Gilang pergi ke makam ayahnya pada Sabtu pagi, sendirian, dan menyiapkannya seperti orang menyiapkan urusan yang tidak ingin diperbesar.
Bunganya dibeli di pinggir jalan dari perempuan yang menjual di bawah payung, bukan dipesan dari florist yang mengirim tagihan ke kantor. Tidak ada mobil pengiring. Tidak ada foto. Reza tahu jadwalnya karena Reza harus tahu jadwal, dan Reza tidak menyebutkannya kepada siapa pun, termasuk kepada dirinya sendiri di catatan harian.
Sebelum berangkat, Gilang menawarkan sesuatu dengan hati-hati: Kinara boleh ikut dan menunggu di mobil, diparkir jauh, tidak perlu turun.
Kinara menggeleng.
'Batu itu milik Bapak dan ayah Bapak,' katanya. 'Saya tidak punya urusan di sana. Dan saya tidak mau berdiri di dekatnya supaya ada yang bisa bilang saya sudah memaafkan keluarga ini secara resmi.' Ia mengangkat cangkirnya. 'Saya kerja hari ini. Ada berkas yang harus selesai Senin.'
'Hafal,' kata Gilang.
'Hafal. Saya bukan piala.'
Perempuan penjual bunga itu bertanya untuk siapa, seperti yang selalu ditanyakan penjual bunga. Gilang menjawab untuk ayahnya, dan perempuan itu menambahkan dua tangkai tanpa menambah harga, lalu berkata semoga tenang di sana. Gilang mengucapkan terima kasih dan tidak memberikan uang lebih, karena memberi lebih hari itu akan terasa seperti membayar sesuatu.
Makamnya tenang pukul delapan pagi. Rumput baru dipangkas, dan ada genangan air setinggi satu inci di sudut nisan dari hujan semalam. Gilang meletakkan bunga di batu, lalu berdiri, lalu jongkok, karena berdiri terasa seperti berpidato.
Dua puluh tahun lalu ia pernah berdiri di tempat yang hampir sama, umur belasan, dengan dada penuh sesuatu yang waktu itu ia sebut keadilan. Di situ ia bersumpah akan membuat orang-orang yang menghancurkan ayahnya membayar, sampai ke anak-anaknya kalau perlu. Sumpah itu yang bertahun-tahun kemudian mengantarkan seorang perempuan yang tidak tahu apa-apa ke dalam rumah ini, ke dalam dua pintu yang dikunci, ke dalam ruang sidang.
Yang ia ucapkan pendek, dan ia mengucapkannya nyaris tanpa suara.
Bahwa ia masih hidup. Bahwa ia tidak menjadi lebih busuk, meski sempat hampir. Bahwa ia salah sasaran selama bertahun-tahun, dan salah itu tidak akan diulang. Bahwa dendam tidak lagi memerintah rumahnya. Bahwa maaf yang terlambat tetap terlambat, dan ia tidak berpura-pura tepat waktu. Bahwa ia tidak akan mencuci dosa siapa pun dengan tubuh orang lain.
Dan yang terakhir, yang paling perlu diucapkan di tempat itu justru karena orang di bawah batu tidak bisa mendengarnya:
'Kinara tidak berdosa. Tidak pernah.'
Tidak ada jawaban. Tidak pernah ada. Air seinci itu memantulkan langit yang datar.
Ia berdiri, membersihkan lututnya, dan pulang.
Di perjalanan pulang Ibu menelepon. Suaranya serak, dan ia bertanya apakah Gilang sudah ke sana pagi ini, karena ia sendiri berencana pergi siang nanti bersama sopir.
'Sudah, Bu.'
'Kenapa tidak bareng?'
'Ibu ke sana untuk suami Ibu. Saya ke sana untuk ayah saya. Sama batunya, beda urusannya.' Ia berhenti di lampu merah. 'Dan Ibu tidak perlu mengajak Kinara. Sekarang, atau nanti.'
Ada jeda panjang di seberang. Lalu Ibu berkata baiklah, dengan nada yang tidak setuju tetapi tidak lagi mendebat, yang belakangan ini sudah menjadi bentuk terbaik dari hubungan mereka.
Di rumah, sepatunya dibersihkan di belakang, di dekat keran taman. Bunga sisa tidak dibawa masuk — tidak ada vas yang perlu diisi untuk membuktikan apa pun. Ia mandi, berganti pakaian, lalu duduk di meja dengan laporan yang memang harus selesai akhir pekan.
Sore itu Om mengunggah sesuatu di grup keluarga: kalimat panjang tentang mengingat orang tua, tentang keluarga yang harus kembali utuh, dengan foto lama yang di dalamnya ada wajah Gilang kecil. Gilang membacanya sampai habis, lalu membisukannya, seperti bulan-bulan sebelumnya.
Malam, Kinara bertanya dari dapur, sambil menyendok mi ke dua mangkuk.
'Selesai?'
'Selesai.'
'Tidak jadi piala?'
'Tidak,' kata Gilang. 'Tidak ada florist besar, tidak ada foto, tidak ada slide perusahaan tentang mengenang pendiri. Batu itu urusan pribadi. Rem masih. Saya pilih hari ini. Fokus.'
Kinara menaruh mangkuk di depannya dan duduk di seberang.
'Bagus,' katanya. 'Karena begini: makam itu bukan tempat saya tunduk. Duka Ibu saya hormati — sungguh — tapi saya menghormatinya dengan tidak ikut jadi penonton di situ. Dua hal yang berbeda.'
'Berbeda,' Gilang setuju.
'Dan kalau Bapak perlu ke sana lagi, pergi saja. Tidak usah minta izin, tidak usah dilaporkan seperti rapat.'
'Tidak mingguan,' kata Gilang. 'Kalau perlu saja.'
'Ibu telepon tadi,' kata Gilang. 'Dia mau mengajak kau ke sana suatu hari.'
Kinara meletakkan sendoknya.
'Sudah saya tolak,' lanjut Gilang. 'Sebelum sampai ke kau.'
'Terima kasih.' Ia mengambil sendoknya lagi. 'Tapi lain kali biarkan sampai ke saya dulu. Saya bisa menolak sendiri, dan lebih baik dia dengar penolakannya dari saya. Kalau Bapak yang selalu memagari, saya jadi barang yang dipagari.'
Gilang berpikir sebentar. 'Betul. Lain kali diteruskan.'
Mereka makan. Hujan turun lagi menjelang pukul sembilan, tipis, jenis hujan yang tidak membuat siapa pun berlari. Di kepala Gilang, sumpah lama yang dulu ia ucapkan di depan batu yang sama — sumpah yang salah sasaran, yang menghabiskan bertahun-tahun dan hampir menghabiskan seorang perempuan yang tidak bersalah — tetap tercabut, dan ia memeriksanya sekali lagi malam itu, seperti orang memeriksa kunci pintu meski tahu sudah dikunci.
Masih tercabut.
'Hidup,' katanya pelan, entah kepada siapa.
Kinara mengangkat wajah dari mangkuknya. 'Apa?'
'Tidak apa-apa. Besok Senin ada rapat pukul sembilan.'
'Berkas saya juga harus selesai,' katanya, dan mereka membereskan meja bersama, dua orang di sebuah rumah yang akhirnya cuma rumah.