Ributnya klasik, dan justru karena klasik itulah rasanya melegakan sekaligus menjengkelkan.
Kinara sedang membaca ulang tiga ratus halaman lampiran di meja kerja rumah, dengan headphone terpasang dan pintu ruang kerja setengah terbuka karena pendingin ruangan sedang rewel. Ia butuh dua jam tenang. Ia sudah menulis dua jam tenang itu di kalender bersama mereka, lengkap dengan warna, tiga hari sebelumnya.
Pukul empat kurang, bel berbunyi. Lalu terdengar suara di ruang tamu: dua suara laki-laki, satu di antaranya Gilang, membicarakan pasokan dan harga pengiriman dengan volume orang yang merasa berada di rumahnya sendiri — yang memang benar, dan justru itu masalahnya.
Yang paling mengganggu bukan volumenya, melainkan isinya. Ia bisa mendengar potongan kalimat tentang ongkos angkut per rit, lalu tawa sopan, lalu kursi yang digeser. Otaknya mulai mengikuti percakapan itu tanpa diminta, dan begitu otak mengikuti, lampiran tiga ratus halaman itu tidak punya kesempatan.
Kinara menaikkan volume headphone. Tidak cukup. Ia membaca satu paragraf empat kali dan tetap tidak mengerti isinya. Ia menutup laptop dan menunggu, karena keluar saat ada tamu berarti membuat tamu itu jadi penonton.
Menjelang pulang, tamu itu sempat melirik pintu ruang kerja yang setengah terbuka dan bertanya apakah ada orang lain di rumah. Gilang menjawab ada, istrinya sedang bekerja, dan menurunkan suaranya untuk sepuluh menit terakhir — terlambat, tetapi setidaknya ia melakukannya.
Tamu pulang empat puluh menit kemudian. Kinara keluar begitu pintu depan tertutup.
'Jadwal,' katanya. Suaranya dingin dan rata. 'Nama tamunya, jamnya, kabarnya. Semua sudah ada tempatnya di kalender. Bapak lupa memperbarui. Itu salah.'
'Salah,' kata Gilang.
'Kenapa lupa?'
'Rapat pukul dua bergeser ke pukul tiga, dan orang ini minta ketemu setelahnya. Rumah lebih dekat dari kantor.' Ia menggeleng sebelum Kinara sempat menanggapi. 'Itu urutan kejadiannya, bukan alasannya. Alasan tetap tidak ada. Kalender bersama itu ada supaya urusan saya tidak menabrak urusan kau.'
'Saya marah. Dan saya mau marah tanpa ini dikaitkan ke Bara, ke proyek, ke apa pun yang besar. Ini soal tamu dan dua jam saya. Izinkan saya marah sebesar itu saja.'
'Diizinkan,' kata Gilang. 'Saya lupa. Bukan alasan. Saya minta maaf — maaf kecil, untuk salah kecil. Saya tidak akan memakai maaf ini untuk membayar yang besar, dan tidak akan memakai yang besar untuk mengecilkan yang ini.'
Kinara menyilangkan tangan. Ia masih ingin marah beberapa menit lagi, dan Gilang tampaknya paham bahwa berdiri diam adalah bagian dari pekerjaannya sore itu.
'Perbaikannya sekarang, bukan janji,' kata Gilang akhirnya. 'Kalender saya sinkron ke ponsel, dan saya pasang alarm H-1 untuk setiap tamu yang datang ke rumah. Kalau saya hampir lupa lagi, saya laporkan sebelum kejadian, bukan sesudah.'
'Laporkan sebelum,' ulang Kinara.
'Sebelum.'
Kinara menahan satu kalimat di ujung lidahnya. Kalimat itu tentang bertahun-tahun ketika rumah ini seluruhnya diatur oleh jadwal Gilang, dan ia tahu persis betapa tajamnya kalimat itu kalau dilempar sekarang. Ia memilih tidak melemparnya, bukan karena takut, tetapi karena kalimat itu tidak ada hubungannya dengan tamu pukul empat.
'Saya hampir bawa yang lama tadi,' katanya jujur. 'Saya tahan.'
'Terima kasih.'
'Bukan untuk Bapak. Untuk saya. Saya tidak mau tiap kesal kecil harus menyeret setahun ke belakang.'
Kesalnya bertahan sekitar sepuluh menit lagi. Ia menghabiskannya dengan mencuci gelas yang sebenarnya sudah bersih. Lalu, di tengah membilas, ia tertawa — pendek, pahit, geli pada dirinya sendiri.
'Setahun tiga bulan,' katanya. 'Dan kita masih ribut soal tamu.'
'Kedengarannya buruk?'
'Kedengarannya lucu.' Ia menaruh gelas di rak. 'Tapi jangan dijadikan altar. Jangan bilang ini bukti kita sembuh atau apalah. Ini cuma tamu dan kalender.'
'Cuma tamu dan kalender,' kata Gilang. 'Mi?'
'Mi.'
'Dan besok saya kirim ulang undangan kalender ke Bapak,' tambah Kinara. 'Kalau ada yang bentrok, saya mau tahu hari itu juga, bukan waktu belnya bunyi.'
'Hari itu juga.'
Mereka makan di meja dapur seperti biasa. Kinara menceritakan lampiran tiga ratus halaman itu dan mengapa satu tabel di dalamnya jelas disalin dari dokumen lain tanpa diperiksa. Gilang mendengarkan sampai selesai, dan tidak sekali pun menyebut nama tamunya tadi.
Keesokan paginya Reza melihat pengingat baru di sistem jadwal Gilang dan mengangkat alisnya sedikit.
'Lo diingatkan kalender sekarang,' katanya.
'Iya.'
'Bagus.' Reza mengetuk map di tangannya dua kali, tanda topik selesai. 'Fokus.'
Minggu itu Kinara menambahkan sesuatu yang lebih tegas: blok tetap di kalender bersama, dua jam, tiga hari dalam seminggu, diberi nama fokus rumah. Aturannya satu kalimat — tamu di rumah tidak dijadwalkan menabrak blok itu, dan kalau terpaksa, ditanya dulu.
Diuji seminggu. Jalan. Ada satu kali Gilang hampir menerima kunjungan mendadak, lalu ingat, lalu memindahkannya ke kantor. Ada satu kali lagi Kinara sendiri yang menggeser blok fokusnya karena ada tamu yang memang penting, dan ia menggesernya tanpa merasa kalah, karena yang menggeser dirinya sendiri.
'Hampir,' katanya malam itu, melaporkan sendiri.
'Tapi tidak,' kata Kinara.
'Tidak.'
Ia menganggukkan kepala, dan itu saja. Tidak ada pujian, tidak ada upacara kecil untuk merayakan sebuah kalender yang berfungsi.
Yang membuat Kinara diam-diam lega bukan kalendernya. Yang membuatnya lega adalah bentuk ributnya: marah, disampaikan, diakui, diperbaiki, selesai dalam satu sore. Tidak menumpuk. Tidak berubah jadi diam berminggu-minggu yang kemudian meledak jadi sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih mahal.
Dulu rumah ini punya dua pintu yang dikunci dan sebuah proyek di brankas. Sekarang ia punya perang di kalender bersama, tentang tamu yang datang jam empat.
'Perang kita turun kelas,' kata Kinara sebelum naik ke atas.
'Turun kelas,' Gilang setuju. 'Pertahankan.'
Ia mematikan lampu dapur, memeriksa pintu depan sekali, dan menyusul naik.