Malam pertama pernikahan mereka tidak berakhir dengan cinta yang Kinara harapkan. Malam pertama pernikahan mereka berakhir dengan kebenaran yang kejam: bahwa Gilang menikahi Kinara untuk balas dendam pada ayahnya, bahwa Gilang tidak mencintai Kinara dengan sepenuh hati, bahwa Gilang datang untuk menghancurkan Kinara dari dalam.
Kinara tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan kebenaran itu. Kinara tidak tahu apa yang harus ia rasakan dengan kebenaran itu. Kinara hanya tahu bahwa ia sudah menikahi Gilang dengan kepercayaan yang tidak bisa disangkal, bahwa ia sudah menghabiskan hidupnya dengan pria yang tidak mencintainya dengan sepenuh hati.
Pagi setelah malam pertama itu, Kinara bangun dengan harapan bahwa malam sebelumnya hanyalah mimpi buruk, bahwa Gilang akan kembali menjadi pria yang lembut yang sudah ia kenal selama beberapa hari terakhir, bahwa Gilang akan kembali menjadi pria yang mencintainya dengan sepenuh hati.
Tapi Gilang tidak kembali menjadi pria yang lembut. Gilang tidak kembali menjadi pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Gilang tidak kembali menjadi pria yang baik yang sudah ia perankan selama beberapa hari terakhir.
Gilang sudah menjadi pria yang dingin, pria yang kejam, pria yang tidak mencintai Kinara dengan sepenuh hati.
'Aku tidak datang ke pernikahan ini untuk mencintaimu dengan sepenuh hati, Kinara,' kata Gilang dengan suara yang dingin ketika Kinara mencoba berbicara dengannya di meja makan pagi itu. 'Aku tidak datang ke pernikahan ini untuk menjadi suami yang baik untukmu. Aku datang ke pernikahan ini untuk menghancurkanmu dari dalam untuk balas dendam pada ayahku.'
Kinara menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan. 'Gilang, aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Aku tidak tahu apa-apa tentang ayahmu atau tentang kebangkrutan itu.'
'Aku tidak peduli apakah kau tahu apa-apa tentang itu atau tidak, Kinara. Aku tidak peduli apakah kau bersalah atau tidak. Aku hanya peduli dengan balas dendamku untuk ayahku. Aku hanya peduli dengan menghancurkanmu dari dalam untuk membuatmu menderita seperti ayahku menderita.' Gilang menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. 'Dan aku tidak akan berhenti sampai kau hancur seperti ayahku hancur.'
Kinara tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Gilang, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Gilang tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Gilang tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Gilang tidak seperti pria yang baik.
Gilang tidak seperti itu. Gilang tidak seperti itu sama sekali.
Hari-hari berikutnya, Gilang mulai menyiksa Kinara secara emosional dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Ia mengabaikan Kinara ketika Kinara berbicara dengannya. Ia berkata kasar pada Kinara ketika Kinara mencoba membantunya. Ia membuat Kinara merasa bersalah untuk sesuatu yang tidak pernah ia lakukan, merasa tidak berarti, merasa tidak dicintai dengan sepenuh hati.
Kinara tidak tahu mengapa Gilang berubah seperti itu. Kinara tidak tahu mengapa Gilang tidak lagi menjadi pria yang lembut yang sudah ia kenal selama beberapa hari terakhir. Kinara tidak tahu mengapa Gilang tidak lagi mencintainya dengan sepenuh hati.
Kinara hanya tahu bahwa ia sudah menikahi Gilang dengan kepercayaan yang tidak bisa disangkal, bahwa ia sudah menghabiskan hidupnya dengan pria yang tidak mencintainya dengan sepenuh hati.
Dan itu menghancurkan Kinara dari dalam dengan cara yang paling kejam.