayah sambil tersenyum.
"Tentu saja!" seru Jack.
Thomas kemudian merogoh saku jas bagian dalam dan mengambil sesuatu. Setelah itu dia pun menyerahkannya kepada Jack.
Jack menerimanya yang mana ternyata itu adalah selembar tiket pesawat.
Jack membaca dan memperhatikan tujuan dari tiket pesawat tersebut.
"Luna Ville," desis Jack.
"Pria sejati tidak akan menarik ucapanya, bukan begitu?" tanya Thomas.
"Kalian mengasingkan dan membuang ku?" tanya Jack sambil melotot.
"Tidak begitu, disana kau akan tinggal bersama Laura, adik ibumu dan kau akan melanjutkan kuliah mu disana," jawab Thomas.
"Tapi kenapa harus Luna Ville?" tanya Jack sedikit memelas.
"Itu pilihan ibumu," jawab Thomas.
Jack mau tidak mau harus menerima keputusan yang telah dibuat oleh kedua orang tuanya itu.
Jack tidak ingin dipandang remeh oleh sang ayah dan akan membuktikan jika dia bisa hidup tanpa kemewahan yang dia dapatkan selama ini.