Pernikahan Gilang Mahesa dan Kinara berlangsung dengan dingin di kantor catatan sipil, dengan hanya mereka berdua dan dua orang saksi yang disewa oleh Gilang. Tidak ada gereja besar, tidak ada tamu, tidak ada perayaan. Hanya ada Gilang dan Kinara, dengan janji pernikahan yang hampa, dengan cincin yang tidak berarti, dengan kebenaran yang kejam bahwa pernikahan ini bukan tentang cinta.
Pernikahan ini tentang balas dendam. Pernikahan ini tentang hukuman. Pernikahan ini tentang membuat Kinara menderita setiap hari untuk membayar kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Kinara mengenakan dress putih sederhana yang ia beli dengan uang terakhirnya, rambutnya diikat rapi, dan berdiri di depan petugas catatan sipil dengan tatapan yang kosong, dengan hati yang hancur. Gilang berdiri di sampingnya dengan jas hitam yang rapi, dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi.
Petugas catatan sipil berbicara tentang cinta, tentang komitmen, tentang janji untuk saling menjaga dalam suka dan duka. Tapi kata-kata itu terdengar hampa di telinga Kinara, karena ia tahu ini bukan pernikahan tentang cinta. Ini bukan pernikahan tentang komitmen. Ini bukan pernikahan tentang janji untuk saling menjaga dalam suka dan duka.
Pernikahan ini tentang balas dendam. Pernikahan ini tentang hukuman. Pernikahan ini tentang membuat Kinara menderita setiap hari untuk membayar kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
'Saya berjanji untuk mencintaimu, Kinara, dengan sepenuh hati, dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan,' kata Gilang ketika diminta mengucapkan janji, dengan suara yang dingin, dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi.
Tapi dalam hatinya, Gilang bersumpah bahwa ia tidak akan menepati janji itu. Ia tidak akan mencintai Kinara dengan sepenuh hati. Ia tidak akan melindungi Kinara, tidak akan menjaga Kinara, tidak akan tidak pernah meninggalkan Kinara. Ia akan menghancurkan Kinara dari dalam, dengan cara yang paling kejam, dengan cara yang paling menyakitkan, dengan cara yang paling tidak bisa Kinara bayangkan.
Kinara menatapnya dengan tatapan yang kosong, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Saya berjanji untuk mencintaimu, Gilang, dengan sepenuh hati, dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan, dengan cara yang menakutkan. Saya berjanji untuk melindungimu, untuk menjagamu, untuk tidak pernah meninggalkanmu.'
Gilang memasangkan cincin di jari manis Kinara, dan Kinara memasangkan cincin di jari Gilang. Mereka tidak lagi hanya dua orang asing yang berbagi kebenaran yang kejam. Mereka adalah suami istri yang sudah menikah dengan janji yang hampa, dengan cincin yang tidak berarti, dengan kebenaran yang kejam bahwa pernikahan ini bukan tentang cinta.
'Anda sekarang resmi menjadi suami istri,' kata petugas catatan sipil, tersenyum pada mereka berdua. 'Gilang, kau boleh mencium istrimu.'
Gilang tidak mencium Kinara. Ia tidak menyentuh Kinara. Ia hanya menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi.
'Aku tidak akan menciumu,' kata Gilang dengan suara yang dingin, dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi. 'Aku tidak akan menciumu karena aku tidak mencintaimu dengan sepenuh hati. Aku tidak akan menciumu karena aku datang untuk menghancurkanmu dari dalam untuk balas dendam pada ayahku.'
Kinara tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Gilang, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Gilang tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Gilang tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Gilang tidak seperti pria yang baik.
Gilang tidak seperti itu. Gilang tidak seperti itu sama sekali.
Mereka keluar dari kantor catatan sipil dengan keheningan yang tidak bisa dijelaskan, dengan kebenaran yang kejam bahwa pernikahan ini bukan tentang cinta, dengan kebenaran yang kejam bahwa pernikahan ini tentang balas dendam.
Gilang membawa Kinara ke mansion besar Mahesa Group di kawasan elite, dengan hanya mereka berdua dan keheningan yang tidak bisa dijelaskan. Kinara tidak tahu apa yang akan terjadi di mansion itu. Kinara tidak tahu apa yang Gilang rencanakan untuknya. Kinara hanya tahu bahwa ia sudah menikah dengan pria yang tidak mencintainya dengan sepenuh hati, bahwa ia sudah menikah dengan pria yang datang untuk menghancurkannya dari dalam, bahwa ia sudah menikah dengan pria yang tidak ingin membuatnya bahagia.
Malam itu, ketika mereka masuk ke kamar tidur besar di lantai dua mansion itu, Kinara menatap Gilang dengan tatapan yang kosong, dengan air mata yang mengalir di wajahnya, dengan kebenaran yang kejam bahwa pernikahan ini bukan tentang cinta.
'Gilang, aku tidak tahu apa yang kau rencanakan untukku,' kata Kinara dengan suara yang pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Aku tidak tahu apa yang kau inginkan dariku. Aku tidak tahu apa yang kau harapkan dariku.'
Gilang menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. Ia tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Kinara dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi.
'Aku tidak ingin apa-apa darimu, Kinara. Aku tidak mengharapkan apa-apa darimu. Aku hanya ingin kau menderita setiap hari untuk membayar kesalahanmu, untuk membayar untuk apa yang sudah kau lakukan pada ayahku, untuk menebus kebangkrutan yang membunuh ayahku.' Gilang menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. 'Dan aku tidak akan berhenti sampai kau hancur seperti ayahku hancur.'
Kinara tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Gilang, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Gilang tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Gilang tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Gilang tidak seperti pria yang baik.
Gilang tidak seperti itu. Gilang tidak seperti itu sama sekali.
Kinara tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kinara tidak tahu apa yang harus ia katakan. Kinara tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Kinara hanya tahu bahwa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas, bahwa ia sudah menikah dengan pria yang tidak mencintainya dengan sepenuh hati, bahwa ia sudah menikah dengan pria yang datang untuk menghancurkannya dari dalam.
Dan untuk pertama kalinya, Kinara merasa bahwa ia tidak sendirian lagi dengan cara yang paling kejam.
Dan untuk pertama kalinya, Gilang merasa bahwa balas dendamnya tidak akan semudah yang ia kira.