Usul itu datang dari dua arah dalam minggu yang sama, dan keduanya memakai kata 'sudah waktunya'.
Yang pertama dari seorang staf, di lorong kantor Gilang, dengan suara yang sengaja dipelankan seolah sedang membantu. Katanya, akan lebih baik untuk citra perusahaan kalau Bu Kinara mulai tampil sebagai pendamping — acara-acara resmi, foto keluarga, wajah yang menenangkan. Katanya, orang suka melihat rumah tangga yang utuh.
Gilang memotongnya di tengah kalimat.
'Istri saya punya pekerjaan,' katanya. 'Kalau kau punya usul soal citra, bawa soal produk. Jangan bawa soal dia.'
Yang kedua datang dari bibi, lewat telepon sore, dengan nada yang jauh lebih lembut dan karena itu jauh lebih licin. Sudah setahun lebih, katanya. Sudah cukup membuktikan. Sekarang saatnya Kinara di rumah saja, mengurus rumah tangga, jadi ibu rumah tangga yang elegan, tidak usah capek-capek lagi.
Kinara mendengarkan sampai selesai, karena ia dibesarkan untuk mendengarkan orang tua sampai selesai. Lalu ia menjawab satu kali, dengan datar.
'Saya tidak berhenti kerja atas perintah siapa pun, Bi. Termasuk perintah yang dibungkus doa.'
Ia menutup telepon dengan sopan, lalu membisukan percakapan keluarga itu.
Malamnya, di dapur, ia menaruh ponselnya menghadap ke bawah di meja.
'Ada dua usul minggu ini,' katanya. 'Isinya sama. Saya jadi ornamen. Ibu rumah tangga penuh, wajah acara, foto bagus.'
'Staf saya salah satunya,' kata Gilang. 'Sudah saya potong hari Selasa.'
'Bibi saya yang satunya. Sudah saya potong tadi sore.' Kinara menyandarkan pinggul ke meja. 'Saya perlu Bapak dengar ini sekali, biar tidak perlu diulang. Saya tolak jadi ibu rumah tangga penuh kalau itu perintah. Kalau suatu hari saya berhenti kerja, itu keputusan saya, diambil di meja ini, bukan hasil orang lain memutuskan untuk saya. Dan saya tolak jadi ornamen. Bapak hormat, atau kita kembali ke dua pintu.'
Gilang tidak menawar dan tidak lama berpikir.
'Hormat,' katanya. 'Saya tidak pernah minta kau berhenti, dan saya tidak akan. Memo penutupan proyek itu bukan cuma soal berhenti menyerang. Termasuk di dalamnya: kau tidak diubah jadi dekorasi tobat saya. Itu versi halus dari hukuman yang sama.'
Kinara diam sebentar, lalu mengangguk pelan. 'Dicatat.'
'Ada yang lain?'
'Ada. Saya naik sedikit di firma. Bukan lompatan. Satu junior sekarang di bawah saya, dan dua klien dipegang atas nama saya sendiri.' Ia menyebutkannya seperti menyebut hasil pemeriksaan rutin. 'Saya bukan piala setahun tiga bulan, Pak. Saya orang yang kerja.'
'Bagus,' kata Gilang. Lalu, setelah jeda, 'Selamat.'
Dua hari kemudian sebuah undangan masuk ke Reza: acara penghargaan industri, dengan satu baris kecil di lampiran yang menyebut kehadiran pasangan sebagai bagian dari sesi foto. Gilang menolak undangan itu tertulis, dan meminta alasannya dicatat: acara tidak mensyaratkan istri siapa pun sebagai perlengkapan panggung.
Reza mengarsipkannya tanpa komentar, yang bagi Reza sama dengan setuju. Sehari kemudian ia menyebutkannya sekali di lift, dengan cara yang paling Reza.
'Staf yang usul kemarin sudah tahu batasnya?'
'Sudah.'
'Bagus. Karena orang begitu biasanya bukan cuma punya satu usul.' Lalu, seperti biasa, ia berpindah topik ke jadwal. 'Fokus.'
Surat penolakan acara itu ditulis empat baris dan tidak menyebut alasan pribadi apa pun. Isinya: kehadiran pasangan tidak dapat dijadikan syarat, sesi foto keluarga tidak akan diikuti, dan bila kedua hal itu tidak bisa diubah, undangannya dikembalikan dengan hormat. Panitia membalas dua hari kemudian, mencabut syarat itu untuk semua peserta.
Bibi mengulang usulnya sekali lagi di chat keluarga, kali ini dengan menyertakan foto seseorang yang katanya bahagia setelah berhenti bekerja. Kinara tidak membalas. Gilang juga tidak. Percakapan itu tenggelam sendiri dalam tiga hari.
Di pernikahan sepupu, bulan berikutnya, seorang kerabat jauh mencoba sekali lagi di meja prasmanan. Katanya, perempuan yang sudah mapan suaminya tidak perlu lagi berpanas-panas di kantor.
'Saya suka pekerjaan saya,' kata Kinara, sambil mengambil kerupuk. 'Dan kalau suatu hari saya berhenti, orang pertama yang tahu bukan Tante.'
Kerabat itu tertawa canggung dan berpindah topik ke katering. Gilang, yang berdiri dua langkah di belakang dan mendengar seluruhnya, tidak menambahkan apa pun. Itu bagian dari kesepakatan yang tidak pernah diucapkan: kalau yang diserang Kinara, yang menjawab Kinara, kecuali ia meminta bantuan.
Kartu nama Kinara tetap di laci meja depan, di tempat yang sama sejak dulu. Tidak ada celemek yang dibeli untuk keperluan simbol. Tidak ada foto keluarga yang dipesan untuk keperluan citra.
Berbulan-bulan berikutnya usul itu semakin jarang, lalu berhenti sama sekali, bukan karena orang-orang berubah pikiran melainkan karena mereka bosan mendapat jawaban yang sama. Sekali waktu masih ada yang mencoba — seorang kenalan di resepsi, seorang kerabat jauh di pernikahan sepupu — dan jawabannya tidak pernah berubah, disampaikan tanpa suara tinggi.
Kenaikan kecil di firma itu berjalan seperti kenaikan kecil pada umumnya: satu surat internal, satu meja yang digeser dua meter, satu junior bernama Fitri yang sekarang mengirimkan draf kepadanya sebelum ke partner. Kinara mengoreksi draf pertama Fitri sampai halaman ketiga, lalu berhenti dan menyuruhnya membaca ulang sendiri sisanya.
'Kalau saya betulkan semuanya, Anda tidak belajar apa-apa,' katanya. 'Kembalikan besok pagi.'
'Ornamen itu proyek hukuman versi lembut,' kata Kinara suatu malam, sambil melipat cucian. 'Bedanya cuma tidak ada yang berteriak.'
'Mencakup itu,' kata Gilang dari meja makan, di depan laporan yang belum selesai. 'Memo itu mencakup itu.'
'Rem masih berlaku?'
'Masih.'
'Dan saya masih memilih,' katanya. 'Hari ini. Besok saya pilih lagi.'
Ia membawa cucian ke atas. Gilang mematikan lampu dapur, memeriksa pintu depan sekali seperti orang mengunci rumah, lalu menyusul naik. Di laci meja depan, kartu nama itu tetap di tempatnya, dan besok pagi pemiliknya akan berangkat memakainya.