Reza mengucapkannya lagi di lift, di antara lantai sebelas dan lobi, dengan nada orang yang sedang menyampaikan laporan cuaca.
'Lo hampir manusia.'
Sore itu ada dua hal yang menurut Reza layak dicatat, dan Reza tidak mudah menganggap sesuatu layak dicatat. Pertama, seorang vendor datang dengan angka yang meleset jauh dan penjelasan yang berbelit, dan Gilang menolak proposalnya tanpa sekali pun merendahkan orangnya — ia menunjuk tiga baris yang salah, menyebutkan apa yang harus diperbaiki, lalu mengucapkan terima kasih. Dua tahun lalu vendor itu akan keluar dari ruangan dengan wajah yang tidak bisa diperbaiki sampai malam.
'Angka di baris tujuh tidak cocok dengan lampiran Bapak sendiri,' kata Gilang waktu itu, tanpa menaikkan suara. 'Baris sebelas juga. Dan yang di bawah ini bukan harga, itu perkiraan. Perbaiki, kirim ulang hari Kamis. Kalau tidak bisa Kamis, bilang sekarang, jangan Kamis sore.'
Vendor itu keluar sambil menyalami semua orang. Di pintu ia sempat menoleh, seperti menunggu kalimat susulan yang biasanya datang. Tidak ada.
Kedua, sebuah slide cadangan nyasar ke tumpukan presentasi: ada usul memakai foto keluarga sebagai penutup, dengan keterangan tentang nilai-nilai perusahaan. Gilang menariknya keluar sebelum rapat dimulai dan mengembalikannya ke tim komunikasi dengan satu kalimat: istri saya bukan bahan slide.
'Fokus,' kata Gilang di lift, dan menekan tombol lobi.
Pola tua itu tidak basi karena masih ada remnya di belakang. Reza tahu itu, dan karena itu ia tidak pernah membesarkannya. Tidak ada sertifikat. Tidak ada wawancara majalah tentang pemimpin yang berubah. Yang ada hanya catatan operasional yang tidak pernah ditulis di mana pun: hari ini bosnya tidak berbau algojo, minggu ini juga, bulan ini juga — sejauh amplop merah di brankas itu tetap tidur.
Malamnya Kinara mendengar versi pendeknya, tanpa detail koridor, sambil menutup laptop.
'Hampir manusia,' ulangnya. 'Itu penilaian Reza. Biar dia yang pegang.'
'Saya cuma bilang fokus.'
'Bagus. Pembagian tugasnya benar begitu.' Ia melipat kacamatanya. 'Jangan sombong, Pak. Rem masih berlaku. Saya lihat Bapak berhenti — sejauh ini. Lima belas bulan lebih. Dan hari ini saya memilih lagi.'
'Fokus,' kata Gilang. 'Tidak sombong. Kertas tempel di kulkas masih ada.'
Kertas itu memang masih ada, warnanya sudah pudar, tulisannya satu kata besar. Kinara pernah menirukan huruf F-nya sambil tertawa kecil, dan sejak itu tidak ada yang berani mencabutnya.
'Kesempatan tidak datang dua kali,' kata Gilang. 'Ruang kau tetap. Penyaring tetap. Bukan ornamen, bukan simbol. Memo penutupan tetap berlaku. Surat kau — pilih tiap hari — masih di laci. Pintu tidak saya tahan.' Ia berhenti sebentar. 'Love you. Jarang. Tidak perlu dibalas.'
Kinara tidak membalasnya malam itu. Ia mengangguk, mengambil gelas air, dan naik.
Keesokan harinya di rapat direksi, ada usul menutup satu lini produk yang merugi selama tiga kuartal. Gilang mendengarkan empat orang sampai selesai, termasuk seorang manajer muda yang bicara terlalu cepat dan hampir kehilangan urutannya sendiri. Baru setelah itu ia memutuskan: lini itu ditutup bertahap dalam enam bulan, bukan langsung, supaya tiga puluh orang di dalamnya punya waktu dipindahkan.
Dua kepala divisi saling melirik, karena dulu keputusan sudah jatuh sebelum orang kedua selesai bicara, dan biasanya jatuh dengan bentuk yang paling murah. Seseorang lega diam-diam dan tidak mengatakannya. Reza mengangguk dari pintu.
'Hampir manusia,' katanya lagi setelah rapat.
'Fokus.'
Minggu itu Reza sempat mengucapkannya tiga kali dalam tiga situasi berbeda: di lift setelah urusan vendor, di ruangan setelah Gilang membisukan Om yang sedang memancing perhatian di grup keluarga, dan di koridor setelah Gilang menolak tawaran seseorang untuk 'membantu' firma tempat istrinya bekerja. Jawabannya sama tiga kali.
'Amplop merah masih tidur,' kata Reza sekali, waktu mereka berdua saja. Itu satu-satunya cara ia menanyakannya.
'Masih.'
'Bagus. Saya tidak nanya lagi tahun ini.'
Di firma, pada minggu yang sama, Kinara mengembalikan draf Fitri dengan tujuh catatan dan satu pujian yang tidak dibesar-besarkan. Ia menahan diri untuk tidak memperbaiki sendiri kalimat yang salah, karena junior yang selalu diperbaiki tidak pernah tumbuh. 'Kalimat ini terlalu panjang, dan yang panjang biasanya menyembunyikan sesuatu yang belum Anda putuskan,' katanya menunjuk satu paragraf. 'Putuskan dulu, baru tulis. Sisanya sudah benar.'
Fitri mengangguk dan mengambil kembali draf itu tanpa terlihat patah. Kinara mengingat dirinya sendiri sepuluh tahun lalu, ketika koreksi datang berupa coretan tanpa penjelasan, dan memutuskan untuk tidak mengulang cara itu.
Dua dunia berjalan di dua tempat, dan keduanya memakai rem yang bentuknya mirip.
Sebulan kemudian pola itu tidak berubah, yang justru membuat Gilang gelisah sesaat — sesuatu yang berjalan lancar terasa seperti sesuatu yang sedang menunggu pecah. Ia menyampaikannya sekali, singkat.
'Saya tidak percaya hal yang mulus.'
'Bagus,' kata Kinara. 'Jangan percaya. Terus periksa. Itu juga rem.'
Di rapat berikutnya seorang komisaris memuji perubahan sikapnya di depan orang banyak. Gilang memotongnya dengan sopan dan mengembalikan pembicaraan ke angka kuartal. Reza tersenyum tipis di sudut ruangan.
'Menolak pujian juga rem,' kata Kinara malam itu, setelah mendengar ceritanya. 'Kalau Bapak mulai suka disebut orang baik, saya yang khawatir.'
'Fokus,' kata Gilang.
'Fokus,' ulangnya, dan mereka makan mi lagi, karena tidak ada yang berminat memasak, dan karena itu sudah menjadi bentuk paling jujur dari malam biasa di rumah itu.